Tangis masih membasahi wajahku. Aku yang tanpa daya, kini harus menghadapi seorang dokter muda yang menatapku dengan sorot aneh. Selain itu, aku mendapati Mamaku yang sedang menjalani serangkaian tes dari pihak rumah sakit. “Kondisi pasien saat ini perlu penanganan yang lebih intensif lagi, jadi kami akan memasukkannya ke ruang ICU. Anda harus mengurus administrasi dan lain-lainnya sekarang juga,” Dokter laki-laki tersebut memaparkan. “Baik, Dok!” ujar Tante Dewi. “Biar aku yang mengurus administrasinya.” Virza mulai melangkah, tapi ia mengurungkannya. “Apa kamu tahu kartu indentitas Mama ada di mana? Kamu pasti lupa membawanya. Aku akan mencarinya di rumah.” Ia menatapku dengan sangat serius. “Aku tidak–” “Ini, ada sama Tante. Kebetulan kemarin Tante mengurus

