Tepat pukul 9 siang, Jiwa keluar dari rumah menggunakan mobil pemberian Raga. Jiwa sudah menolak, tapi Raga terus memaksa. Jika Jiwa, tidak mau memakai mobil itu maka Raga tidak mengizinkannya pergi menemui sahabatnya. Claudia. Jalanan cukup padat, membuat Jiwa sedikit terlambat. Sudah bisa di tebak, jika nanti Claudia akan meminta traktiran. Sebagai konsekuensi, jika salah 1 dari mereka ada yang datang terlambat. Jiwa menghentikan mobilnya di sebuah Cafe, tempat yang menjadi pilihan mereka untuk bertemu.
Sebuah mobil berwarna putih, sudah berada di parkiran. Jiwa mengetuk pintu mobil pelan, sang pemilik mobil membuka pintu sambil tersenyum. Mereka sudah 1 bulan tidak bertemu, Claudia sibuk kuliah dan Jiwa yang sudah menikah.
"Mobil baru Wa?" dulu, Jiwa pernah bercerita ingin ganti mobil tapi ayahnya tidak mengizinkan.
Jiwa mengangguk, sahabatnya itu belum tau jika Jiwa sudah menikah dan berhenti kuliah.
"Di beliin Om Raga," jawab Jiwa.
"Baik banget Om Raga mau beliin mobil, om gue mana ada yang mau sedekah mobil gini." Seperti dugaannya, Claudia salah paham. Gadis itu pasti mengira jika, Raga adalah adik dari orang tuanya.
"Dia bukan Om gue sih sebenernya," sahut Jiwa sambil menggeser kursi Cafe, mereka mulai memesan makanan.
Claudia meletakkan ponselnya, seingatnya Jiwa memang tidak memiliki saudara dekat.
"Terus siapa? Jangan bilang, kalau lo sekarang punya sugar Daddy."
"Enggaklah," mana mungkin Jiwa berani mencari sugar Daddy, hanya untuk sebuah mobil. Harga dirinya, lebih mahal dari harga sebuah mobil.
"Terus, Om Raga itu siapa? Saudara bukan, sugar Daddy bukan, ayah tiri lo pasti juga bukan."
Jiwa melotot mendengar kata ayah tiri, amit amit sampai hal itu terjadi.
"Ck! Dia itu, suami gue." Ujar Jiwa, gadis itu tidak berniat menyembunyikan hubungannya dengan Raga.
Dengan terpaksa, Claudia harus menahan rasa penasarannya. Karena pegawai Cafe mengantarkan makanan mereka.
"Ngawur nih bocah, cepetan jujur dia itu siapa. Masa iya, dia suami lo. Kok lo enggak ngundang gue pas nikah,"
Jiwa menghembuskan nafas berat, kenapa Claudia tidak percaya padanya. Mungkin karena, selama ini Jiwa hanya dekat dengan Raka. Dan hubungan keduanya, hanya sebatas teman.
"Ini semua mendadak, gue nikah karena kejadian di Club waktu itu."
Cerita Jiwa mengalir begitu saja, dimana pertama kali Jiwa dan Raga bertemu. Sampai akhirnya laki laki itu, mengancam Jiwa agar mau menikah dengannya.
"Em, sorry banget ya Wa. Kalau aja gue enggak ngajak lo dateng ke acara itu, dan gue enggak pulang duluan pasti sekarang lo masih kuliah. Pasti sekarang lo benci banget ya sama gue," sesal Claudia, jika malam itu ayahnya tidak menelvon untuk segera pulang hal buruk tidak akan terjadi pada sahabatnya.
Jiwa menggeleng, ini sudah takdir kehidupannya. Meskipun pernikahan karena ancaman, gadis itu tidak mau menyalahkan orang lain. Ini semua karena Raga.
"Bukan salah lo, mungkin takdir gue yang kurang beruntung." Menyalahkan orang lain, tidak akan mengembalikan apa yang sudah terjadi.
"Terus gimana sama Raka? Dia, udah tau status lo yang sekarang. Soalnya, beberapa hari ini dia sering chat gue nanyain kabar lo." Jiwa sudah menduga hal itu, semenjak menikah Jiwa akan membatasi diri untuk berkomunikasi dengan lawan jenis. Apalagi Raka, laki laki yang dulu pernah ia tolak.
"Belum, semalem gue udah cerita kalau gue ganti hp. Jangan bilang sama Raka kalau gue udah nikah, biarin dia tau sendiri kebenarannya."
Claudia mengangguk, cukup tau diri untuk tidak ikut campur urusan sahabatnya. Mereka melanjutkan makannya, jika bersama Claudia tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
---
Sepulangnya Jiwa dari Cafe, gadis itu menghentikan mobilnya karena ada kecelakaan di depan. Seseorang menghampiri Jiwa, membuat gadis itu terkejut karena laki laki itu adalah orang yang saat ini ia hindari.
"Raka." Ucap Jiwa, laki laki itu adalah Raka.
Laki laki itu tersenyum, bertemu dengan gadis pujaannya setelah lama menghilang.
"Gue, nebeng lo ya." Jiwa mengangguk, tidak enak juga kalau menolak. Mengingat bagaimana, baiknya Raka semasa kuliah.
Setelah Raka masuk ke dalam mobil, Jiwa menjalankan mobilnya. Seperti biasa, mereka akan saling bertukar cerita.
"Gue denger, lo udah enggak lanjut ya Wa?" tanya Raka.
Jiwa mengangguk, khawatir jika Raka akan bertanya apa alasan gadis itu berhenti kuliah.
"Iya, kuliah lo gimana?"
"Lancar aja sih, cuma sekarang gue enggak semangat." Ucap Raka, bagaimana bisa semangat kuliah jika tidak ada Jiwa di kampus.
"Kenapa enggak semangat, biasanya lo paling rajin. Kesayangan dosen lagi,"
Raka tersenyum kecut, percuma di sayang dosen karena pintar tapi tidak bisa mendapatkan Jiwa.
"Kalau lo mau jadi pacar gue, pasti gue lebih semangat." Raka tidak bercanda, sudah lama ia harus menunggu Jiwa membalas perasaannya. Namun, hal itu juga belum terjadi. Entah kapan, gadis itu akan peka jika selama ini Raka sudah menunggunya terlalu lama.
Jiwa menggeleng, mana mungkin ia menerima Raka. Sementara Jiwa sudah menjadi istri orang.
"Masih banyak yang lebih baik dari gue, cari yang lain aja ya. Karena sampai kapan pun, gue enggak bisa balas perasaan lo ke gue."
Kalimat itu terus saja terucap dari mulut Jiwa, penolakan secara halus ternyata lebih menyakitkan. Ingin memaksa, tapi rasanya juga percuma.
"Berhenti di bengkel depan ya Wa, gue mau ambil mobil."
Jiwa kembali mengangguk, tidak masalah jika Raka akan memberinya. Mobil berhenti tepat di depan bengkel, ada mobil Raka disana.
"Makasih ya udah nganterin gue, gue harap kita masih bisa temenan walaupun udah enggak satu kampus." Bagi Raka, tidak bersama Jiwa tidak masalah karena gadis itu pasti punya kebahagiaannya sendiri.
"Raka."
"Iya."
Jiwa harus mengatakan ini sekarang, sebelum semuanya terlambat.
"Gue minta maaf kalau gue sering ngerepotin lo, gue juga minta maaf kalau pernah buat lo sakit hati. Berhenti berjuang ya Ka, jauhin gue. Anggap aja kita enggak pernah kenal sebelumnya," ucap Jiwa pelan, gadis itu yakin jika Raka merasa sakit hati mendengar ucapannya.
Raka terkejut, niatnya kembali berjuang lebih dulu di tolak. Tidak tanggung tanggung, Jiwa menyuruhnya untuk tidak saling mengenal satu sama lain. Meskipun berat, Raka akan menuruti apa yang gadis pujaannya inginkan.
"Gue enggak janji, tapi gue akan berusaha. Bahagia selalu ya cantik, gue akan jadi orang paling depan kalau ada yang nyakitin lo." Ucapan Raka berhasil membuat Jiwa sadar, jika perbuatannya sangat menyakiti hati laki laki itu. Namun, statusnya sebagai istri orang membuat Jiwa harus melakukan itu semua.
Setelah Raka keluar dari mobilnya, Jiwa menjalankan mobilnya. Gadis itu ingin pulang, tidak baik jika terlalu lama berada di luar rumah. Meksipun pernikahannya karena paksaan, Jiwa tetap akan menjadi istri yang patuh pada suami. Sesampainya di rumah, ada 2 mobil yang tidak asing bagi Jiwa. Jika tidak salah, mobil itu adalah milik mertuanya. Tumben sekali mereka berkunjung, ada apa?
Dengan malas, Jiwa masuk ke dalam rumah. Ternyata benar, kedua mertuanya sudah ada di rumah. Jiwa merasa malu, karena tidak tau kalau mertuanya akan berkunjung.
"Assalamualaikum."
Ketiga orang itu menoleh, termasuk Raga. Seperti biasa, Raga selalu tersenyum manis padanya.
"Waalaikumsalam, dari mana Wa." Pertanyaan itu sudah Jiwa pikirkan jawaban, bukankah hal semacam itu hanya sebatas basa basi?
Jiwa duduk di samping Raga, itu bukan keinginannya. Raga sudah memberikannya kode, agar ia mau duduk di samping suaminya.
"Ketemu sama temen Bun,"
"Teman laki laki?" Pernyataan itu dari ayah mertuanya, membuat Jiwa sedikit terkejut. Gadis itu mengangguk, meskipun hanya kebetulan bertemu Raka.
"Dia temen aku di kampus yah, tadi enggak sengaja ketemu di jalan. Dia nebeng, karena searah. Aku arah pulang, dia mau ke bengkel ambil mobil." Tidak ada gunanya berbohong, satu kebohongan saja akan semakin menambah masalah dalam hidupnya.
Mendengar pengakuan Jiwa, membuat Raga merasa kesal. Tadi pagi, Jiwa berpamitan ingin bertemu sahabatnya. Namun, kenyataannya ada laki laki lain yang Jiwa temui hari ini. Jika tidak ada kedua orang tuanya, Raga sudah pasti akan memberikan banyak pertanyaan untuk istrinya.