Tidak ada yang lebih menyenangkan, selain pagi ini. Gadis yang, semalam menolak satu kasur dengannya kini begitu terlelap dalam pelukannya. Padahal, sekarang sudah jam sepuluh. Tapi sang istri, belum ada tanda tanda akan terbangun. Raga terus, memandang wajah cantik istrinya. Ingatannya kembali, saat pertama kali dirinya bertemu Jiwa di sebuah club. Jiwa yang nampak, begitu polos entah bagaimana bisa ada di club saat itu. Raga yang dari awal, melihat Jiwa masuk Raga langsung tertarik karena kepolosan gadis itu. Siapa yang menyangka, jika gadis yang di kira polos itu ternyata sangat galak.
Satu hal, yang saat itu Raga pikirkan hanya melindungi Jiwa dari laki laki yang ada di Club. Meskipun, mereka belum saling mengenal saat itu juga Raga sudah berniat untuk menikah dengan Jiwa. Apalagi, Raga seorang laki laki yang tidak terbiasa menerima penolakan.
"Kemarin kamu cantik, tapi hari ini kamu lebih cantik karena sudah menjadi istri saya."
Raga turun dari ranjang dengan hati hati, takut jika membangunkan sang istri. Sudah bisa di pastikan, akan ada macan mengamuk pagi ini. Dengan cepat, Raga membersihkan dirinya di kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, Raga sudah keluar dengan pakaian lengkap. Ternyata Jiwa sudah bangun, hanya saja gadis itu malah bermain ponsel. Tidak masalah, daripada istrinya keluyuran tidak jelas lebih baik seperti itu.
"Kamu, enggak mau mandi?" tanya Raga.
Jiwa menatap suaminya sekilas, seolah enggan jika menatap laki laki itu terlalu lama.
"Nanti." Jawab jiwa singkat.
Raga menghela nafas pelan, ini masih hari pertama setelah pernikahan dan sudah mendapati sikap galak sang istri. Sepertinya, Raga harus lebih banyak bersabar. Tidak ingin memperbanyak masalah, Raga keluar dari kamar berniat untuk menyiapkan sarapan. Jangan berfikir jika Raga yang akan memasak, mana bisa laki laki sombong itu memasak.
Setelah memastikan Raga keluar dari kamar, dengan cepat Jiwa bergegas menuju kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, apa yang di butuhkan setelah mandi gadis itu tidak peduli. Setelah selesai, Jiwa tersadar jika tidak membawa baju ganti. Gadis itu, mengumpat dalam hati. Bagaimana jika, Raga sekarang berada di dalam kamar?
"Masa iya, gue mau seharian di kamar mandi. Bisa mati, kedinginan gue."
Dengan hati hati, Jiwa membuka pintu kamar mandi dan sialnya Raga sudah
kembali ke kamar.
"Ngapain om disini?" Jiwa menahan malu, karena gadis itu hanya menggunakan handuk yang sangat pendek.
Raga memperhatikan Jiwa dari atas sampai bawah, selain cantik ternyata istrinya juga memiliki tubuh yang ideal. Dengan cepat, Raga menepis segala pikiran kotor yang ada di dalam otaknya.
"Ini kamar saya,"
Jiwa tidak mempedulikan Raga yang terus memperhatikan dirinya, lebih baik mencari pakaian yang ada di dalam lemari karena jiwa tahu semua pakaiannya masih ada di dalam koper.
"Nyari apa?"
Jiwa menatap Raga geram, apa kurang jelas jika dirinya sedang mencari baju di dalam lemari?
"Om, gunanya mata buat apa sih?"
"Mata gunanya melihat, salah satunya sedang saya gunakan dengan baik melihat kamu pagi ini." Ujar Raga.
"Kamu sengaja goda saya kan?" tanya Raga.
Jiwa tidak menghiraukan suaminya, dasar m***m pikir Jiwa. Meskipun, mereka sudah menikah sampai kapanpun Jiwa tidak akan menyerahkan hal yang sangat pada laki laki pemaksa itu.
"Masih banyak, laki laki yang lebih muda kenapa aku harus godain om?" Jiwa tidak sengaja mengatakan itu, saat ini pikirannya hanya mencari baju.
Rahang Raga mengetat, apa tadi katanya? Jiwa ingin menggoda laki laki di luar sana lebih muda darinya. Raga berdecih, sejengkal pun tidak akan pernah ada yang menyentuh Jiwa selain dirinya.
"Satu hal yang, harus kamu tahu. Apapun yang sudah menjadi milik saya, tidak akan pernah di sentuh orang lain!"
"Terserah, sekarang cariin aku baju. Enggak peka banget sih aku kedinginan dari tadi."
Jiwa memilih duduk, di tepi ranjang. Sudah lelah mencari baju di lemari tidak ada satu pun. Raga, membuka laci di lemari. Lalu mengeluarkan paper bag dan memberikannya kepada Jiwa. Tanpa perlu basa-basi, Jiwa langsung merebut paper bag tersebut dari Raga.
Setelah memakai pakaian yang di berikan oleh Raga, Jiwa keluar dengan wajah yang di tekuk membuat Raga tersenyum. Jadi begini, rasanya mendapati istrinya yang sedang merajuk?
"Om, ada masalah apa sih sama aku? Kenapa ngasih aku daster kayak gini?"
Raga terkekeh geli, Sudah lama Raga membelikan Daster itu untuk Jiwa dan akhirnya hari ini keinginan Raga melihat istrinya mengunakan daster terwujud.
"Apa harus ada masalah, baru saya boleh liat kamu pakai daster?"
Raga berdiri, mendekati Sang istri yang cemberut sejak tadi. Gara gara daster, sepertinya Jiwa akan semakin membenci dirinya.
"Kamu cantik,"
Bukannya terpesona, karena mendapatkan pujian dari suaminya. Jiwa malah berkacak pinggang, sambil menatap suaminya tajam.
"Saya emang cantik, tapi saya nggak haus pujian!"
Raga terkejut bukan main, ia pikir Jiwa akan tersipu malu seperti wanita pada umunya. Ah iya, Raga lupa jika istrinya ini memang berbeda dari yang lain.
"Oke, saya minta maaf. Tapi saya lapar, ayo kita sarapan." Ajak Raga.
Tidak ingin menolak, Jiwa hanya mengangguk. Urusan makanan, tidak bisa di tolak. Setelah sampai di dapur, Jiwa melihat banyak sekali makanan. Tiba tiba, Jiwa menjadi Ragu. Bagaimana jika, semua makanan disini sudah di racun?
"Kenapa?"
"Siapa yang masak?"
Bukannya segera duduk, Jiwa malah mengintrogasi Raga.
"Bibi yang masak, kalau kamu tanya bibi dimana orangnya udah pulang. Nanti sore baru kesini lagi." Jawab Raga dengan sabar, berusaha sabar saat melihat Jiwa menatapnya curiga.
Akhirnya, Jiwa mau duduk di samping Raga. Jiwa berfikir, jika makanan ini sudah di racun dan jiwa akan mati setidaknya jiwa akan terbebas dari semuanya.
"Saya semalam nanya ke ibu, apa makanan kesukaan kamu. Jadi semuanya sudah di masak semoga kamu suka."
Jiwa menatap suaminya dengan curiga, entahlah pagi ini Raga memang patut untuk di curigai. Keduanya makan dalam diam, Jiwa sangat menikmati makanannya. Rasanya, Jiwa sedang sarapan di rumahnya hanya saja tidak ada orang tua dan adiknya. Yang ada hanyalah, laki laki pemaksa yang sejak kemarin sudah sah menjadi suaminya.
"Kamu, mau honeymoon kemana?"
Kini mereka sudah selesai sarapan, Raga melarang Jiwa untuk mencuci piring lagipula semua itu sudah ada yang mengerjakan nanti.
"Jangan mimpi, om lupa dari awal aku udah bilang pernikahan hanya status selebihnya kita hanyalah orang asing."
Raga menarik tangan Jiwa hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya, tentu saja gadis itu berusaha melepaskan diri dari Raga. Namun, Raga terlalu kuat untuk melepaskan Jiwa begitu saja.
"Ini saran, dari orang tua kita. Saya masih, ada libur beberapa hari."
"Jangan buang waktu, mendingan om kerja sana! aku nggak mau ya jadi miskin,"
Mendengar ucapan Jiwa, membuat Raga tersenyum. Istri kecilnya itu, tidak tahu jika libur beberapa hari tidak akan membuat perusahaannya bangkrut. Raga akan merasa senang, jika sang istri meminta banyak waktu untuk berlibur karena selama ini dirinya terlalu sibuk bekerja sampai lupa untuk liburan bersama keluarga. Tapi sayang, Jiwa malah tidak mengizinkannya istirahat.
Raga mengeratkan pelukannya, membuat Jiwa semakin risih.
"Apaan sih, lepas!"
"Kalau kamu, enggak mau saya bangkrut kamu harus ikut saya liburan. Anggap saja, honeymoon."
Jiwa sontak menggeleng, enak saja honeymoon. Gadis itu semakin merasa tidak aman jika hanya berdua bersama Raga.
"Saya enggak suka di paksa, mendingan om nyari pacar sana."
"Saya sudah punya istri, kenapa harus cari pacar. Kamu pikir, saya suka gonta-ganti pasangan?" tanya Raga.
Jiwa mengangkat bahu acuh, tidak peduli jika Raga mempunyai wanita lain selain dirinya. Jiwa malah berfikir, jika Raga mencari wanita lain dirinya bisa menuntut cerai dengan alasan orang ketiga, ide yang sangat bagus bukan?
"Saya enggak tahu, dan enggak mau tahu. Om mau cari perempuan lain silahkan," ujar Jiwa seolah tanpa beban.
Raga menggeleng pelan, kenapa Jiwa begitu ikhlas jika dirinya bersama wanita lain. Apa Raga terlalu jelek?
"Tapi sayangnya, saya cukup sama kamu. Sampai nanti, kamu bisa tahu seberapa sayang dan cintanya saya sama kamu."
Telinga Jiwa terasa panas, bukannya merasa di cintai oleh suaminya. Jiwa malah semakin risih, apalagi Raga yang sejak tadi tidak melepaskan pelukannya.
"Terserah! sekarang om lepasin aku, suka banget nyari kesempatan."
Akhirnya, Raga melepaskan pelukannya.
"Ayo kita jalan jalan."
Seribu satu cara, Raga lakukan untuk meluluhkan hati sang istri. Namun, tidak semudah itu untuk mendapatkan hati seorang Jiwa Prameswari. Memaksa Jiwa, untuk menikah dengannya mungkin terlalu mudah bagi Raga. Tapi jika, urusan hati Raga tidak bisa menentukan kapan sang istri akan mencintai dirinya.
"Jalan aja sendiri,"
Jiwa memainkan ponselnya, tidak peduli jika Raga akan marah karena sudah di abaikan. Kenapa, rasanya sangat membosankan? Jiwa sangat rindu pada keluarganya, dan juga sang adik.
"Kamu tahu, saya tidak terbiasa menerima penolakan. Kamu tahu, semua fasilitas dari ayah sudah di cabut. Kalau kamu, mau semua itu kembali kamu bisa mendapatkannya dengan mudah asal kamu mau menuruti semua yang saya katakan."
Sial! Kenapa Raga begitu egois?
"Terserah, saya masih punya tabungan. Inget ya om, mungkin om bisa dengan mudah memaksa saya untuk menikah. Tapi enggak semua hal yang saya butuhkan bisa di ganti dengan uang. Saya enggak munafik, uang memang penting tapi apa gunanya uang kalau saya enggak bahagia sama pernikahan ini?"
"Om mau bilang, kalau saya keras kepala silahkan."
Raga tidak terkejut, jika saat ini Jiwa mengatakan hal itu padanya. Sejak lama, Raga sudah siap jika Istrinya akan bersikap dingin seperti ini. Ya, memang benar, Raga sudah memaksa terjadinya pernikahan ini, tapi Raga tidak berniat untuk menyakiti Jiwa lebih dalam. Sebisa mungkin, Raga akan menjaga Jiwa. Tidak akan ada perpisahan, di antara mereka.