Marah

1224 Kata
Jiwa menatap Raga jengah, sejak tadi laki laki itu merasa uring uringan. Tidak seperti biasanya, Raga mendiamkan Jiwa. Tidak mau ambil pusing, Jiwa malah membuka ponselnya. Niatnya ingin, stalk akun cogan Thailand. Lebih dari satu tahun, Jiwa sudah mengidolakan aktor Thailand. Tidak ada yang terlewat, jika ada aktor yang tampan sudah pasti Jiwa mengikuti mereka di i********:. Merasa di abaikan, Raga melihat Jiwa yang sibuk bermain ponsel. Yang paling membuatnya kesal, istri kecilnya itu sedang tersenyum menatap ponsel. Rasanya Raga sangat menyesal karena sudah membelikan ponsel baru untuk Jiwa. "Tadi kamu ketemu siapa?" tanya Raga penasaran, mendiamkan Jiwa agar istrinya mau memberikannya penjelasan. Tapi apa yang dia dapat? Jiwa tidak peduli padanya. Jiwa menatap Raga, apa laki laki itu sedang mengajaknya berbicara? "Awalnya ketemu Claudia, tapi pas pulang ada kecelakaan di jalan. Jadi aku berhenti sebentar, eh enggak sengaja ketemu Raka." Tidak ada gunanya berbohong, lebih baik jujur walaupun ia tahu Raga akan marah padanya. Jiwa tidak peduli. "Yang, pernah suka sama kamu?" Seingatnya, Jiwa pernah menyebutkan nama Raka. Apa itu orang yang sama? Jiwa mengangguk, melihat bagaimana reaksi suaminya. Tanpa mengatakan apapun, Raga keluar dari kamar. "Biarin aja marah, mendingan aku lanjut stalk cogan. Ya ampun jodohku ganteng banget plis," Jiwa tidak sadar, jika Raga masih berada di balik pintu. Laki laki itu mengusap wajahnya kasar, marah juga tidak ada gunanya. Sekarang, Jiwa adalah istrinya tidak boleh ada laki laki lain di hatinya. Jiwa terkejut saat Raga merebut paksa ponselnya, di layar ponsel Jiwa terpampang jelas wajah tampan aktor Thailand. Tentu saja, Raga tidak mengenal siapa laki laki itu. Raga langsung membuka Galeri foto, ada banyak foto laki laki asing. "Siapa?" Berani beraninya, Jiwa menyimpan foto laki laki lain. "Ganteng ya Om," Jiwa tau, jika Raga sedang cemburu. Dengan sengaja gadis itu kembali menguji kesabarannya, sejauh mana Raga akan tetap bersabar. Mendengar istrinya memuji laki laki lain, ingin sekali Raga membanting ponsel itu. "Selingkuhan kamu, ini yang namanya Raka?" "Bukan, Raka enggak seganteng itu. Balikin hp aku, aku mau lanjut halu." Pinta Jiwa, tapi Raga tidak mau mengembalikan ponselnya. "Jelasin, ini siapa?" Jika tidak cepat di jelaskan, bisa di pastikan ponsel itu akan hancur sekarang. Menyadari jika suami tuanya sedang marah, Jiwa hanya diam saja. Jika ponsel itu mati, gadis itu tinggal meminta yang baru. "Kenapa sih om, kepo banget. Sini balikin," "Jelaskan atau saya, tidak akan pernah mau bicara sama kamu." Itu hanya ancaman, mana mungkin Raga bisa menahan diri untuk tidak berbicara dengan Jiwa. Jiwa mengalah, bukan karena takut jika Raga tidak mau berbicara padanya. Tapi takut, jika Raga melaporkan kelakuannya pada sang ayah. Jujur, Jiwa sangat takut pada ayahnya. Jangan sampai, kelemahannya di ketahui oleh suaminya. "Iya Jiwa jelasin, sini duduk dulu. Balikin hpnya, biar aku jelasin mereka itu siapa." Raga menuruti perintah Istrinya, ponselnya di kembalikan. Jiwa membuka kembali aplikasi i********:, di mana ada aktor Thailand yang mempunyai banyak followers dan sudah centang biru. "Mereka aktor Thailand, ganteng banget kan? Om cemburu juga percuma, aku juga enggak akan ketemu mereka. Kecuali, om mau ajak aku pindah ke Thailand." Lalu Jiwa membuka Galeri foto, ada ratusan foto aktor Thailand padahal gadis itu baru saja membeli ponsel itu beberapa hari yang lalu. "Dari dulu, aku emang suka koleksi foto mereka. Sebagai hiburan aja sih sebenernya, dulu kan aku selalu lembur tugas kuliah pas selesai ngerjain tugas liat Ig mereka. Ngerasa beruntung, kalau pas mereka live di Ig." Tidak ada yang di tutupi, Jiwa mengatakan itu karena tidak ingin berbohong. Raga bernafas lega, ia pikir Jiwa punya keinginan untuk berselingkuh. Mengingat, Jiwa sangat cantik apalagi ada Raka yang akan membuat hidupnya tidak tenang. "Gantengan saya, apa Raka?" "Enggak ada yang ganteng," Jiwa tidak mau menambah masalah, biarkan saja Raga kesal karena Jiwa tidak mau mengatakan bahwa laki laki itu tampan. "Enggak bisa gitu dong Wa, harusnya kamu lebih milih saya. Karena kamu istri saya," protes Raga. Jangan sampai Raka terlihat lebih tampan. "Ribet banget kayak cewek, ganteng apa enggak itu tergantung siapa ya liat. Kalau yang liat agak rabun, pasti bilang masih gantengan Om." "Yaudah, kamu rabun aja enggak apa apa biar saya keliatan ganteng dimata kamu." Jiwa menggeleng tidak percaya, apa apan Raga ini. "Gila," Jiwa beranjak dari tempat tidur. Tapi di tarik oleh Raga, akhirnya Jiwa jatuh ke pangkuan laki laki itu. "Saya kangen kamu," bisik Raga, membuat tubuh Jiwa merinding. Jiwa mencoba memberontak, tapi tenaganya kalah kuat dari Raga. "Lepasin, jangan aneh aneh!" "Teriak yang keras Wa, biar orang tua kita dengar." Sial, Jiwa sampai lupa kalau masih ada mertuanya di rumah ini. Kenapa dia tidak ingat sama sekali? Gadis itu hanya pasrah saat Raga terus memeluknya erat. Tadi, setelah selesai makan malam Raga mengajak Jiwa ke kamar karena laki laki itu tahu istrinya tidak nyaman karena orang tua Raga menginap. Raga tentu saja memaklumi hal itu, ia tidak ingin istrinya merasa tertekan kalau harus di paksa beradaptasi dengan cepat. "Ayo tidur, saya ngantuk." Ajak Raga, kedatangan orang tuanya bukan tanpa alasan. Mereka terang terangan mengatakan ingin mendapatkan cucu dalam waktu dekat, hal itu tentu membuat Jiwa kaget. Dia masih muda, jangankan anak tidur bersama Raga dan harus berdebat setiap malam. Jiwa menurut, gadis itu juga sudah mengantuk. Tidak ada gunanya berdebat malam ini, apalagi ada mertuanya. Entahlah, ucapan ayah mertuanya tadi siang mampu membuat Jiwa merasa tidak nyaman bersama mereka. "Ketika kamu sudah menikah dan berstatus istri orang, berada satu mobil dengan laki laki lain bukanlah hal yang benar. Apapun alasannya, jika orang yang tidak suka sama kamu tentu itu akan menguntungkan mereka. Karena mereka mempunyai kesempatan untuk menjauhkan kamu dari Raga," kata kata itu terus terbayang dalam benak Jiwa. Memang apa yang salah, dirinya tidak sengaja bertemu Raka. Hanya kebetulan. Jiwa tidak bisa memejamkan matanya, bagaimana jika esok ayah mertuanya masih membahas Raka. Rasanya Jiwa ingin menangis, tapi gadis itu tidak mungkin di menangis di hadapan mereka. Jiwa terus bergerak, membuat Raga kembali membuka matanya. "Kenapa Wa?" Jiwa menggeleng, jika gadis itu mengutarakan apa yang ia rasakan apa Raga akan percaya padanya. Pernikahan ini tidak akan membuatnya bahagia, salah sedikit sudah di tuduh selingkuh. "Enggak bisa tidur," tidak ada yang perlu di ceritakan, Raga tidak perlu tahu jika sebenarnya ia sedang rapuh. Raga mendekati istrinya, perempuan itu terlihat gelisah. "Mau makan dulu, tadi saya liat kamu makan sedikit. Mungkin karena itu, kamu enggak bisa tidur." Ya memang benar, makan malam bersama mertuanya dalam suasana canggung membuat selera makannya menghilang. Ternyata, Raga menyadari hal itu. "Aku enggak laper, Om Raga kenapa belum tidur. Udah malem, besok harus kerja." Membayangkan hari esok terlalu mengerikan, ibu mertuanya memang baik dan penyabar tapi tidak dengan ayah mertuanya. Tidak banyak bicara, tapi saat berbicara langsung membuat Jiwa bungkam. "Bagaimana saya bisa tidur, dari tadi kamu gerak terus. Sebenarnya besok saya berangkat pagi, ada kerjaan penting di kantor." Ujar Raga. Jiwa merasa bersalah, gara gara dirinya begitu gelisah ternyata hal itu sangat menggangu tidur suaminya. "Om, aku boleh tanya." "Boleh, saya malah senang kalau kamu mau banyak bertanya." Raga begitu antusias menunggu Jiwa bertanya, apapun yang akan istrinya tanyakan akan Raga jawab. Termasuk, apa Raga memang mencintai gadis itu. Jiwa menghembuskan nafas berat, ini seharusnya tidak perlu di pertanyakan lagi. "Di keluarga om, siapa yang enggak setuju kita nikah. Enggak mungkin dong, waktu om mau nikahin aku secara tiba-tiba keluarga om langsung setuju." Raga menoleh, mendapati istrinya yang sedang gelisah menunggu jawabannya. Kenapa Jiwa bertanya seperti itu? Apa itu karena perkataan sang Ayah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN