Terpaksa Menurut

1513 Kata
Sudah lebih dari satu jam, Jiwa tidak berhenti menangis. Sifat cerobohnya, memang sulit di hilangkan. Ponsel kesayangannya, yang baru saja di beli satu bulan yang lalu tidak sengaja masuk kedalam mesin cuci. Jiwa hampir frustasi, gadis itu memang masih punya sedikit tabungan tapi tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhannya jika harus membeli ponsel baru. "Maaf ya non, saya beneran enggak tahu kalau di baju non ada ponselnya." Ucap bi Minah, perempuan paruh baya yang sudah lama bekerja di rumah Raga. Jiwa menggeleng, ini adalah salahnya jika tadi pagi Jiwa tidak durhaka pada suami tuanya mungkin ini semua tidak akan terjadi. "Bukan salah bibi, tapi salah aku. Aku yang selalu ceroboh," lirih Jiwa, sambil mengusap air matanya sendiri. "Kalau gitu, aku mau ke kamar ya bi." Jiwa sudah lelah menangis, tangan kanannya masih setia menggenggam ponsel kesayangannya yang sudah mati. Tanpa perlu mandi, Jiwa memilih tidur dengan harapan ini semua hanya mimpi buruk. "Please, gue harap ini semua cuma mimpi." Gumam jiwa, perlahan mulai memejamkan matanya. Raga baru saja sampai di rumah, tapi lampu dirumahnya sudah padam. Padahal, ini masih jam 7 malam. Tidak mungkin, jika istri kecilnya sudah tidur. Dengan langkah tegap, Raga masuk kedalam rumah dan menghidupkan lampu. Sepi, seperti tidak ada kehidupan di rumah ini. Dengan cemas, Raga berjalan menuju kamar tujuannya hanya satu memastikan sang istri baik baik saja. Sore tadi, Raga sempat menghubungi Jiwa tapi ponselnya tidak aktif. Raga menghembuskan nafas lega, istri kecilnya ternyata sudah terlelap. Tidak ingin, mengusik ketenangan Jiwa. Laki laki itu, memilih membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringat sejak tadi. Setelah selesai mandi, Raga juga belum berniat membangunkan Jiwa laki laki itu memilih untuk mengisi perutnya yang sudah sangat lapar. Tadi sore, semua pekerjaannya sudah selesai Raga memilih pulang dan ingin makan malam bersama istrinya tapi Jiwa sudah lebih dulu terlelap. Tidak masalah bagi Raga, inilah resiko saat memaksa seseorang yang tidak mencintai kita untuk menikah. Raga menatap meja makannya heran, makanan kesukaan Jiwa masih utuh. Apa gadis itu belum makan malam? "Kalau kamu, belum makan. Kita, makan sepiring berdua." Ucap Raga, lalu mengambil Piring dan mengisi penuh nasi dan lauk pauknya. Setelah di rasa lengkap, Raga kembali ke kamar. Dengan tangan yang penuh dengan makanan, meskipun tahu Jiwa akan menolak Raga tidak akan menyerah dengan cepat. Raga meletakkan nampan yang berisi makanan di atas meja dengan hati hati. Pandangannya tidak terlepas dari ponsel Jiwa yang mati, apa istri kecilnya sengaja tidak mengaktifkan ponselnya agar Raga kesal dan marah? "Wa, bangun. Makan dulu, saya tahu kamu belum makan." Perlahan Jiwa membuka matanya, kedua mata gadis itu terlihat seperti habis menangis. Rasanya, Raga sangat ingin menarik Jiwa kedalam pelukannya. "Kamu nangis?" tanya Raga. Jiwa hanya mengangguk, lalu teringat nasib ponsel kesayangannya yang mati karena kecerobohannya. "Om, kapan pulang?" "Belum lama, tadi saya mau makan. Tapi, kenapa semua makanannya masih utuh? Kamu, enggak suka makanannya?" "Aku, enggak laper." Raga menghela nafas panjang, apa memiliki istri harus serumit ini. Sejak dulu, Raga tidak terlalu mengerti perasaan perempuan. Justru, banyak perempuan yang berusaha mengerti perasaan Raga. Tapi hal itu malah membuat Raga risih, laki laki itu tidak nyaman saat di perhatikan perempuan selain ibunya. "Makan, nanti kamu sakit enggak ada yang marah marah sama saya setiap pagi." "Nggak lucu!" "Loh, kan emang saya enggak ngelawak. Saya bukan komedian, jadi wajar kalau saya enggak lucu. Ayo, buka mulut kamu dan makan sekarang." Perintah Raga, pada Jiwa. Jiwa menggeleng, tangannya meraih ponselnya yang sudah mati. "Om, Aku mau pinjam uang dong." Ucap Jiwa tiba tiba, membuat Raga mendadak terdiam. Apa Jiwa, mengatakan itu dalam keadaan sadar. Biasanya, saat seseorang baru bangun tidur nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Baru tadi pagi kamu sombong masih punya uang, terus kenapa sekarang mau pinjam uang?" Sebenarnya, jika Jiwa meminta uang pada Raga dengan senang hati sang suami akan memberikannya. Tapi lihatlah, Jiwa bahkan tidak tertarik dengan harta Raga sedikitpun. "Udah deh om, boleh enggak nih aku pinjam uang kalau enggak yaudah aku minjam Raka aja!" "Siapa Raka?" "Temen aku, dia pernah bilang suka ke aku tapi karena aku enggak mau pacaran jadi aku nolak dia. Karena, sekarang aku butuh uang jadi aku mau nerima Raka aja. Dulu dia bilang, dia bakalan selalu ada buat aku walaupun hanya sebatas teman." Raga tidak terima saat Jiwa menyebutkan nama laki laki lain di hadapannya, apa Raga terlalu jelek sampai Jiwa membicarakan laki laki lain? "Butuh berapa?" "Enggak tahu," Raga menggeleng, bagaimana bisa Jiwa ingin meminjam uang tapi tidak tahu berapa banyak uang yang akan di pinjam. "Memang, uangnya buat apa?" tanya Raga penasaran. Bukannya menjawab, Jiwa malah menyerahkan ponselnya pada Raga. "Kamu mau ponsel ini jadi jaminan, kenapa enggak di jual aja kalau emang butuh uang?" "Emang siapa, yang mau beli ponsel mati?" Akhirnya Raga mengerti, kenapa sejak sore ponsel Jiwa tidak aktif. Dan kenapa, Jiwa berniat ingin meminjam uang padanya. "Kenapa bisa mati?" Jiwa menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menceritakan bagaimana bisa ponselnya masuk kedalam mesin cuci dan akhirnya mati. Sebagai pendengar dan suami yang baik, Raga begitu menghargai Jiwa yang sedang bercerita. Andai saja Jiwa tahu, Raga lebih suka jika sang istri bermanja padanya hanya untuk meminta ponsel baru. Daripada, harus meminjam uang seperti yang Jiwa katakan tadi. "Jadi, gitu om ceritanya. Aku, emang ceroboh banget dari dulu. Tapi ini yang paling parah sih, kalau ayah tahu uang jajan aku bisa di potong." Keluh Jiwa. Raga kembali mengambil nampan yang tadi di bawa ke kamar. "Makan dulu, nanti saya belikan yang baru." "Om, serius?" "Ya, tapi kamu makan dulu. Biasanya, habis nangis laper kan?" Jiwa akhirnya menurut, tidak apa kali ini menurut pada suami tuanya hanya demi ponsel baru. Ya, demi ponsel baru jika tidak mana mungkin di gadis galak ini mau bersikap manis pada suaminya. "Om, enggak makan?" tanya Jiwa saat piringnya sudah kosong. "Kamu makan dulu, baru saya akan makan. Kamu pikir, saya suami yang jahat sampai tega membiarkan istrinya kelaparan karena ponselnya rusak?" "Terserah deh, yang penting besok aku pinjam uang. Tapi jangan di tagih, kan aku masih jadi pengangguran." Rasanya Raga ingin tertawa, hartanya tidak akan habis hanya untuk membelikan ponsel baru untuk sang istri. Tapi jika Jiwa masih kekeh ingin berhutang padanya, akan Raga turuti. Raga hanya tidak ingin, Jiwa meminjam uang pada orang lain. Apalagi, orang itu pernah menyatakan perasaannya pada Jiwa. "Cuci muka terus tidur, besok kita beli ponsel yang kamu mau. Jangan nangis lagi," ujar Raga. "Kenapa?" Jiwa tidak mengerti, apa yang di maksud Raga. "Setiap liat kamu nangis, saya selalu merasa bersalah. Ya, walaupun kali ini bukan kesalahan saya tapi rasanya sangat menyakitkan saat tahu kamu terbangun dengan keadaan mata yang begitu sembab. Saya benar benar, seperti laki laki yang tidak bisa membahagiakan Istrinya." "Emang, aku sebenarnya masih benci sama om. Tapi ya, karena aku butuh duit makanya aku nurut." Raga mencubit pipi Jiwa gemas, terkadang istrinya sangat galak tapi hari ini Jiwa terlihat menggemaskan. Gadis itu, mengakui jika masih membenci dirinya tapi harus bersikap baik karena sedang membutuhkan uang. Mungkin, jika wanita lain yang mengatakan itu Raga akan menganggapnya sebagai wanita gila uang. Tapi itu, tidak berlaku untuk Jiwa apapun yang dilakukan Jiwa tidak pernah berlebihan di mata Raga. "Kamu enggak malu?" "Kenapa harus malu, aku pakai baju kok." "Maksudnya, kamu enggak malu kalau baik sama saya hanya karena uang?" Jiwa menggeleng, memang kenyataannya seperti itu. Rasa bencinya, tidak akan berubah. "Kayaknya, om malu ya punya istri enggak tahu diri kayak aku. Salah sendiri, udah tahu aku enggak cinta malah di paksa nikah. Asal om tahu ya, aku enggak mudah suka sama orang kalau bukan aku yang suka duluan. Jadi, buang jauh-jauh pikiran om kalau aku bakalan jadi istri yang cinta mati sama om. Enggak, akan pernah terjadi!" Sakit. Itulah yang Raga rasakan, terlebih yang mengatakan itu adalah Jiwa perempuan yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya. Raga tidak marah, hanya saja setiap hari Jiwa selalu menyakiti dirinya dengan perkataan pedasnya. "Saya, sayang sama kamu. Masalah kamu benci sama saya, itu urusan kamu bukan urusan saya. Tidur udah malam, besok saya ambil cuti kita pergi jalan-jalan sekalian beli ponsel buat kamu." "Om." Panggil Jiwa. "Hm." Ada rasa sedikit menyesal dalam hati Jiwa, ia pikir suami tuanya itu akan marah. Ternyata tidak, yang jiwa lihat Raga tetap bersikap tenang. "Om, enggak marah?" Raga tersenyum, untuk apa marah. Sedangkan Raga tahu, dirinya sendiri yang menyebabkan Jiwa membencinya. "Saya sadar, kalau saya sudah egois. Saya memaksa kamu untuk menikah, dan lebih parahnya lagi kamu mau menerima lamaran saya karena ancaman saya waktu itu. Saya, memang pantas mendapatkan semua itu. Ada satu hal, yang mungkin bisa membuat saya marah. Apa kamu mau tahu?" Jiwa mengangguk, mungkin akan ada kesempatan untuk bercerai dari Raga saat mengetahui alasan apa yang bisa membuat Raga marah padanya. "Saya marah, saat kamu menyebutkan nama laki laki lain di hadapan saya." Raga tersenyum tipis. "Berarti, tadi om marah pas aku bilang mau minjam uang ke Raka?" tanya Jiwa, penasaran "Jangan di ulang Wa, saya bukan cuma marah tapi saya juga cemburu." Ada rasa senang, saat Raga mengatakan jika laki laki itu cemburu pada Raka. Selain sang ayah, Raga adalah laki laki pertama yang begitu dekat dengannya. Namun, dengan cepat Jiwa kembali sadar karena Raga dirinya harus kehilangan cita citanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN