Aku kembali teringat mengenai cerita Martin. “Ternyata dia sudah mengambil cuti selama dua minggu? Tetapi kenapa dia berbohong padaku? Apa karena p*****r itu?” gumamku, sambil berdiri menatap pantulan diriku yang telah sangat mengagumkan mengenakan gaun pengantin yang mempesona. “Eke rasa sudah cukup cantik.” Madam Rose memperhatikanku dengan sangat teliti, lantas memasangkan tudung di kepalaku. “Madam … sebenarnya aku ingin konsep yang masih mengusung adat jawa.” Aku menatap cermin. “Maksud, Ye?” Madam menyilangkan tangan di depan d**a dengan kening berkerut. “Bagaimana kalau pakai rangkaian melati di sekitar tiara yang ada di kepalaku?” pintaku. “Kenapa Ye baru bilang sekarang? Merangkai bunga melati butuh proses, Sayang,” sahutnya. “Itu ada, Madam. “ A

