"Ga, kamu mau pulang sekarang?" Raga menghentikan langkahnya, menatap curiga ayahnya yang bertanya seperti itu. Raga yakin, ayahnya sudah merencanakan sesuatu. "To the point yah," "Ayah males nyetir sendiri, anterin ayah pulang." Apa katanya? Mengantarkan ayahnya pulang sama saja Raga tidak akan bertemu Jiwa malam ini, bukannya Raga tidak mau berbakti pada ayahnya. Namun, semua orang tahu setiap hari ada sopir yang mengantarkan ayahnya pulang. "Tidur di kantor aja, Raga sibuk." "Astaghfirullah tega kamu sama ayah sendiri," Raga memejamkan matanya, ayahnya memang sengaja menguji kesabarannya. "Mau di anterin ke rumah istri tua, apa ke rumah istri muda?" "Ke rumah istri tua aja, belum punya istri muda nih." Canda sang ayah, sementara Raga hanya menggelengkan kepalanya. Mereka b

