Obrolan panjang dengan ayah mertuanya, membuat Raga berfikir jika Jiwa memang sangat berharga. Laki laki itu kembali ke kamar, di lihatnya wajah sang istri yang sudah terlelap. Tetap cantik. Raga ikut tidur di sebelah Jiwa, rasa gelisah yang seharian ini langsung lenyap saat berada di dekat istrinya. Ucapan Jiwa setiap malam selalu terbayang, dimana gadis itu tidak mau di peluk saat tidur. Namun, Raga selalu melanggar larangan itu. Baginya, lebih enak memeluk Jiwa daripada harus memeluk guling. Merasa tubuhnya sangat berat, Jiwa mengerjapkan matanya. Gadis itu sudah menduga bahwa Raga akan tetap menyusul ke rumah orang tuanya, dan sekarang suami tuanya itu sedang memeluknya dengan begitu nyaman sampai melupakan tubuh Jiwa yang kecil jika di peluk seperti ini. Sekarang baru jam 2 pagi,

