"Om jangan peluk aku terus, aku mau bangun!"
Bukannya takut istrinya marah, Raga malah sengaja mengeratkan pelukannya. Di luar sedang hujan, sangat cocok untuk berpelukan. Namun, berbeda dengan Jiwa gadis itu terang terangan menolak di peluk oleh Raga.
"Sama suami enggak boleh galak Wa, dosa." Laki laki itu mencium pipi Jiwa, membuat gadis itu berteriak.
"OM RAGA MESUM."
Raga malah tertawa saat mendengar teriakkan Jiwa.
"Astaga Wa, saya cuma cium pipi kamu itu wajar karena kita udah nikah." Lagi, Raga kembali mencium Jiwa. Hal itu benar-benar membuat Jiwa merasa kesal, jika Raga tidak memeluknya sudah pasti Jiwa akan menampar laki laki itu sekarang.
"Om pura pura lupa, pertama kali kita ketemu. Om udah cium aku kan? Enggak usah sok polos deh om, kalau bukan karena om yang jebak aku malam itu. Sekarang aku masih kuliah,"
Raga menggeleng, hal yang membuat semuanya berubah. Tidak akan mudah untuk di lupakan.
"Waktu itu saya hilaf, kamu cantik banget soalnya."
"Aku jadi curiga, om udah sering tidur sama perempuan di club ya?" tanya Jiwa sinis, tidak mau mendapatkan bekasan perempuan lain.
Raga melepaskan pelukannya, menatap Jiwa heran. Kenapa istrinya mempunyai pemikiran seperti itu?
"Kamu yang pertama Wa, dan kamu tau saya belum pernah berbuat terlalu jauh. Saya sangat menghargai perempuan," ucap Raga, Jiwa memang satu satunya perempuan yang pernah tidur satu kamar dengannya.
"Kalau emang menghargai perempuan, seharusnya Om enggak ngelakuin itu sama aku." Sahut Jiwa.
Raga menghela nafas, waktu itu dirinya tidak berfikir panjang.
"Kamu tau kan kalau saya bisa mendapatkan apa yang saya mau dengan mudah? Cepat bangun, dan buatkan saya sarapan. Saya mau makan masakan kamu," perintah Raga tentu saja langsung di tolak oleh Jiwa, mana mau gadis itu memasak untuk suami tuanya itu.
"Males, masak aja sendiri. Aku mau tidur lagi!" Mengabaikan perintah suaminya, Jiwa malah kembali memeluk guling.
Raga tersenyum tipis karena tingkah istrinya, kita lihat apa setelah ini Jiwa akan menolak permintaan Raga?
"Kamu mau buatin saya sarapan, atau mau saya peluk seharian. Kalau saya sih, lebih suka di kamar seharian daripada harus kerja. Masalah makan, nanti kita makan di luar. Gimana Wa?"
Jiwa langsung melempar gulingnya ke arah Raga, dasar laki laki tua tidak tau diri. Tanpa berkata apapun, gadis itu langsung keluar dari kamar dan pergi ke dapur.
"Bisa diem enggak!" Jiwa sangat kesal saat Raga terus saja menganggunya.
"Kamu, mau masak apa?
Jiwa mengangkat pisau ke arah Raga, perempuan itu sudah mirip seperti psikopat.
"Wa, kamu mau apa?" tanya Raga gugup, niatnya hanya untuk menjahili Jiwa tapi kenapa gadis itu mengarahkan pisau itu padanya.
"Daripada gangguin aku, mendingan Om bantuin aku motong bawang merah." Ucap Jiwa.
"Oh, saya kira kamu mau bunuh saya pakai pisau itu." Raga bernafas lega, ternyata Jiwa bukan gadis psikopat.
Mendengar suara gugup laki laki itu, Jiwa tersenyum licik.
"Om mau mati cepet ya? Sini aku bantu."
Raga menggeleng, tidak mungkin kan Jiwa tega membunuhnya? Apa gadis itu ingin menjadi janda muda? Menjadi janda di usia muda tidaklah sulit untuk Jiwa, karena gadis itu masih sangat muda. Namun, Raga tidak akan pernah rela jika Jiwa menikah dengan laki laki lain. Raga memundurkan langkahnya, sepertinya Jiwa sudah hilang akal karena terlalu benci padanya.
Bugh
Raga membuka matanya perlahan, sebuah bantal mendarat sempurna di wajah tampannya.
"Om kebo banget sih, cepet bangun udah pagi!" Dengan begitu tega, Jiwa menarik Raga untuk bangun. Tapi laki laki itu hanya terdiam, mencoba menerka apa yang sudah terjadi.
"Kamu udah masak?"
"Uang Om banyak, ngapain aku masak." Jawab Jiwa, gadis itu baru saja selesai menyisir rambutnya.
"Bukannya tadi kita lagi di dapur, terus kamu mau bunuh saya?" tanya Raga penasaran, apa yang sebenarnya terjadi?
Jiwa menggeleng, gadis itu sudah bangun sejak tadi. Dan baru membangunkan suaminya karena Jiwa risih Jika Raga terus berada di rumah.
"Mimpi teros, cepet bangun. Terus berangkat kerja."
Raga bernafas lega, ternyata semua itu hanya mimpi. Namun, Raga ingin mewujudkan salah satu mimpinya pagi ini.
Cup
"Selamat pagi istriku," setelah mencium pipi Jiwa, laki laki itu berlari ke kamar mandi. Tentu saja, menghindari amukan Jiwa.
"DASAR m***m!"
---
Di meja makan, Raga tersenyum manis pada istrinya. Sejak kejadian beberapa menit yang lalu, Jiwa sepertinya sangat kesal padanya. Tidak masalah, sudah biasa jika harus mendapatkan kata kata pedas dari gadis itu.
"Saya emang ganteng, kamu boleh liatin saya terus nanti malam. Sekarang, kamu makan dulu." Sindir Raga.
Rasanya ingin sekali Jiwa melempar piring tepat di wajah Raga, wajah sok polosnya membuat Jiwa semakin muak. Rasa laparnya semakin terasa, lebih baik menyelesaikan sarapannya dari pada harus berdebat dengan laki laki tua itu.
"Selesai sarapan, saya mau nepatin janji ke kamu." Ucap Raga, membuat Jiwa bingung. Seingatnya, laki laki itu tidak pernah menjanjikan apapun padanya.
Bersikap tenang, adalah hal yang wajib Jiwa lakukan. Meskipun hatinya ingin tahu apa yang di maksud Raga, tapi lebih baik diam.
Selesai sarapan, Jiwa duduk di depan tv. Di depannya sudah tersedia berbagai macam camilan, tentu saja semua itu akan habis dalam waktu singkat. Jiwa memang suka ngemil, tapi tidak terlalu suka makan. Terlalu sibuk menonton kartun, Jiwa tidak sadar jika Raga juga ikut duduk di samping.
"Suka kartun?"
Jiwa terkejut mendengar suara Raga, kenapa Raga suka muncul tiba tiba.
"Suka." Jawab Jiwa apa adanya, menurutnya menonton kartun sangat menyenangkan meskipun sudah di tonton berulang kali.
"Suka saya?"
"Mimpi!"
Ponsel Raga berdering, dengan cepat laki laki itu menjauh dari istrinya. Jiwa juga tidak peduli dengan apa yang Raga bicarakan, baginya selama tidak mengusik ketenangannya tidak masalah. Karena jujur, gadis itu sudah lelah jika harus berdebat dengan Raga setiap hari.
"Baru jam 10, tapi gue udah ngantuk banget." Jiwa mematikan televisi, gadis itu berniat untuk tidur. Semalam, Jiwa terlalu lama berebut guling. Jiwa tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk guling, tapi Raga dengan tegas mengatakan lebih baik memeluk dirinya daripada guling.
"Mau kemana Wa?" Suara Raga, menghentikan langkahnya.
"Tidur, aku ngantuk. Semalem kurang tidur," jawab Jiwa.
Raga merasa bersalah, seharusnya semalam ia tidak bersikap seperti itu.
"Ikut saya sebentar, ada yang mau ketemu kamu."
Malas berdebat karena mengantuk, Jiwa mengikuti langkah suaminya. Ternyata Raga mengajaknya keluar rumah, tidak ada siapapun. Hanya ada mobil saja, apa mungkin tamu mereka masih ada di dalam mobil?
"Kamu suka mobilnya?" tanya Raga memastikan, jika Jiwa tidak menyukai hadiahnya maka Raga akan menukar dengan mobil yang lain.
"Om beli mobil baru?" Jiwa belum paham jika mobil ini Raga di antarkan langsung untuknya, mungkin karena gadis itu sedang menahan ngantuk.
Raga mengangguk.
"Ini mobil kamu, sebagai hadiah pernikahan kita. Maaf kalau kamu enggak suka warnanya, saya memang suka warna hitam. Kalau kamu, enggak suka mobilnya nanti kamu pilih sendiri. Ini saya yang pilih, karena mau kasih kamu kejutan."
Jiwa teringat permintaannya 1 minggu yang lalu, saat mereka sedang di perjalanan. Jiwa tidak sengaja meminta di belikan mobil pada Raga, gadis itu hanya asal berbicara. Tidak sampai berfikir jika Raga akan menurutinya.
"Ini, buat aku?" Jiwa masih tidak percaya, kenapa Raga mau menghamburkan uang hanya untuk menuruti keinginannya? Apa karena Raga ingin me mendapatkan hatinya? Atau Raga ingin membuat Jiwa semakin berhutang padanya?
"Saya udah janji sama kamu, bakal buat kamu bahagia. Kalau kamu belum bisa mencintai saya, setidaknya kamu mau menerima semua fasilitas yang saya berikan. Kamu benar, uang tidak selalu menjamin kebahagiaan. Tapi apa salahnya, kalau saya mau kamu bahagia?"
Jiwa tidak mengerti jalan pikiran Raga, suaminya tidak mudah di tebak.
"Seharusnya Om enggak perlu nurutin apa yang aku mau, karena aku enggak butuh semua itu."