Hari ini, Raga benar benar menepati janjinya pada Jiwa. Laki laki yang biasanya terlihat sangat berwibawa di kantor, saat ini sedang kebingungan menuruti kemauan sang istri. Sudah hampir, tiga jam mereka memilih berbagai macam ponsel. Namun, tidak ada yang sesuai dengan keinginan Jiwa. Jika tidak cinta, sudah pasti Raga akan meninggalkannya sendirian disini.
"Jadi mau beli yang mana pak?"
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Raga terlebih dahulu melihat sang istri. Sepertinya Jiwa sudah sangat pasrah. Raga mengeluarkan ponsel miliknya, lalu memperlihatkan pada pegawai tersebut.
"Ini pak." Raga mengangguk, dan segera membayar ponsel tersebut.
Setelah selesai membayar, Raga menggandeng tangan mungil istrinya. Jiwa juga tidak menolak, gadis itu malah terlihat nyaman.
"Mau makan dulu, apa langsung pulang?" tanya Raga, pasalnya mereka belum sarapan sejak pagi.
Jiwa menoleh, memperhatikan wajah tampan suaminya.
"Makan, aku laper tau enggak. Om sih, enggak kira kira kalau mau ngajak kemana mana itu dibiasain sarapan dulu!"
"Saya enggak tega liat kamu nangis terus, mana sempet sarapan dulu." Ucap Raga, dalam keadaan seperti ini kenapa Raga masih terus menyalahkannya.
Kenapa Raga tidak mau mengalah, sudah jelas laki laki selalu salah dan perempuan selalu benar. Seharusnya Raga cukup meminta maaf dan mereka tidak perlu berdebat seperti ini. Jiwa menyentak tangan Raga, gadis itu berjalan lebih dulu ke parkiran. Padahal, Raga ingin mengajak istrinya makan siang. Tidak mau ambil pusing, laki laki itu mengikuti langkah Jiwa.
Saat mereka sudah sampai di parkiran, Jiwa hanya diam. Raga dengan sabar menunggu istri kecilnya itu untuk masuk ke dalam mobil, hampir 5 menit akhirnya Jiwa masuk dengan wajah cemberut. Percuma punya suami kaya, jika dirinya tetap kelaparan.
"Mau makan di mana?" tanya Raga sambil menjalankan mobilnya.
"Pulang!" Ketus Jiwa, bahkan gadis itu tidak peduli dengan ponselnya yang baru.
"Jangan buat saya emosi Wa, tadi kamu belum makan. Kita cari makan dulu, saya enggak mau kamu sakit." Ucap Raga tulus, semenjak resmi menikah dan menjadi suami. Raga sangat mengutamakan kesehatan istrinya, walaupun Jiwa bersikap bodo amat dengannya.
Jika sudah punya keinginan, Raga tidak akan bisa di bantah. Jiwa sudah berusaha keras untuk menolak ajakannya untuk makan siang, tapi suami tuanya itu terus memaksa. Di depan Jiwa, Raga terlihat begitu sabar. Jangan salahkan Jiwa, kalau hari ini kesabarannya akan di uji habis habisan.
"Om, ini kurang banyak makanannya."
Bukannya marah karena Jiwa terus menambah pesanan makanannya, Raga malah tersenyum. Laki laki itu merasa senang karena sang istri sudah tidak marah padanya, Jiwa tersenyum licik memang siapa yang akan menghabiskan semua makanan itu kalau bukan Raga.
"Kamu pesan aja apa yang kamu mau, nanti saya yang bayar." Ujar Raga.
"Hm."
Mereka sedang berada di ruang VIP, tentu saja ini permintaan Jiwa. Hari ini, gadis itu akan menguji kesabaran suaminya. Jika di tanya, kenapa Jiwa tidak menguji cinta Raga? Karena gadis itu tidak percaya kalau Raga mencintainya.
Semua makanan sudah siap, jiwa memilih makanan mana yang porsinya paling sedikit. Matanya berbinar, saat melihat nasi goreng kesukaannya. Namun, Raga terlebih dahulu mengambil nasi goreng tersebut membuat Jiwa mendengus kesal.
"Om, itu nasi goreng aku. Kok malah di makan sih!" Protes Jiwa.
Raga mengangguk, lalu memberikannya pada Jiwa. Mereka baru menikah beberapa hari yang lalu, tentu saja Raga tidak tahu jika istrinya menyukai nasi goreng.
"Maaf saya enggak tahu, kalau gitu saya makan yang lain aja."
Jiwa tersenyum senang, ini hanya hal sederhana tentu saja Raga tidak akan marah padanya. Sebentar lagi, Jiwa akan kembali mengerjai laki laki tua itu.
Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng, Jiwa melihat Raga yang masih sibuk makan.
"Om, aku udah kenyang." Ucap Jiwa, bukan karena sedang diet. Tapi Jiwa memang terbiasa makan sedikit, biarkan saja Raga menghabiskan semua makanan itu sendiri.
"Terus, siapa yang mau makan ini semuanya? Saya?" tanya Raga.
Jiwa hanya mengangguk, lalu teringat ponsel barunya. Ternyata suami tuanya itu tidak main main membelikannya ponsel, lalu bagaimana caranya Jiwa membayar hutangnya?
"Wa, kamu becanda kan? Ini masih banyak banget, saya enggak sanggup makan segini banyaknya." Pria itu mengeluh, masih ada 12 piring dengan menu yang berbeda. Tentu saja Raga, tidak sanggup.
"Aku enggak becanda om, aku udah kenyang. Om aja yang makan, sayang banget kalau enggak di makan om. Cari duit susah,"
Raga menggeleng tidak mengerti, seharusnya Raga yang mengatakan itu pada Jiwa karena semua makanan itu sesuai pesanan istrinya. Untung sayang, batin Raga.
Niatnya ingin marah, Raga urungkan karena melihat Jiwa yang terlihat bahagia saat bermain ponsel. Akhirnya, senyuman itu kembali meksipun bukan Raga yang menjadi alasannya tersenyum, tapi itu lebih baik.
Tidak mau memperpanjang masalah, Raga memanggil pegawai restoran. Daripada makanan itu mubazir, lebih baik raga memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan.
"Mbak, ini di bungkus semuanya."
Jiwa terdiam, kenapa Raga malah terlihat santai? Apa hal seperti ini sudah biasa laki laki itu alami saat berkencan dengan wanita di masa lalunya?
"Mau ikut saya sebentar?" tanya Raga, sebenarnya itu bukan sepenuhnya pertanyaan. Walaupun Jiwa menolak ikut, Raga akan dengan senang hati memaksa istri kecilnya.
"Aku capek, mau pulang aja. Om, enggak usah repot-repot anterin aku pulang. Aku naik taksi," ujar Jiwa, gadis itu yakin Raga akan memaksanya ikut.
"Kamu tau, itu bukan pertanyaan. Tapi sebuah keharusan, mulai sekarang, di mana ada saya harus ada kamu. Ayo turuti keinginan saya, jadilah istri yang baik." Setelah membayar semua makanannya, Raga menggandeng tangan Jiwa. Bukan Jiwa namanya jika tidak memberontak, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan genggaman laki laki tua itu.
Selama di perjalanan, tidak ada obrolan di antara mereka. Raga sibuk menghubungi sekertarisnya, sementara Jiwa pura pura tertidur padahal hanya ingin mendengarkan percakapan keduanya. Merasa tidak ada yang perlu di curigai, Jiwa malah merasa kesal. Kenapa mereka hanya membicarakan pekerjaan, kenapa sekertaris itu tidak menggoda suaminya? Jika saja Raga tergoda dengan perempuan lain, akan mempermudah rencana Jiwa mengurus surat cerai.
Hampir 20 menit, Raga menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dengan sabar, Raga membangunkan istrinya yang pura pura tidur.
"Wa bangun, saya butuh bantuan kamu." Ucap Raga pelan, sambil mengusap wajah istrinya dengan lembut.
Merasa risih dengan tangan Raga, akhirnya Jiwa membuka matanya. Mereka berada di pinggir jalan, bantuan apa yang Raga butuhkan? Apa pria tua itu akan menyuruhnya mendorong mobil?
"Ayo turun, tolong bantu saya membagikan makanan itu untuk anak anak yang ada disana."
Jiwa mengikuti arah pandang Raga, di seberang jalan ada 3 anak kecil yang sedang menghitung uang hasil mencari kardus bekas. Apa mereka tidak sekolah? Banyak pertanyaan yang membuatnya penasaran. Dengan cepat, Jiwa turun dari mobil mengikuti Raga yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Assalamualaikum."
Mendengar suara Raga, ketiga anak itu menoleh. Mereka tentu saja mengenal Raga, laki laki baik yang selalu membantu mereka dengan ikhlas. Bagi mereka, Raga adalah seorang pahlawan. Raga adalah panutannya.
"Waalaikumsalam, om Raga." Ketiga anak itu, kompak menjawab salam dari Raga.
Melihat mereka sudah akrab dengan Raga, membuat Jiwa merasa heran.
"Kok cuma bertiga, biasanya selalu berlima?" Setiap bulan, Raga selalu menyempatkan waktu untuk bertemu anak anak jalanan. Raga sudah memberikan mereka jadwal untuk bertemu, biasanya mereka selalu lengkap. Anak 5 anak, tapi hari ini hanya ada 3 orang anak. Hal itu membuat Raga khawatir.
"Fadil baru sembuh om, kami enggak tega kalau ajak dia keluar. Jadi kita cuma bertiga, Fahmi jagain Fadil di rumah."
"Emangnya Fadil sakit apa?" tanya Raga khawatir, seharusnya mereka tidak hidup sendirian. Namun, mereka harus merasakan kerasnya kehidupan di usianya yang terlalu muda.
"Demam om, tapi udah berobat kok. Uang dari om kita pakai untuk biaya berobat Fadil om, seperti yang om pernah bilang. Kesehatan lebih penting daripada uang, percuma kita punya banyak uang kalau kita enggak sehat." Jawab Farhan, anak itu masih mengingat dengan jelas semua nasihat Raga.
Jiwa yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, sempat tertegun karena ucapan Farhan. Di mata mereka, Raga begitu baik. Tapi kenapa saat bersama Jiwa, Raga menjadi lelaki pemaksa?
"Om, ini makanannya gimana?" Ucapan Jiwa berhasil menyadarkan Raga, laki laki itu lupa jika mengajak istrinya untuk bertemu anak anak itu.
"Om, dia siapa? Cantik banget. Adik om ya?" tanya Farhan, diantara ketiga anak itu itu Farhan memang yang paling akrab dengan Raga. Meskipun begitu, Raga tidak pernah membeda-bedakan mereka.
Raga berdehem pelan, apa dirinya terlalu tua sampai anak anak itu mengira bahwa Jiwa adalah adiknya?
"Dia Tante Jiwa, istri Om."