Dengan langkah lebar penuh kemarahan, Diana memasuki rumah mertuanya. Salah satu pembantu rumah tangga mereka memberitahu jika mertuanya sedang ada di teras samping. Tanpa berfikir panjang Diana langsung ke teras samping untuk menemui mertuanya itu. Dia ada urusan. Urusan yang sangat penting. “Mama harus bantu aku.” Kata Diana tanpa menjelaskan apapun. Dia menatap Mama mertuanya dengan nafas menggebu penuh amarah. Ibu Doni kebetulan sedang duduk dengan secangkir teh di tangan kanannya. Dia mengerutkan kening melihat menantunya datang tanpa pemberitahuan. Sangat tidak biasa. “Di, kamu dateng? Tumben...” Kata perempuan berstatus ibu Doni itu. Dengan anggun dia meletakkan cangkir tehnya ke meja bundar kecil yang ada di sebelahnya. “Mama harus bantu aku.” Ulang Diana lagi dengan penekanan

