SEANDAINYA...

1709 Kata
“Mama ini kalo ngomong dijaga dong. Kalo Anggun denger gimana? Kan jadi nggak enak.” Mandala mengomel. Mamanya mengangkat bahu dengan tak acuh. “Ya dienak-enakkin aja. Siapa tahu abis denger itu dia langsung jatuh cinta sama kamu.” Mana mungkin cewek sebaik Anggun bakal jatuh cinta sama gue? Ngimpi! Mandala memutar bola matanya pertanda tidak mau ambil pusing dengan semua perkataan Mamanya. Mandala tahu apa yang ada di pikiran Mamanya, jadi kalau dia menanggapinya dengan terbuka, pasti drama Mamanya akan berlanjut. “Mama ngapain ke sini? Tumben banget.” “Ya ampun, Mama lupa!” Mamanya Mandala menepuk dahinya lalu nyengir. “Belakangan ini Mama dapet teror.” “Hah?” Mandala mengernyit bingung. Ini asli atau ungkapan? Batinnya. ”Siapa yang neror Mama?” “Perempuan.” “Mama kenal perempuan itu?” “Awalnya Mama nggak kenal, tapi dia ngenalin diri sebagai pacar kamu. Namanya Monna, iya kan?” Mendengar nama perempuan itu kepala Mandala langsung berdenyut nyeri. Dia pikir perempuan itu sudah menyerah. “Nggak usah Mama ladenin, bisa? Dia nggak penting kok.” “Mama juga kepengennya nggak ngeladenin, itu urusan pribadi kamu. Tapi udah tiga hari ini dia dateng terus dan minta Mama supaya ngomong ke kamu, yah harapannya mungkin kamu mau balikkan lagi sama dia.” “Itu nggak akan pernah terjadi. Bahkan dalam mimpi pun aku nggak sudi balikkan sama dia, Ma.” Mandala bersikeras. Dia sudah jijik pada perempuan yang rela mengobral tubuhnya hanya untuk kepuasan. Dan Monna melakukan itu di belakangnya. “Memangnya kenapa sih? Udah seharusnya kamu nikah, jangan nunda-nunda terus dong. Mama bingung kalo kamu kayak gini terus.” “Dia nggak ngomong kenapa aku mutusin dia?” Mama Mandala menggeleng. “Mama pengen aku nikah sama perempuan yang nggak baik-baik?” “Nggak baiknya itu yang seperti apa sih, nak? Yang namanya manusia wajar melakukan kesalahan. Tapi ya nggak bisa juga setelah itu kamu cap dia nggak baik.” Mandala berkacak pinggang karena bingung bagaimana menjelaskan hal yang tak senonoh secara wajar ke Mamanya. Baik dia maupun Mamanya memang sudah dewasa, tapi bukan berarti bebas membicarakan hal-hal tabu secara gamblang. “Monna berselingkuh, Ma. Dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Mandala menjeda untuk menyusun kalimat selanjutnya. “Waktu itu aku ke Malang untuk melamar dia. Ya, semacam lamaran kejutan. Tapi ternyata akulah yang dibuat terkejut dengan perselingkuhan dia yang di depan mata.” Mandala terus mengatakan tidak masalah, tapi dadanya selalu sesak setiap teringat momen itu. “Jadi kalo Mama tanya kenapa aku dan dia nggak bisa bersama lagi –jawabannya udah jelas. Aku nggak bisa bersama perempuan yang seperti itu.” “Dan selingkuh yang kamu maksud adalah yang seperti apa? Kalo sekedar jalan bareng cowok –bisa jadi dia memang kenalannya Monna kan?” “Dia...” Mandala memijat pelipisnya. Bingung apakah harus membongkar aib mantan pacarnya atau tidak. “Aku melihat dia dan laki-laki itu... seperti itu... yah, hubungan orang dewasa. Aku yakin Mama tahu.” Mamanya Mandala langsung menghela napas. Tak usah di jelaskan secara gamblang pun dia sudah tahu. “Beberapa hari lalu aku ke Malang untuk melamar dia. Aku sengaja nggak ngomong karena ya niatnya untuk kejutan. Tapi kayaknya akulah yang dibuat terkejut karena mendapati dia seperti itu dengan laki-laki lain.” “Kamu sama Monna juga pernah seperti itu kan?” Mandala langsung tersedak salivanya sendiri mendengar dugaan Mamanya yang sangat tepat. Dengan berat hati dia mengangguk. Dia berani berbuat, berarti harus berani mengakuinya kan? Toh hanya mengakuinya. “Yah, pas awal-awal kami menjalin hubungan aku dan Monna memang pernah melakukannya. Setelah itu nggak pernah lagi. Tapi aku bukan orang pertama yang ngerusak dia, Ma.” “Pertama atau bukan, tapi kamu tetap berkontribusi merusak dia, Mandala. Sadar nggak kamu ini?” Dengan berat hati Mandala mengakuinya dalam hati. Yang dikatakan Mamanya cukup benar meskipun menohok. “Aku sadar, Ma. Tapi kan aku nggak seperti laki-laki dia yang sebelumnya, yang memang hanya mau merusak dia. Aku pikir kita cocok, makanya setelah itu aku mencoba serius. Aku bahkan berencana menikahi dia. Tapi aku malah diselingkuhi seperti ini.” “Inilah yang akan kamu dapatkan kalo kamu memulai hubungan dengan cara seperti itu.” Mandala berkacak pinggang mendengar perkataan Mamanya yang benar-benar menusuk. Mamanya mungkin terdengar asyik untuk ibu-ibu lain, tapi di beberapa kondisi seperti inilah sosok Mamanya. Kalimatnya tepat dan pedas dalam mengkritik semua hal buruk yang dilakukan anaknya. “Mama nggak minta kamu jadi anak laki-laki yang super alim, tapi setidaknya dewasalah dalam bertindak. Hubungan macem apa yang kamu harapkan dari perempuan macem itu? Akhir seperti apa yang kamu harapkan dari permulaan yang kayak gitu? Kamu nggak akan dapet apapun.” Mamanya Mandala menghela napas. “Mama juga nggak yang menuntut kamu untuk ngasih Mama menantu yang alim banget. Yang seperti Monna pun nggak masalah selama dia benar-benar niat berubah dan berkomitmen. Tapi dari cara kalian memulai pun udah nggak bener, jadi Mama juga yakin nggak akan ada yang bener selanjut-selanjutnya.” Mandala memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Mamanya ini... –astaga. Kenapa yang dikatakannya sejak tadi selalu tepat? Mandala jauh lebih senang Mamanya cerewet dan heboh daripada tenang namun menghanyutkan seperti ini. Gara-gara ini Mandala merasa sangat berdosa dan tidak berguna sebagai anak laki-laki di keluarganya. “Kalau udah seperti ini gimana coba menghadapinya? Monna ngotot nggak mau kamu putusin. Apa jangan-jangan dia hamil?” “Kalopun iya, itu jelas bukan anak aku, Ma. Kami jelas nggak melakukan itu beberapa bulan belakangan. Belum lagi dengan mata kepalaku sendiri yang melihat dia berhubungan badan dengan laki-laki lain belakangan ini. Aku bisa mengelak dengan bukti ini.” “Tapi dia ngototnya nggak mau putus sama kamu. Bukannya itu tanda dia mau kamu bertanggungjawab? Kalo Papamu sampe denger, habis kamu, nak.” Mandala sudah kehabisan kata-kata untuk membela diri. Semua yang Mamanya katakan sangat masuk akal. Dia sudah dewasa dan tidak seharusnya masih bermain-main layaknya remaja yang baru mengenal cinta dan wanita. “Aku akan urus Monna, Ma. Aku pastiin juga dia nggak akan ngerusuhin Mama lagi.” “Berubah ya setelah ini? Bukan buat Mama kok, tapi buat diri kamu sendiri. Biar jodoh kamu enteng, nggak bikin riwet kayak sekarang.” Mungkin karena gue terlalu b******k kali ya, makanya selalu ketemu cewek yang aneh-aneh juga, pikir Mandala. “Kalo kayak gini, Mama pusing juga mau jodohin kamu, nak. Yang namanya orang tua pasti milihinnya yang baik-baik, tapi kamu malah kayak gini.” Mandala paham sekali ‘kayak gini’ yang dimaksud Mamanya. Kebetulan saja itu ibunya, jadi dijelaskan dengan begitu detail yang ujung-ujungnya melukai harga dirinya. “... yang ada malah Mama yang kasihan sama perempuannya karena dapet laki-laki yang seperti kamu. Kayak beauty and the beast!” “Ya nggak usah jodoh-jodohin kalo gitu. Kalo udah waktunya pasti juga ketemu kok.” Seloroh Mandala karena tak mau pusing dengan celotehan Mamanya yang selalu benar dan membuat Mandala semakin tertekan. Karena gemas, sang Mama memukul lengan anaknya sambil berujar, “Ya tapi kamu berubah dong! Kan nggak mungkin jodoh yang kamu harapin bakal dateng saat kamu masih amburadul kayak gini.” “Siap, Ma.” “Nanti kalo kamu udah berubah, kan enak Mama mau jodohin kamu. Kamunya bersyukur, perempuannya juga nggak merasa dirugikan. Apalagi kalo perempuannya kayak Anggun. Keajaiban banget itu.” Mata Mandala terbelalak. Kenapa Anggun dibawa-bawa lagi dalam obrolan mereka? Pikir Mandala dengan bingung. “Ma, jangan bawa-bawa Anggun, please? Dia udah nikah.” “Hah? Apa?!” Mandala memejamkan matanya. Sifat cerewet dan heboh Mamanya sudah kembali. Dan yang membuatnya kembali adalah informasi kalau Anggun yang sepertinya ditargetkan Mamanya sebagai menantu ternyata sudah menikah. Terpikirkan menikah dengan temannya saja tidak pernah, apalagi ini dengan sekretaris yang notabene-nya adalah orang baru dalam hidupnya. “Makanya gerak cepat, nak. Kalo kayak gini stock perempuan baik-baik bisa ludes karena kamu lelet!” Mama Mandala mengomel. Ini adalah bentuk pelampiasannya karena perempuan incarannya untuk dijadikan menantu sudah menikah dengan laki-laki lain. “Makanya Mama kalo nyariin ya jangan yang aneh-aneh. Dia itu udah nikah dari dua tahun lalu.” Sang ibu memutar bola matanya. “Aneh gimana sih? Anggun tuh orang baik, dan wajar orang tua nyariin jodoh anaknya ya yang baik-baik. Tipe idaman banget si Anggun itu.” Kata Mama Mandala dengan menggebu-gebu. Pupus sudah rencananya untuk mendekati Anggun. “Kok Anggun udah nikah sih? Padahal dia kelihatan masih muda banget. Orang baik sih, jadi ya yang deketin nggak main-main. Nggak kayak kamu. Udah dapetnya lama, deketnya pun lama, trus nggak jadi karena alasan ABCD.” Tambah sang ibu dengan perasaan jengkel. “Aku bakal berubah kok, Ma, beneran banget ini. Jadi Mama nggak usah khawatir dan menghujat aku terus.” “Jangan bohong ya kamu?” “Serius, Ma.” Mandala meyakinkan. Dia benar-benar akan berubah kali ini. Lagipula usianya sudah dewasa untuk terus bermain-main. Mamanya Mandala terlihat puas dengan kesungguhan yang dipancarkan dari perkataan anak laki-lakinya. Dan semoga saja itu bukan hanya untuk menghentikan celotehan sang ibu saja, melainkan memang datang dari hatinya. Tapi tetap saja ada perasaan jengkel dalam hatinya karena sudah gagal dengan target barunya, yaitu Anggun. “Seandainya Anggun itu ketemu kamu dulu, kalian pasti punya kesempatan.” Mamanya Mandala menghela napas, begitu juga dengan Mandala sendiri. Dia heran kenapa topik ini belum juga berakhir. “... ah, udahlah. Dua tahun lalu kan kamu masih sibuknya main-main. Mana mau Anggun sama laki-laki kayak kamu.” “Makanya jangan berandai-andai.” Ketus Mandala dengan kesal karena sudah tak terhitung berapa kali dia dihina selama obrolan ini oleh ibunya sendiri. “Yaudahlah, Mama pulang dulu. Terus di sini malah bikin Mama terus berandai-andai.” Mama Mandala meraih tas tangannya, mengecup kedua pipi anaknya, lalu pergi. Mandala senang Mamanya pergi, tapi kemudian dia jadi terpikirkan oleh kalimat Mamanya yang cukup menggelitik perasaannya sebagai seorang laki-laki. “Kalau gue ketemu Anggun lebih dulu dari suaminya, kira-kira akan seperti kita sekarang? Well, Anggun memang cantik dan pintar. Attitude-nya pun nggak usah diragukan lagi. Sebrengsek apapun laki-laki, pasti bakal rela berubah demi dapetin perempuan kayak Anggun. Bahkan gue pun yakin akan berubah demi dia. Seandainya itu memang terjadi, apa sekarang yang menikah dengan Anggun adalah gue? Akan seperti apa gue kalo jadi suaminya Anggun?” Mandala terkekeh penuh ironi. Pikirannya benar-benar sudah melewati batas. “Tapi sayangnya, semua itu cuma seandainya. Berkhayal memang indah banget.”    TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN