Bertemu Maya

1520 Kata
Chapter 4: Seorang Gadis berjalan sendiri di tengah ramainya mall. Kakinya tak tentu arah ingin berjalan kemana hingga membawanya melihat permainan area untuk anak-anak. "Jadi orang dewasa ternyata tidak semudah yang aku mau saat masih kecil." Gadis itu menata jilbabnya yang sempat naik sedikit untuk menutupi permukaan da*danya. "Ah, gadis kecil itu imut sekali." Tepat saat kaki gadis kecil yang ia perhatikan meleset, dengan cepat kakinya berlari begitu kencang. "Kia!" "Awh!" ringisnya begitu ia telentang sambil mendekap Gadis kecil itu, Kia. Andre langsung mengambil alih Kia yang berkaca-kaca ingin menangis. "Tenang sayang, gak apa. Apa ada yang sakit?" Kia menangis dalam pelukan Andre. Sementara Hasan menatap wanita yang memegang sikutnya yang terlihat dari raut wajahnya kesakitan. Ia terlihat mengenalinya. "Apa anda terluka?" Hasan membulatkan matanya ketika Wanita itu menoleh padanya. "Maya?" "Kak Hasan?" Senyuman itu langsung mengembang diantara keduanya. Andre menjauh untuk menenangkan Kia yang sedang menangis. "Loh, kamu kenapa ada di sini?" Maya menaikkan bahunya dengan santai. "Nganggur." "Lo mau tinggal lagi di rumah gue?" "Enggak, aku cukup tau diri." Hasan hanya mangut-mangut paham. "Oh, iya. Anak kecil tadi itu juga anak dari sahabat gua. Namanya Kia." Mata Maya mencari ke sudut dimana Andre menenangkan anak kecil yang ia selamatkan tadi. "Dia kayak masih muda banget," komentar Maya saat melihat Andre. Hasanmenoleh sebentar, lalu kembali berhadapan dengan Maya. "Dia baru saja bercerai." Maya spontan menutup mulutnya. "Oh, Ya Allah, bagaimana dengan anaknya?" Hasan menggeleng. "Istrinya ketahuan selingkuh. Ceritanya panjang, lo kenalan dulu sama dia." "Ah, enggak. Titipin salam aja sama Kia, aku mau balik dulu." "Oke." Hasan menatap teman wanitanya itu melangkah dengan cepat. Ia kembali berjalan ke tempat Andre dan Kia berada. "Gak ada yang sakit, kan?" Kia menggeleng. "Andai Mama ada di sini, dia pasti yang nyelamatin aku kayak tadi." Andre seketika tersadar belum mengucapkan Terima kasih pada Maya yang telah menyelamatkan Kia. "Dia dimana, San? Kalian kelihatan deket?" Andre menatap jahil pada Hasan membuat Hasan kembali terkekeh. "Sotoy, gue udah ada tunangan. Dia teman gue, makanya keliatan akrab," balas Hasan santai. "Kalau gitu kita ke tempat lain aja deh." "Eskrim! Aku mau beli itu, Yah!" rengek Kia pada Andre tiba-tiba. "Oke, Kia mau makan eskrim?" Kia mengangguk mantap. "Kalau gitu sini om gendong, soalnya kita harus naik ke lantai atas lagi, ada eskrim enak dijual di sana, gimana?" "Aku mau!" "Okay! Lets go girl!" *** Entah mengapa keringat di pelipis Sarah tidak berhenti meluncur sehingga membuatnya semakin gelisah. Tatapan hangat dari Ibunya Zain yang terlihat seperti wajah campuran barat. Jinah malah sangat senang bisa bertemu langsung dengan Ibunya Zain. "I'm coming, mom. Muach!" Zain datang dengan beberapa bawaan entah apa itu. Setelahnya, ia duduk di samping Ibunya, tepat di depan Sarah. "Dia Sarah?" Logat kebulean Ibunya bahkan terdengar tak asing. Sarah meneguk salivanya. Memegang perut datanya yang berisi nyawa tak bersalah yang harus menanggung beban. "Dia cantik, kan?" Diana, Ibunya Zain mengangguk sambil tersenyum pada Sarah yang membalas senyumnya dengan kaku. Jinah menyikut pergelangan Sarah, "kenalin diri kamu," bisik Jinah pada putrinya yang sedang dilanda dilema besar bergejolak dalam hatinya. "Aku Sarah, Tan." "Sarah? Nama cantik, orangnya juga cantik." "Dia juga bisa jadi menantu yang baik, Mom," sahut Zain sambil menatap dalam dirinya. "Mom tahu itu, Zain. Tidakkah kamu menyangka bisa mendapatkan dia sebagai calon istrimu?" Diana nampak kagum dengan perawakan Sarah. Hal itu semakin membuat Jinah kegirangan. Diana beralih pada Jinah. "Anda Ibunya Sarah?" "Iya, saya Ibunya, jeng." Diana terkekeh saat Jinah menyebutkan kata 'Jeng' padanya. "Jeng?" "Biar kita semakin akrab, jadi harus panggil Jeng. Iya, kan, Nak Zain?" Zain mengangguk. Ia pun beralih menatap Sarah. "Sarah, dia baru saja bercerai, Mom. Aku sudah menceritakan semuanya, kan?" Diana bertopang dagu. Ditatapnya kembali Sarah dengan intens. Kacamatanya ia lepas dan kembali menanyakan satu hal pada Sarah yang membuat semua orang terdiam. "Kamu ... benar sudah lepas dari hubungan dengan mantan suamimu? Saya hanya tidak mau anak saya sampai menikah dia kali hanya karena ia menikah dengan seorang janda muda." Sarah meneguk salivanya. Jantungnya berdegup cepat. Semua pikirannya terfokus pada janin yang sedang ia kandung. Anaknya Andre, mantan suami yang dibicarakan oleh calon mertua barunya. "Tidak, Tan. Kami sudah lama tidak memiliki hubungan yang baik." "Karena uang?" Lidah Sarah kelu dan kaku untuk kembali menjawab. Ia menoleh ke arah Jinah dengan gugup. "Tentu saja tidak, Mom. Mom bicara apa, sih." Senyum pun kembali hadir di wajah Diana yang tadi penuh mengintimidasi ke arah Sarah yang sekarang tertunduk lesu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, bahkan rasa ingin mual ia tahan. "Kita makan siang dulu." Zain bertatapan dengan Sarah. Senyum kemenangan terpancar di wajah sejuta pesona Zain. "Apa yang harus aku lakukan?" Sarah membatin. Tekanan-tekanan ini membuat ia hampir stress. Ia bertahan untuk calon buah hatinya. *** "Ayah mau kemana?" Andre berjongkok di hadapan Kia yang matanya sudah berkaca-kaca. Ia mengelus rambut halus putrinya dengan sayang. "Ayah mau kerja sama om Hasan. Kami di sini aja dulu. Ayah bakal pulang kalau kerjaannya sudah selesai." Kia menggeleng. "Aku mau ikut!" Andre menghela napasnya. Biasanya Sarah yang mengurus Kia agar tidak merengek ketika ia berangkat kerja. "Aku tidak mau! Aku mau ikut!" Kia mulai menangis. Andre menatap Hasan yang mengernyitkan keningnya. "Dia selalu seperti ini?" Kia mulai memeluk Andre erat. Tak membiarkan Ayahnya itu pergi. "Mama mana!" Andre mulai merasa kewalahan dengan Kia yang terus mencari Sarah di segala situasi. Ia menjauhkan badan Kia darinya, sembari memegang kedua pundaknya. "Kia dengar Ayah," ucap Andre sebisa mungkin dengan nada lembut kan membujuk. Tangannya mengusap air mata putrinya. "Ayah ini juga Mama kamu sekarang. Jangan cari sesuatu yang tidak ada. Kamu jadi anak yang penurut di sini sama Mbak." Kia kembali menggeleng. "Enggak! Mau sama Mama!" "KIA!" "Ndre!" tegur Hasan yang tadinya hanya menyimak karena Andre sudah mulai kesal. Ia paham perasaan Andre. "Kia, kamu ikut sama Om aja dulu." "Loh, San?" "Kita bawa dia ke rumah teman aku, percaya aja sama aku." Kia langsung masuk ke dalam rengkuhan Hasan dan digendong. Hasan memiliki ide untuk membawa Kia ke rumah seseorang yang amat ia percaya. *** "Ada apa? Eh, Hai!" sapa Maya setelah membuka pintu rumahnya dan mendapati Hasan bersama dengan anak kecil yang ia selamatkan saat pagi hari. Kia mundur saat Maya maju padanya. "May, aku mau minta tolong. Aku bisa nitip dia ke kamu? Boleh?" Maya membuka mulutnya sedikit. Andre tersenyum pada Maya membuat hal yang berbeda dirasakan Maya. "Dia Ayahnya, Andre." "Halo, Aku Maya, Kak." Kia mengintip ke arah pintu dan melihat ada boneka besar di dalam. "Kia!" Maya menoleh dan tersenyum melihat Kia memegang boneka besar miliknya yang tak sengaja ia simpan di depan pintu tadi karena belum merapikan rumahnya. Maklum, baru pindah ke Bandung lagi. "Aku sih boleh aja, tapi Ayahnya gak keberatan?" "Saya mohon kerja samanya, Maya." Maya beralih menatap Hasan yang menyengir padanya, "Iya, apa dia tidak punya babysitter dulu? Atau pengasuh gitu?" "Ada, di rumah ada Mbak, tapi dia ngotot mau ikut." "Its okay." Andre menengok ke arah Kia yang bermain di dalam rumah Maya. "Rumah kamu cantik. Dia suka pasti, saya percayakan anak saya sama kamu." "Siap." Andre pun berbalik, mengikuti Hasan yang sudah berjalan lebih dulu. "Baiklah! Mari kita bersenang-senang anak kecil." Maya --- Gadis yang sebentar lagi beranjak umur 20 tahun itu merasa senang dengan kehadiran Kia. *** "Huekk! Huekk!" Tok! Tok! Tok! Zain cemas dengan keadaan Sarah yang tiba-tiba saja mual saat mereka tengah menyantap makan siang mereka. "Sarah, are u okay?" Di dalam toilet, Sarah menatap pantulan wajahnya di cermin. Pucat. "Kapan waktu yang tepat untuk mengatakan pada mereka, Sayang?" Sarah menatap perut datanya sambil memegangnya dengan penuh tekanan bathin dan pikiran yang saling bertabrakan. "Sarah!" "Iya! Sebentar!" Sarah membersihkan sisa muntahannya. Ia pun keluar agar Zain tidak curiga. "Kamu kenapa? Masuk angin?" tanya Zain dengan begitu khawatir. Sarah menggeleng. "Mungkin aku salah makan aja semalam. Gak apa, kok." "Serius, kamu baikan aja?" "Tidak," sahut suara hati Sarah. "Iya," balas Sarah singkat dan tersenyum pada Zain. "Ayo ke rumah sakit." Sarah membulatkan matanya. "Enggak!" Jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia berharap Zain tidak akan memaksanya ke rumah sakit. Ia pasti akan memberitahu hal ini, tapi tidak sekarang. Belum tepat menurutnya. "Sarah, kamu pucat banget. Aku cemas." Sarah menggeleng. Namun, kepalanya kembali berdenyut cukup kuat. Tangannya pun memegang kepalanya yang terasa pusing. Sedetik kemudian, Sarah ambruk dalam rengkuhan Zain. "Sarah! Sarah!" Zain bergegas menggendong Sarah dan membawanya ke kamarnya. "Ibu! Ke sini! Sarah pingsan!" Zain segera menelfon dokter untuk memeriksa keadaan Sarah. Tak lama kemudian Diana dan Jinah datang dengan berlarian. "Ada apa dengan Sarah?" Zain menutup sambungan telfonnya. "Dia katanya salah makan, makanya muntah-muntah. Dia makan apa semalam, Bu?" tanyanya ke Jinah. Jinah berpikir sejenak, sembari cemas melihat Sarah yang tiba-tiba pingsan. "Dia hanya makan makanan yang biasa dia makan. Setahu saya, karena semalam dia gak keluar dari kamarnya." Jinah memeriksa keadaan putrinya sendiri. Kebetulan ia pernah menjadi bidan. Saat meraba denyut jadi di tangan Sarah. Jinah terkejut. "Ini tidak mungkin, aku pasti salah." "Ada apa, Bu?" "Kamu tidak usah memghui dokter." Zain mengernyitkan keningnya. "Kenapa? Dia pingsan, siapa tahu ada kondisi serius," ujar Diana ikut cemas. Jinah sendiri cemas dengan metode pemeriksaannya. Ia benar berharap apa yang ia rasakan bukan hal yang benar terjadi pada putrinya. "Tidak mungkin Sarah hamil," batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN