Tidak terasa, pernikahan Jiwa dan Raga sudah satu bulan. Selama satu bulan, Jiwa belum pernah berkunjung ke rumah orang tuanya. Jika mau, gadis itu bisa saja datang sendiri. Namun, pesan sang ayah di hari pernikahan masih teringat jelas bagaimana ayahnya melarangnya untuk datang sendirian tanpa suaminya. Katanya, saat sudah menikah semua tanggung jawab ayahnya sudah menjadi tanggung jawab Raga. Menikah terpaksa, dan harus menuruti keinginan keluarganya. Jiwa merasa tidak punya kebebasan. Selama 2 minggu terakhir, Raga pergi ke luar kota. Peresmian kantor cabang yang baru, Raga sempat ragu meninggalkan Jiwa sendirian. Tapi gadis itu juga, tidak mau ikut. Selama 2 minggu juga, asisten rumah tangganya tinggal bersama Jiwa. "Masak apa bi?" tanya Jiwa pada bi Minah, asisten rumah tangganya.

