Mandala berhenti sejenak melihat Sinta yang duduk manis di meja kerja yang sebelumnya milik Anggun. Dia belum terbiasa. Biasanya yang akan dia lihat pertama kali begitu memasuki ruangannya adalah Anggun, tapi sekarang sudah bukan dia lagi, dan itu rasanya aneh. Mandala berdehem untuk mengusir perasaan aneh yang mulai merayapi dadanya dan memilih menyapa sekretaris barunya. “Pagi, Sin.” “Selamat pagi, Pak.” Jawab Sinta dengan ekspresi senang yang tak ditutup-tutupi lagi. Mandala menghela nafas karena keadaan yang begitu berbanding terbalik. Sinta yang mampu melebarkan senyumnya karena baru saja mendapat posisi baru yang tentunya bergaji besar, sedangkan Mandala yang bahkan tak bisa mengangkat sudut bibirnya sedikitpun karena baru saja kehilangan sekretaris spesialnya. Mandala duduk di

