Bersama Maya

1495 Kata
"Hey, gadis kecil." Kia hanya menatap dengan diam tanpa menjawab Maya yang menyapanya. Ia kembali memainkan daun telinga boneka beruang besar milik Maya. "Kamu suka?" Kia mengangguk tanpa menoleh ke arah Maya. "Nanti bawa pulang aja, tapi ada syaratnya." Kia menoleh. Matanya berbinar. "Tersenyum ke arahku dulu." Senyum mengembang dengan sempurna di wajah Kia. Ia tidak terlalu menyukai Maya. Entah ada apa dengan gadis kecil itu. Maya duduk di dekat Kia. Menatap anak itu yang menatapnya. Ia memegang perut kecilnya. Maya seketika paham maksud anak kecil di depannya. "Kamu lapar? Mau makan bakso gak? Tante buat bakso tadi, loh." Kia mengangguk kecil. Terlihat lesu. Maya sedikit cemas. "Oke, kamu tunggu di sini, Tante ambilin dulu ya." Maya menghela napasnya pelan. Ia tidak biasanya mendapati anak kecil seperti itu padanya. Biasanya akan langsung akrab, Kia berbeda dari anak kecil yang biasa ia temui. "Tadaa, satu mangkuk bakso spesial sudah siap." Maya mengerutkan keningnya. "Loh, kenapa mukanya seperti itu?" "Aku kangen Mama kalau liat boneka ini." "Mama? Kamu mau ketemu mama kamu?" Kia menoleh dengan penuh harap bisa bertemu dengan Mamanya. Maya menangkup wajah imut itu. "Siapa nama Mama kamu? Apa ada foto atau sosial medianya?" Kia menggeleng. Ia membalikkan badannya. "Tante juga sama seperti Ayah! Tidak membiarkanku ketemu dengan Mama!" Anak kecil itu meneteskan air mata. Kenangan bergulir dalam lingkaran kepalanya. "Loh, kenapa Ayah kamu gak biarin?" "Tante jangan banyak tanya!" Maya terkekeh. Nampaknya anak itu sangat merindukan Mamanya. Apalah daya, Andre pun cukup sakit hati untuk mempertemukan lagi putrinya karena semua terjadi karena dirinya. Maya tentu tidak tahu menahu alasan atau sebab ia harus berpisah dengan istrinya. "Duh, baksonya dingin. Kasian kalau kamu gak makan. Bagaimana kalau tante bantu bujuk Ayah kamu buat ketemuin kamu sama Mama kamu?" Maya tersenyum saat Kia berbalik dengan cepat padanya. Anak-anak memang harus dibujuk dan dibujuk karena sifat emosionalnya yang masih tidak terkontrol dengan baik. "Janji?" Maya mengangguk. Kia menatap jari kelingking Maya yang tertuju padanya. "Ini namanya janji kelingking, tautkan jari kelingkingmu juga di jari Tante." Kia mengikuti instruksi Maya, setelahnya ia menatap Maya dengan tatapan heran. "Terus gimana?" "Kalau sudah janji kelingking seperti ini, artinya tidak boleh diingkari, kan? Kalau begitu kamu makan dulu, ya." "Oke, Tante janji sama aku." Tautan jari mereka terlepas. Kia dengan lahap menyantap satu mangkuk bakso buatan Maya dengan nasi porsi kecil di sampingnya pun ikut ia lahap. Ah, dia ternyata kelaparan. "Oke, Tante mau ke kamar dulu. Ambil ponsel." Kia mengangguk saja tanpa berkata apa-apa. Begitu selesai mengambil ponselnya, Maya kembali ke ruang tengah dimana anak kecil itu berada. Namun, pemandangan sempurna ia dapatkan. Kia tertidur di sofa dengan sendok yang masih ada di tangannya. Maya melangkah dengan hati-hati agar tak membangunkan Kia. "Kamu manis sekali. Aku akan membantumu bertemu dengan Mamamu." Maya mengecup pelan pipi gembul itu. Kia terlelap dalam mimpinya. Mungkin sudah bermimpi bertemu Sarah -- Mamanya. "Semoga kamu bertemu dengan Mamamu di mimpi dulu, Sayang." Sementara itu, di kantor Hasan dan Andre baru saja selesai mengunjungi beberapa ruangan yang ada di kantor milik Zain. "Bagaimana? Kamu suka?" Andre mengedikkan bahunya. "Aneh jika gue jawab gak suka." "Jadi, lo langsung masuk jadi manager aja, oke?" Andre menghela napas. "Ini gak masalah, kan?" tanya Andre cemas. Ia sebenarnya dari dulu mencegah ini terjadi, tapi sebelum ia berpisah dengan Sarah. Ia memutuskan agar bisa membuat kehidupan putrinya jauh lebih baik lagi darinya. "Lo tenang aja. gue udah atur semuanya." "Siap, bos." "Oke, hari ini lo masuk aja dulu ke ruangan lo. Tata semuanya semau lo. Gue cabut dulu, ada rapat dua puluh menit lagi." Andre pun berjalan ke arah ruangannya sendiri. Krekk! Pintu sudah ia buka. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa menciun bau ruangan dengan pangkat manager. Meski bukan dengan cara seperti ini yang ia mau. "Sarah, seharusnya kamu tidak berbuat seperti itu." Di tempat lain, Jinah yang duduk diam cemas menunggu Sarah sadar setelah beberapa kali ia hirupkan bau minyak kayu putih agar bisa sadar. Zain sudah pergi karena ada urusan pekerjaan. Sementara Diana sedang menerima tamu penting untuk kepentingan bisnisnya. "Sarah, aku berharap sesuatu yang lebih dari yang kuketahui ini." Sarah mengerjapkan matanya menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke retinanya. Ditatapnya Jinah yang tengah menatap sambil mengernyitkan dahinya. "Sarah, kenapa kamu berbohong?" Sarah ikut mengernyitkan keningnya. Ia memperbaiki posisinya menjadi duduk menghadap Jinah. "Maksud Ibu apa?" Jinah menggenggam tangan Sarah. Mendekatkan wajahnya pada putrinya itu. "Kamu hamil anaknya Zain?" "Ibu!" gertak Sarah marah. Ia baru saja sadar dan disuguhi pertanyaan yang tidak memgenakkan. Sungguh hal di luar dugaan Sarah. "Bagaimana bisa ibu tahu aku hamil?" Sarah malah kembali bertanya dalam hatinya. "Kamu jangan berbohong. Ibu bisa tahu dan tidak mungkin Ibu salah, kamu hamil kan?" Jinah berbisik sambil menengok ke belakang agar tidak ada yang menyimak pembicaraan mereka. Terutama Jinah berpikir Sarah mengandung anak Zain. "Ibu... aku... tidak tahu harus mengatakan ini pada siapa." Jinah malah tersenyum. Sarah memejamkan matanya. Kehidupannya sudah berantakan. "Ini kabar yang bagus untuk Zain? Kan?" "Ibu ... apa aku serendah itu di matamu?" Sarah mulai pasrah. Ia menghela napasnya ketika Jinah menatap tajam padanya. "Maksud kamu apa?" Sarah menoleh dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Ibu bagaimana bisa ini anak Zain, Bu? Bagaimana bisa ibu berpikir seperti itu!" Satu tetes air mata Sarah menetes. Ia menghapus air matanya dan mengambil tangan Ibunya, kemudian ia letakkan di perutnya. "Ini cucu ibu. Anakku dan Andre." Jinah membisu seketika. Dunianya seakan terputar. Harapannya putus. Ia benar berharap anak dalam kandungan Sarah itu adalah anaknya Zain, calon menantunya. "Aku dan Zain belum menikah, Bu. Aku mengingatkan saja, takut Ibu lupa." Jinah menggelengkan kepalanya."Dia tidak boleh lahir." "Ibu bilang apa?" Hati Sarah tertohok sedalam-dalamnya. Ibunya ini berpikir apa, Sarah tidak paham. "Ibu tidak berniat menyuruh untuk aborsi, kan, Bu?" tanya Sarah hati-hati. "Tidak ada pilihan lain, bagaimana jika Zain mengetahuinya?" "Ini sudah konsekuensinya! Dia mendekatiku di saat aku sudah menikah, Bu. Bahkan aku juga memiliki anak! Apa salah jika kami membesarkan anak ini!" "Kami siapa? Zain maksudmu? Apa dia akan menerimanya? Dia mungkin saja membuang kalian!" Sarah membuang wajahnya ke samping. "Lalu kalau demikian, aku ingin tetap bersama dengan anakku. Cukup Kia yang terlepas dari genggamanku, Bu." Sarah menangis tanpa suara. Ia akan berjuang untuk melindungi hal anaknya untuk hidup. Bagaimana pun caranya. Ia harus bisa. "Kamu berpikir ini mudah, Sarah?" "Apa Ibu berpikir ini mudah bagiku? Merelakan suamiku dan anakku hanya karena Ibu. Aku melakukan ini hanya untukmu... tolong... biarkan anak ini hidup. Biarkan aku... kali ini merawat anakku tanpa harus melepasnya lagi." Jinah terhenyak. Sesaat pikirannya tertuju pada alasan ia mendesak Sarah untuk berpisah dari Andre. "Ibu juga bingung, Sarah." *** Matahari sebentar lagi akan tenggelam, langkah kaki itu terburu-buru memasuki pagar rumah. Dua lelaki dewasa itu terlihat rapi dengan setelan jasnya. "Assalamu'alaikum! May! Maya!" Tidak ada jawaban. Hasan dan Andre saling bertatapan. "Maya! May!" Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam rumah padahal Andre juga sudah berusaha mengetok pintu rumah Maya. "Coba aku telfon dia dulu, Ndre." Beberapa menit dan sudah beberapa kali Hasan mencoba menghubungi Maya, tetapi tidak diangkat juga. "Kenapa?" tanya Andre "Tidak diangkat, coba ketok lagi." Andre mulai resah. Ia tidak pernah menitipkan anaknya pada siapa pun, terlebih Maya, ia tidak mengenal baik wanita itu seperti apa. Namun, karena Hasan mempercayainya, ia pun hanya bisa ikut percaya. "Ah, aku ingat sesuatu. Ayo kita ke sana, mungkin saja mereka ada di sana." "Dimana?" tanya Andre heran. "Tante!" Di satu sisi, Kia memanggil Maya sambil berlari padanya. Mereka sedang berada di halaman bermain anak, tak jauh dari rumahnya. "Ada apa?" "Aku mau naik ayunan!" Maya menoleh dan melihat ke arah ayunan berada. "Kamu mau didorong?" Kia mengangguk. Kia mengaku bosan tadi di rumah Maya, jadi Maya memutuskan untuk membawanya ke sini, lagi pula dekat dari rumahnya. "Okay, pegangan yang erat, ya." "Satu." "Dua." "Tiga." Maya mulai mendorong Kia yang duduk di ayunan. Maya senang melihat anak itu kembali ceria. Tak lama, seseorang terlihat dari jauh oleh pandangan Maya. "Zain? Astaga aku lupa membawa ponselku!" ujar Maya cemas. Ia sudah berpikir Zain ke sini karena ia tidak ada di rumah. "Sayang, Ayah kamu udah datang." Kia mengikuti arah tunjuk Maya. Di sana, Andre berlari ke arah mereka. Dengan cepat ia memeluk putri kecil kesayangannya. "Apa kamu merindukan Ayah?" Kia menggeleng. Zain dan Maya saling bertatapan. Andre menaikkan sebelah alisnya. "Padahal Ayah selalu merindukanmu." "Aku rindu Mama." Senyuman di wajah Andre seketika luntur. Ia menghela napas melihat harapan terlihat dari binaran mata Kia. "Kita pulang dulu." Kali ini Kia menurut. Ia mengambil genggaman Ayahnya tanpa membantah. Andre menatap Maya. "Terima kasih untuk hari ini, maaf jika dia merepotkanmu." Maya tak berkedip menatap Andre hingga Andre mengode ke arah Zain. "Yah?" ucap Maya terhentak saat Zain menyenggolnya. "Ah, maaf. Aku melamun." Maya tiba-tiba saja memerah di kedua pipinya. Zain terkekeh. "Kamu kepanasan? Udah mau malam padahal." Maya dengan cepat menggeleng. "Enggak, aku belum mandi, sih, hehe," elaknya. "Kami pulang duluan kalau gitu." Andre kembali tersenyum tipis pada Maya, kemudian berbalik sambil menggendong Kia. "Bye, May!" Maya melambaikan tangannya singkat. Ia memegang kedua pipinya. "Ah, masa gitu aja udah memerah, sih?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN