Aku melihatnya terdiam tanpa suara. Sesekali tertangkap olehku, ia meremas jari tangannya sendiri. Sepertinya ia masih menyimpan rasa bersalah pada Mami yang telah meninggalkannya. Aku sangat ingin agar ia bisa sedikit melupakan kenangan buruknya, hingga bisa memaafkan dirinya sendiri. Aku juga berharap, ia bisa kembali menerima Papanya dengan berlapang d**a. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti sekarang ini. “Aku rasa mungkin sudah saatnya kamu sedikit membuka hati pada Papamu. Meskipun kamu masih belum bisa melupakan kesalahannya, tapi paling tidak kamu harus mengampuninya sebagai seorang anak. Berpikirlah kamu melakukan ini semua untuk seseorang yang telah dicintai oleh Mami kamu semasa hidupnya.” Aku menepuk-nepuk punggung tangan Virza yang mengepal kuat di atas pangkal k

