Sarah menatap ke belakang lagi, langkah nya sudah jauh dari cafe. Perasaan cemas kian menghantui pikirannya. Ia bingung dengan keputusan yang dia ambil. Dia sendiri yang memilih pilihan hidupnya, ia tak mungkin menyalahkan siapa pun termasuk Ibunya --- Jinah. "Apa yang harus kulakukan? Apa Mom akan menghentikan pernikahan ini?" Hatinya terombang ambing dengan perkataan Diana padanya. Ia paham bahwa Ibu dari Zain itu kecewa, bukan karena anak ini, ia kecewa karena mereka berbohong hal yang sangat fatal. Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa diperbaiki lagi. Sarah menghentikan supir taksi yang lewat di jalan. "Mengapa cuaca cerah sementara hati ini sangat mendung?" lirih Sarah sambil menatap langit dari dalam mobil. Ia tidak berniat pulang ke rumah, karena Ibu

