Jalanan cukup padat, membuat Raga terlambat sampai kantor. Untung saja ini adalah kantor ayahnya, jika bukan sudah pasti Raga akan di pecat karena datang seenaknya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul 9 dan Raga baru sampai. Sejak 2 jam yang lalu, sang Ayah terus menelvon tapi Raga malah mengabaikannya. "Wah, bos besar baru datang." Mendengar suara ayahnya, laki laki itu hanya diam. Raga bukan tipe anak yang mudah baper, semua sindiran sudah pernah di lontarkan ayahnya. Raga tetap cuek. Raga duduk di sofa yang ada di ruangan ayahnya, menatap malas berkas yang minta di perhatikan. Raga menghela nafas berat, teringat ajakan ayah mertuanya bermain catur. "Sepertinya, 2 tahun lagi perusahaan ini akan bangkrut kalau pemimpinnya pemalas. Setelah bangkrut, kamu akan menjadi duda karena Jiwa e

