“Tumben sampe jam segini pulangnya?”
Suara itu langsung menyapanya saat Anggun membuka pintu. Anggun menatap Tesla. Perempuan itu keliatan khawatir.
“Muka lo kenapa sembab gitu? Lo nangis?”
Anggun menghela nafas pelan lalu mencoba tersenyum menenangkan. “Sedikit.”
“Nggak mungkin sembab kalo cuma sedikit. Jangan bilang lo nangisin Doni lagi?” Nada suara Tesla terdengar tidak suka.
“Belakangan ini yang sering bikin gue nangis kan memang Doni.” Jawab Anggun dengan kalem.
“Kan gue udah bilang, nggak usah mikirin Doni lagi. Mikirin Doni dan kesalahannya nggak akan ada abisnya. Malah ujung-ujungnya lo nangis kayak gini.”
Sekuat tenaga Anggun menahan emosinya agar tak terpancing perasaan sentimentil ini. Hari terus berganti dan hidupnya terus berjalan. Dia harus moving on, seperti Doni yang sudah mendapat pengganti.
“Iya, Tesla sayang, gue janji deh ini terakhir kalinya gue nangisin Doni lagi.” Kata Anggun dengan menyunggingkan sudut bibirnya agar terlihat baik-baik saja. Melihat Tesla yang mengacungkan kedua jempolnya, Anggun yakin kalau yang dia rencanakan sudah benar. Ada banyak orang yang mendukungnya.
“Eh, lo lembur kok nggak ngasih tahu gue sih, Nggun? Gue nungguin lo dari tadi tahu. Gue laper nggak ada makanan.”
Mendengar celetukan itu, Anggun langsung tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk masuk kamar.
“Ya, tadi ada sedikit pekerjaan tambahan.” Bohongnya. Setelah semua nasihat Tesla tadi, Anggun benar-benar tidak berencana memperkeruhnya dengan memberitahu perihal Doni yang mencegatnya di jalan tadi. Yang sudah berlalu ya biarlah berlalu saja, pikir Anggun.
“Bos lo itu memang jahat banget pake ngasih pekerjaan tambahan,” komentar Tesla yang Anggun meringis. Pasalnya Tesla berasumsi seperti itu setelah Anggun mengarang cerita tentang pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak ada. Ingatkan irinya untuk berbuat baik pada bosnya sebagai bentuk balas budi nanti, pikirnya.
“Ngomongin bos gue, gue jadi keinget sesuatu,” Anggun menjeda. “Lo tau nggak kalo bos gue itu apartemennya juga di sini?”
“Eh seriusan?” Mata Tesla membulat.
“Iya, gue juga baru tau ini tadi. Di basement gue ketemu dia eh ternyata apartemennya juga di sini. Lo beneran nggak tau?”
“Ya nggak tahulah. Ngapain juga gue kepoin siapa aja yang punya apartemen di sini. Kurang kerjaan banget gue kalo sampe ngelakuin itu.”
“Yah, siapa tahu lo kenal. Secara, dia tinggal di bangunan yang sama dengan lo. Dia juga single, good looking, dan mapan. Gampang ngomongnya adalah dia incaran para wanita.”
Tesla memutar bola matanya dengan jengah. Dia memang tipikal perempuan yang tidak begitu suka jika membahas laki-laki dan segala asetnya yang berharga untuk menaklukkan wanita. Mungkin karena sifat pilih-pilihnya inilah yang membuat Tesla masih menjomblo di saat Anggun sudah menikah.
“Single, good looking, dan mapan tetep aja nggak akan ngaruh kalo dia udah nyebelin kayak cerita lo yang hobinya ngasih kerjaan double. Kalo gitu mah sorry aja, gue mendingan nggak usah kenal cowok macem itu. Sengsara hidup gue nantinya.”
“Bos gue nggak seburuk itu kok. Yah, dia emang menyebalkan sih, tapi sisi kemanusiaannya masih ada dibandingkan orang-orang yang selama ini gue kira baik.”
Anggun termenung, begitu juga dengan Tesla yang langsung sadar siapa manusia yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Tesla langsung berdehem untuk menarik Anggun dari lamunan yang bisa membuat Anggun semakin sedih.
“Emang dia tinggal di lantai berapa sih? Penasaran gue sama laki-laki yang lo puji-puji sampe kayak gini.” Tanya Tesla dengan nada seriang mungkin.
“Lantai duapuluh tujuh.”
“Duapuluh tujuh?” Tesla mengulang dengan agak terkejut. Matanya membulat tak percaya dan Anggun mengangguk kaku mendapati ekspresi berlebihan yang lebay khas Tesla. “Dia horang kaya banget ya, Nggun?”
“Yaaa dia bos gue, dan perusahaan itu emang punya dia sih, jadi yaaahh,” Anggun pun kebingungan memilih kalimat untuk mendeskripsikan sosok bosnya. “Simpel ngomongnya dia memang bos dari semua bos.” Tambah Anggun dengan cengiran.
“Ya pantes kalo gitu. Untuk orang setajir dia pasti apartemen ini cuma secuil investasi. Horang kaya mah beda.”
“Tapi kan apartemen kalian satu gedung, berarti lo horang kaya juga dong, Tes?” goda Anggun.
“Beda, Nggun. Lantai dua puluh sampai tiga puluh tuh lantai yang eksklusif banget. Harganya juga beda banget sama yang lantai di bawahnya.” Tesla menerangkan dengan gemas. “Gue yakin sih pasti bos lo itu bayar kontan buat beli apartemen itu. Beda sama kaum-kaum gue yang masih nyicil.”
Anggun menyikut siku Tesla yang sedang bersikap sok dramatis. “Nggak usah lebay deh. Yang penting ada rumah buat pulang udah syukur banget. Lo nggak liat betapa bingungnya gue mau ke mana kalo nggak ada lo? Jadi gelandangan gue pasti, Tes.”
“Jangan gitu dong ngomongnya. Gue terharu nih,” Tesla memasang ekspresi terharu yang dibuat-dibuat yang membuat Anggun jijik. Lalu Tesla memasang memicingkan matanya ke arah Anggun setelah menyadari sesuatu. “Kok malem ini penilaian lo tentang bos lo itu berubah sih, Nggun? Padahal kemaren lo menghujat dia mati-matian karena dia nyebelin.”
“Hah?”
“Trus kok lo tahu sih apartemen dia di lantai duapuluh tujuh padahal kalian cuma ketemu di basement? Okay-lah kalian say hi sebagai atasan dan bawahan, tapi perlu ya sampe tuker-tuker informasi sedetail itu?”
Anggun gelagapan. Ada cerita sedih di balik fakta yang sebenarnya, tapi ekspresi menggoda dari Tesla membuyarkan momen sedih tersebut. Anggun langsung salah tingkah karena bingung harus menjawabnya seperti apa.
“Otak lo nggak usah mikir yang aneh-aneh sih, Tes? Nggak ada apapun antara gue dan Pak Mandala. Itu tuh ya... cuma kebetulan pokoknya!”
“Emang gue mikir apaan? Nggak usah sok tahu ya, Nggun,” Tesla semakin gencar menggodai Anggun. “Iya, iya lo kalian memang nggak ada apa-apa. Gue percaya kok, jadi nggak usah salting gitu.” Imbuh Tesla dengan cengiran lebar yang membuat Anggun langsung menutup wajahnya sendiri karena malu.
Gue kayak ABG aja sih, batin Anggun frustasi.
***
“Nggun, berkas yang buat meeting saya nanti mana? Kok saya belum lihat sama sekali sih pagi ini.”
Anggun memejamkan matanya menahan lelah pikiran yang sudah bercokol karena sosok Mandala Adyatama alias bosnya yang tiga hari ini membuat Anggun emosi terus. Pasalnya bosnya ini terus memberi Anggun pekerjaan segunung dengan waktu yang mepet terus. Belum lagi dengan caranya menagih yang terkesan bossy sekali.
“Sudah saya kerjakan kok, Pak. Tapi kan Bapak dari tadi ngasih saya tugas banyak banget dan semuanya diburu-buru. Jadi ya saya bingung mau ngerjain yang mana.”
“Udah sini berkasnya dulu. Mau saya baca soalnya. Yang lagi kamu kerjain ini ditinggal dulu nggak apa-apa.”
“Bentar, Pak, saya print dulu.”
“Buruan ya, Nggun.”
Anggun bangkit dari duduknya dengan rasa jengkel yang sudah diubun-ubun. Semoga saja kepalanya nggak berasap karena kelakuan bosnnya yang semena-mena. Beberapa menit kemudian Anggun kembali berdiri di depan Mandala dengan bangga.
“Ini, Pak. Silakan dibaca dulu.” Kata Anggun dengan penuh penekanan. Setelah dipekerjakan bak pekerja Romusha dan Anggun masih bisa menyelesaikannya dengan baik sesuai tenggang waktu, bukankah Anggun bisa berbangga diri?
Mandala membuka lembar per lembar secara sekilas, kemudian menutupnya dan menatap Anggun dengan mantap. “Ayo pergi.”
“Hah?” Anggun tertegun. “Pergi ke mana, Pak?”
“Ya meeting-lah. Memangnya mau ke mana lagi coba kalau bukan meeting?”
“Trus... ini... kerjaan yang Bapak kasih tadi gimana? Katanya nanti siang harus udah selesai?”
“Itu sebenernya nggak begitu deadline kok, Nggun. Cuma ya kamu keliatan longgar aja makanya saya kasih kerjaan itu.” Kata Mandala dengan enteng. “Ya udah ayo pergi. Jangan sampe telat. Hilang harga diri saya kalo kita telat.”
Anggun terdiam untuk mencerna setiap kalimat Mandala yang begitu mengguncang jiwanya. Jadi sejak tadi dia bekerja keras padahal itu bukan deadline yang buru-buru banget? Mandala ini... astaga!
Tadi dia bilang gue keliatan longgar? Pengen rasanya gue geplak kepalanya si Mandala-Mandala itu biar longgar sekalian!
***
Anggun menyesal –sangat-sangat menyesal- karena sudah memuji bosanya beberapa hari lalu. Malam itu Pak Mandala sepertinya sedang kesambet setan lokal makanya bisa bersimpati seperti itu. Setelah pergi dari tempat itu? Setannya pergi, sifatnya menyebalkannya pun kembali.
Tiga hari ini dia sudah membuat Anggun ingin menendangnya ke Antartika karena kelakuannya yang tak tanggung-tanggung dalam memberikan pekerjaan. Semuanya dibuat deadline, padahal yang sebenarnya tidak seperti itu.
Seperti hari ini. Tugas yang seharusnya bisa disisihkan lebih dulu justru dia kerjakan seperti orang gila karena embel-embel deadline. Seperti hari ini Anggun diberikan beberapa pekerjaan tambahan dengan label deadline padahal dia sudah dapat banyak pekerjaan hanya beberapa detik setelah dia duduk di atas kursinya. Dan belum juga tugas-tugas itu selesai, Pak Mandala datang dengan tampang emosi menagih file meeting seolah-olah Anggun tidak mengerjakan apapun.
Belum selesai dengan drama pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, Pak Mandala terkesan memburu-buru untuk datang ke lokasi meeting. Setelah sampai sana, apa yang terjadi? Dia emosi karena belum ada siapapun yang datang untuk meeting itu. Pertama-tama dia menyalahkan Anggun yang salah mengatur waktu, lalu kemudian menyalahkan kliennya yang tidak prepare apapun. Lalu siapa yang sebenarnya salah di sini? Ya Pak Mandala! Batin Anggun dengan agak nyolot.
Anggun berkata seperti ini karena masalah yang sebenarnya ada pada bosnya. Empat bulan menjadi sekretarisnya, tidak pernah sekalipun Anggun melihat Pak Mandala datang lebih awal untuk meeting. Bukan berarti dia suka telat, tapi bosnya memang bukan tipe yang suka menunggui orang lain. On time adalah kata yang pas untuk mendeskripsikannya.
Tapi hari ini dia datang lebih awal dan emosi dengan mengklaim kliennya ini tidak begitu prepare dalam meeting ini. Setelah itu apa yang terjadi? Dia minta meeting di batalkan, sodara-sodara!
Ingin rasanya Anggun menjegal kaki bosnya itu biar dia jatuh dan tahu bagaimana sakitnya kaki Anggun yang pontang-panting mengikuti langkah super lebar Pak Mandala dalam balutan heels. Setelah semuanya diburu-buru dan meeting di batalkan hanya karena dia sudah tidak mood –Anggun tidak bisa berkata-kata lagi.
Selesai dengan drama meeting yang dibatalkan, Anggun benar-benar dibuat muak lagi oleh kelakuan bosnya ini. Entah karena apa tiba-tiba saja Pak Mandala menjadi super aneh dengan meminta dipesankan makan siangnya.
Dulu Pak Mandala jarang sekali minta dipesankan makanan dan makan di dalam kantor. Dia selalu punya banyak waktu dengan makan di luar tanpa merepotkan Anggun atau siapapun. Tapi hari ini rekornya benar-benar dipecahkan. Sudah tak terhitung berapa kali pria itu membuat Anggun emosi tapi tak berdaya.
Anggun menunduk menatap box makanan yang dipesannya dengan hampa. Dalam hati dia mengumpati sosok Mandala Adyatama, tapi faktanya dia masih melakukan apa yang diperintahkan pria itu. Ini sih fix gue bukan sekedar asisten doang, tapi juga merangkap jadi pembantunya!
“Tunggu-tunggu...”
Anggun melihat ibu-ibu agak tergopoh-gopoh melihat lift yang dinaiki Anggun hampir tertutup. Dengan agak kesusahan Anggun menahan agar pintu tetap terbuka dan mempersilakan ibu tersebut masuk.
“Makasih ya, nak. Hampir aja saya harus nunggu lama buat naik lift.” Ibu-ibu itu terdengar heboh dan Anggun hanya tersenyum sebagai balasan. “Ini... kamu beli makanan sebanyak ini buat siapa? Kamu nggak mungkin makan sebanyak ini kan?” ibu-ibu terdengar heran dan Anggun terkekeh malu-malu.
“Bukan kok, Bu. Ini tuh pesenannya bos saya. Dia lagi nggak mood makan di luar, jadi yaaa beginilah kerjaan sambilan saya.”
“Bos kamu siapa?” kali ini ibu-ibu tersebut menatap Anggun dengan tatapan curiga.
“Namanya Mandala Adyatama.”
“Hish, anak itu emang nyusahin!!”
Anggun langsung terlonjak kaget mendengar ungkapan jengkel ibu-ibu itu. Dengan kening yang berkerut, Anggun bertanya, “Ibu kenal sama Pak Mandala?”
“Ya mana mungkin nggak kenal... dia itu anak saya!”
Anggun langsung menelan ludah mendengar jawaban itu. Anggun langsung salah tingkah karena merasa berdosa sudah sedikit menjatuhkan bosnya di depan ibunya. Kalau Pak Mandala sampai tahu, siap-siap saja menerima omelan, batin Anggun.
“Kaki sama tangan dia masih ada kan? Dua-duanya masih lengkap kan?” Anggun mengangguk dengan kaku. “Hish, punya tangan sama kaki yang lengkap dan sehat kok nggak digunain. Dasar emang pemalas! Mana yang dia suruh-suruh perempuan lagi. Anak itu benar-benar—”
Anggun hanya bisa tertawa tanpa suara mendengar omelan yang sepertinya tidak butuh tanggapan apapun. Pak Mandala sangat menyebalkan, tapi kok ibunya asyik sih, pikir Anggun.
“Kamu jadi asistennya Mandala dari kapan? Kok kayaknya dulu pas saya ke sini itu bukan kamu deh.”
“Udah setahun lebih kok, Bu. Tapi dulu itu belum jadi asistennya Pak Mandala. Saya kerja di tim yang lain.”
“Oh, pantes kamu nggak kayak nggak kenal sama saya. Saya emang nggak pernah nengok-nengok pegawai yang lain.” Ibunya Pak Mandala tersenyum manis. “Asistennya yang dulu pasti mundur karena udah nggak kuat sama Mandala. Dan kayaknya kamu lagi apes deh waktu itu sampe ke pilih jadi asisten dia.”
Anggun langsung tertawa sumbang dan membenarkan perkataan spontan ibunya Pak Mandala. Dia ingat sekali salah satu alasannya mau menjadi asistennya Mandala Adyatama yang gila kerja ya karena gajinya yang naik cukup drastis. Manusiawi kan kalo manusia tergiur dengan gaji tinggi? Yah, walau pada akhirnya dia tahu kalau naiknya gaji berarti naik juga beban kerjanya. Dan inilah yang selalu Anggun sesali kalau bosnya sedang sangat menyebalkan.
“Anak itu emang nyebelin kalo lagi kerja. Di rumah pun kadang-kadang nyebelin. Kelewat perfeksionis!”
Anggun tertawa riang mendengar celetukan ibunya Pak Mandala yang sangat-sangat mewakili pikirannya. Kalau momennya tepat, ingin sekali Anggun mengajak ibunya Pak Mandala ke cafe dan menggunjing Mandala Adyatama yang menyebalkan itu sepuasnya. Sayang sekali lift sudah terbuka.
“Ibu, silakan masuk ke ruangannya. Kayaknya sih beliau nggak pergi ke mana-mana.”
“Oke, makasih ya, nak. Oh iya, sini makanannya, biar saya kasih ke anak manja itu. Sekalian biar saya omelin.”
“Oh nggak usah, ibu. Biar saya aja.” Kata Anggun dengan tidak enak hati. Bisa makin runyam kalau dia merelakan makanan ini di bawa oleh ibunya Pak Mandala. Tapi sayangnya ibu-ibu itu sangat energik. Anggun dipaksa sampai tak punya pilihan selain memberikannya. Pada akhirnya Anggun hanya mengucapkan terima kasih.
Anggun memutuskan untuk kembali duduk di kursinya. Pekerjaannya masih banyak dan Anggun tidak ingin lembur, jadi dia berinisiatif menyelesaikannya alih-alih makan siang. Tapi belum juga satu menit duduk, Anggun diinterupsi lagi oleh ibunya Pak Mandala yang terlihat sumringah. Anggun jadi teringat ibunya di Yogyakarta.
“Oh ya, nama kamu siapa?”
Untuk apa ibunya Pak Mandala nanya nama gue?
Anggun bingung, tapi tak punya pilihan selain menjawabnya dengan sopan. “Nama saya Anggun.”
“Namamu cantik, kayak orangnya juga.”
Tanpa sadar Anggun tersenyum mendengar pujian itu. Itu adalah pujian yang sering Anggun dengar, tapi siapa sih yang nggak suka dipuji cantik? Bahkan setelah berkali-kali pun rasanya tetap menyenangkan ada yang memujinya cantik.
“Oh ya, saya seneng kamu jadi asistennya Mandala. Tetep betah kerja ya meskipun dia nyebelin. Saya nggak mau anak saya dapet asisten yang ganjen. Aduh, saya lupa namanya, tapi dia itu emang ganjen banget. Pokoknya saya nggak mau itu terjadi lagi.”
“Akan saya usahakan, Bu.”
***
Ibunya Pak Mandala sudah masuk ke dalam ruangannya Pak Mandala, tapi keriangannya benar-benar masih membekas di hati Anggun. Ibunya Pak Mandala sangat-sangat humble, belum lagi dengan pujian-pujiannya yang terasa tulus sekali. Dalam hatinya Anggun bertanya-tanya kenapa ibu sebaik itu punya anak seperti Pak Mandala yang kaku dan rewel.
Anggun masih tersenyum mengingat keceriaan ibunya Pak Mandala padanya tadi. Bahkan setelah masuk ruangan pun suara hebohnya masih terdengar sampai luar. Samar-samar Anggun menguping dan semakin tersenyum saat ibunya Pak Mandala menyinggung-nyinggung tentangnya.
“Kamu itu jahat banget sih. Masa asistennya disuruh beli makanan beginian. Dia itu asisten ya bukan pembantu. Dan dia itu perempuan –astaga anak ini!”
“...”
“Kalo nyuruh tuh ya paling nggak kasih uang jalan. Nggak liat kamu kalo dia itu pake heels tinggi kaya gitu, terus jalan sana-sini nurutin maunya kamu...”
Bener banget, Bu, batin Anggun. Akhirnya ada yang mengerti betapa lelahnya kakinya yang berjalan ke mana-mana dengan heels yang tinggi.
“Gajinya Anggun itu seharusnya naik, tahu. Kamu udah memanfaatkan dia melebihi tugasnya sebagai asisten. Harus banget!”
Aku padamu, Buuuu, jawab batin Anggun lagi setelah mendengar orasi ibunya Pak Mandala yang sangat mewakili dirinya. Sudah sejak lama naik gaji menjadi angan-angan Anggun, tapi sayangnya niat hanya niat ketika bertemu langsung dengan sosok Pak Mandala.
“Eh-eh... kayaknya Anggun itu cocok banget jadi istri kamu. Wajahnya cantik. Dan cantiknya itu khas banget. Mama suka. Mana attitude-nya bagus juga. Ya ampun, idaman banget sih. Emm, Mama mau yang kayak gitu...”
Hah?
Pulpen yang sedang dipegang Anggun seketika terjatuh. Telinganya tidak salah dengar kan? Cocok sama Mandala? Istri idaman? Ya ampun!
TBC