KEPUTUSAN SAYA BENAR KAN, PAK?

1366 Kata
Kenapa gue di sini sih? Mandala juga tidak tahu kenapa dia di sini. Yang jelas, awalnya dia hanya berniat melerai, tapi kenapa sekarang dia malah mengikuti Anggun yang sedang duduk termenung di taman? Dia melirik plastik berlabel salah satu minimarket. Ada air putih dan juga beberapa roti. Niatnya sih ini untuk Anggun. Dan kenapa dia melakukan ini juga? Mandala menghela nafas dan meremas plastik yang ada di tangannya sebelum memberanikan diri mendekati Anggun dan menyerahkan bungkusan plastik tersebut. “Apa ini, Pak?” tanya Anggun setelah berhasil keluar dari lamunannya. “Air minum sama roti. Kalau kamu lapar atau haus, mungkin.” Mandala berusaha sebiasa mungkin. Walau tindakannya ini cukup baik, tapi dia tidak mau Anggun salah paham setelahnya. Dia hanya ingin menolong. “Udah baikan?” tanya Mandala setelah Anggun meneguk air mineral yang diberikannya tadi. “Yah, lumayan.” “Anggun, itu...” Mandala berniat memberitahu Anggun tentang perempuan yang dilihatnya bersama Doni waktu itu, tapi dia mengurungkannya. Melihat mata Anggun yang sembab, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. “Maksud saya, apa suami kamu udah nggak termaafkan? Saya nggak bermaksud ikut campur, tapi perceraian menurut saya terlalu terburu-buru. Kalian sudah menikah dan seharusnya nggak semudah itu memutuskan cerai. Apa tidak ada pertimbangan untuk memaafkan?” “Suami saya menikah lagi di belakang saya, dan istri sirinya itu lagi hamil sekarang. Menurut Bapak itu termaafkan?” Mandala tercengang mendengar perkataan Anggun. Bodonya dia berfikir Anggun tidak tahu perihal perempuan yang dilihatnya bersama suami Anggun kemarin. Anggun jelas tahu, karena itulah dia meminta cerai di tengah jalan tanpa memikirkan apapun lagi. Perempuan itu dikhianati, sama seperti dirinya. “Ibu mertua saya juga setuju-setuju saja, bahkan dia yang mengenalkan suami saya ke perempuan itu. Rasanya seperti—” Anggun menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak bisa melanjutkan perkataannya. Semua ini terlalu menyakitkan. Dadanya langsung sesak detik ini juga. Mandala menunduk, tak menuntut kelanjutan cerita Anggun karena dia tahu perempuan itu sudah tidak kuat membahas kelanjutannya. Dia sedikit mengerti kalau ini cukup berat untuk ditanggung Anggun. “Saya dikhianati saat masih pacaran dan rasanya sakit sekali. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kamu sekarang yang juga dikhianati dalam pernikahan.” “...” “Nangis Nggun, nggak apa-apa. Daripada kamu tahan cuma bikin d**a sesak.” Anggun menangis detik itu juga. Selama ini dia berpura-pura tegar, tapi nyatanya dia tidak setegar itu. “Saya bingung, Pak. Saya sendirian di sini, nggak ada yang tahu masalah ini selain temen saya. Temen saya pun nggak suka kalau saya ungkit-ungkit masalah ini. Dia sudah terlanjur benci ke suami saya. Dan akhirnya saya diem, menyimpan semuanya sendiri.” Anggun terisak-isak. “Temen saya selalu nyuruh saya nggak usah mikirin itu lagi, berkali-kali. Saya juga pengennya kayak gitu, tapi sayangnya nggak semudah itu. Ini pernikahan, bukan pacaran yang bisa putus nyambung dengan gampang.” Tambahnya dengan pilu. Di kepalanya muncul semua orang yang pernah tersenyum kepadanya karena menikah dengan Doni, dan itu semakin memperkuat isakannya. Dia sudah mengecewakan banyak orang. Melihatnya, Mandala menjadi iba. “Nggak ada yang tahu? Termasuk orang tua kamu?” Anggun mengangguk. “Saya nggak tega mau ngasih tahu, Pak. Keluarga saya... terutama ibu dan ayah saya berharap pernikahan saya dengan Doni akan langgeng, tapi nyatanya baru dua tahun pernikahan kami sudah hancur.” “Seharusnya kamu cerita. Orang tua kamu mungkin kecewa dengan hancurnya pernikahan kamu, tapi mereka lebih kecewa lagi saat anaknya hancur tapi mereka tidak tahu.” Mandala tidak yakin dengan perkataannya, tapi setidaknya hanya inilah yang bisa dia katakan untuk menenangkan perempuan itu. “Kamu butuh mereka, Nggun. Kamu bingung, kan sekarang? Itu tandanya kamu butuh mereka, butuh pendapat mereka sebagai pertimbangan. Kamu gemetar saat memberikan surat perceraian tadi, saya liat itu. Temui orang tua kamu, minta pendapat mereka, pertimbangkan pendapat mereka, dan saya yakin setelah itu kamu akan tegar dengan pilihan kamu. Bahkan kamu nggak akan menyesal meski kamu memilih bercerai sekalipun.” Mandala sedikit tidak percaya dengan apa yang sudah dia katakan. Dia bersimpati pada orang yang hatinya sedang terluka, yang mana itu bukan style-nya sama sekali. Mana pernah dia peduli pada orang lain. Dan jangan lupakan kalimat motivasi yang dia berikan. Setan mana yang sudah merasukinya tadi? “Saya butuh waktu lagi, Pak. Saya belum berani.” Mandala mengangguk samar. “Pak, saya mau tanya...” Anggun menatap mata Mandala. Mandala balas menatap mata Anggun dan mempersilakan. “Menurut Bapak keputusan saya yang meminta cerai itu sudah benar atau belum?” Mandala terdiam sejenak sebelum memberikan jawabannya. Anggun bertanya pendapatnya dan itu tandanya jawabannya akan menjadi bahan pertimbangan perempuan itu. Tapi masalahnya adalah, isi kepala manusia selalu berbeda-beda. Apapun jawabannya, dia takut Anggun menganggapnya sebagai pembenaran untuk langkah selanjutnya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. “Pak, jawab.” “Dengan apa yang dilakukan suami kamu, menurut saya bercerai adalah keputusan yang benar, tapi coba tanya hati kamu yang terdalam, Nggun. Jangan menjadikan jawaban saya sebagai pembenaran untuk bercerai dan suatu saat kamu akan menyesalinya. Pikirkan baik-baik. Ikuti kata hati kamu.” *** Mobil Anggun berhenti di basement apartemennya. Ralat, apartemen Tesla maksudnya. Anggun memarkirkan mobilnya dengan rapi lalu keluar dan menghampiri Mandala. “Makasih karena tadi sudah dengerin curhatan saya, Pak.” Ujar Anggun dengan canggung. Baru kali ini dia bisa bercerita seleluasa itu pada bosnya yang terkenal hobi menghardik bawahannya. Mandala melirik jam, dan ternyata sudah jam tujuh malam. Ternyata mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk menenangkan perempuan itu. “Iya, sama-sama. Saya juga serius dengan perkataan saya yang mengizinkan kamu ke Yogyakarta untuk menemui orang tua kamu. Saya bakal cari orang untuk menghandle pekerjaan kamu sementara waktu.” Anggun menggeleng. “Saya pasti kasih tahu mereka, tapi nggak dalam waktu dekat. Jadi Bapak bisa sedikit tenang.” “Oke. Kapanpun itu kamu bisa ngomong ke saya, nanti saya atur supaya kamu bisa ke Yogyakarta dan saya bisa tetep kerja dengan lancar.” “Makasih, Pak.” “Kamu butuh libur? Beberapa hari ke depan kayaknya nggak terlalu sibuk deh—” Anggun mengibaskan tangannya tanda menolak. Dia jadi tak enak diperlakukan seperti ini. “Nggak usah, Pak. Saya malah pengennya kerja terus, malah kalo bisa dikasih pekerjaan yang banyak sampe lembur-lembur juga nggak masalah. Itu bantu saya ngelupain sedikit masalah.” Anggun tertawa pelan. “Jangan dipaksain, nanti kamu sakit.” Anggun mengangguk. “Sekali lagi makasih, Pak, apalagi saya sampe dikawal pulangnya. Jadi nggak enak.” Mandala menahan tawa. “Kamu pikir saya ngawal kamu? Pede banget sih, Nggun.” Goda Mandala yang sukses membuat mata Anggun membulat. Detik itu juga Anggun salah tingkah. Mandala tertawa lepas. Anggun memerhatikannya. Sepertinya baru kali ini Anggun melihat bosnya yang terkenal dingin itu tertawa lepas. Di depannya pula. “Terus kenapa Bapak ada di sini?” tanya Anggun dengan polos setelah menetralkan kerja jantungnya. “Saya juga tinggal di apartemen ini.” Mata Anggun membulat tak percaya. “Seriusan, Pak?” Mandala mengangguk. “Apartemen Bapak lantai berapa?” Ini sebenarnya private, tapi— “Apartemen saya di lantai duapuluh tujuh.” Dan dengan mudahnya dia memberikan informasi ini pada orang lain. Ah, sudah terlanjur juga. “Kamu?” Mandala balik bertanya. “Ah, saya nggak punya apartemen. Itu apartemennya temen saya. Saya numpang.” Anggun menunjukkan cengiran malu. “Ya intinya di lantai berapa?” Oh, gue terdengar memaksa, batin Mandala memperingatkan. “Lantai sembilan.” “Oh...” Mandala ingin bertanya lagi, tapi takutnya malah mengingatkan Anggun dengan suaminya yang b******k itu. “Ya sudah, ayo masuk. Udah malem ini.” Anggun menurut. Mandala dan Anggun naik lift yang sama. Di dalam lift mereka memilih diam, tampak canggung. Lift berhenti di lantai sembilan di mana apartemen temannya Anggun berada. “Eh Nggun,” Cegah Mandala sebelum Anggun benar-benar pergi. “Iya, Pak?” “Berhubung kita satu apartemen, jadi kalo ada apa-apa kamu bisa ngomong saya juga. Terutama kalo suami kamu itu ganggu, misalnya.” Jari-jari Mandala yang ada di belakang tubuhnya saling memilin, antara malu dan gugup. “Jangan sungkan manggil saya kalo dia gangguin kamu lagi. Saya bener-bener siap nolongin kapanpun itu.” “Eehh... I-Iya, Pak. Makasih, saya permisi dulu.” Anggun menjauh dengan canggung dan Mandala langsung menekan angka duapuluh tujuh. Begitu lift tertutup, Mandala langsung merutuki mulutnya. “Mulut terkutuk! Kok gue bisa ngomong gitu sih!!”    TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN