TOLONG LEPASKAN AKU

2227 Kata
“Saya sudah rapi kan, Nggun?” Kata-kata Mandala membuat Anggun menoleh dan memerhatikan. “Udah kok, Pak.” Jawabnya cepat tanpa pikir panjang. Maklum saja, ini adalah kerja sama yang cukup penting sehingga harus meninggalkan kesan yang baik. Walau faktanya, Anggun belum pernah melihat bosnya ini tampil tidak rapi sebelumnya. Bosnya selalu rapi kapan pun dan di mana pun. “Oke, ayo turun. Jam berapa ini?” “Jam sebelas lewat empat lima.” “Informasi yang kamu dapet nggak salah, kan? Jangan sampe Pak Darwin berangkat lebih dulu dari kita.” “Saya sudah pastikan, Pak. Asistennya sendiri yang ngomong begitu.” Jawab Anggun sambil berjalan cepat. Dia harus bisa mengimbangi langkah lebar bosnya yang kadang-kadang terlalu kelewatan. Pasalnya bosnya ini memiliki kaki panjang yang alami, berbeda dengan dirinya yang butuh bantuan heels agar kakinya terlihat lebih jenjang. “Nggun, nanti pastikan kamu mencatat semuanya. Jangan sampe kelewatan sesuatu. Bahkan direkam kalo perlu.” “Baik, Pak.” Sekarang mereka sudah ada di dalam restoran. Restoran ini cukup menyenangkan karena memiliki dua area. Pertama adalah area bawah yang kebanyakan dihuni oleh pasangan muda dan yang kedua adalah area atas yang kebanyakan lebih formal dan private. “Nggun, kamu nggak salah restoran kan? Kok restorannya beginian sih?” Kata-kata Mandala bagaikan angin lalu untuk Anggun. Perempuan itu berfokus pada satu titik yang mencuri perhatiannya. Suaminya -ralat, calon mantan suaminya kedapatan duduk di salah satu meja dan terlihat menunggu seseorang. Anggun yakin seratus persen kalau yang ditunggu oleh pria itu adalah Diana. Dadanya bergemuruh, merasa jengkel karena ada begitu banyak tempat dan mereka harus berpapasan di sini. Mungkin saja Doni memiliki insting ada yang memerhatikan makanya pria itu mengedarkan pandangannya. Mata dua sejoli yang hubungannya sudah retak itu saling bertemu. Mandala menghentikan langkahnya karena Anggun tak kunjung menjawab. Dia menengok ke belakang dan mendengus karena Anggun mematung tak jauh dari posisinya. Mandala ingin marah, tapi matanya mengikuti arah pandangan Anggun dan dia sadar. Ada objek yang menarik perhatian di sana. “Nggun, saya ngomong sama kamu.” Suara Mandala menggema dan membuat Anggun kaget. “Eh iya, maaf, Pak. Ada apa?” “Masalah kamu dan suami kamu belum selesai?” Anggun memilih diam. Ini masalah yang sensitif. “Seperti yang saya bilang, saya nggak suka urusan pekerjaan dicampur adukkan dengan urusan rumah tangga. Kalian keliatan pengen membicarakan sesuatu, tapi maaf, saya nggak bisa mengizinkannya sekarang karena meeting kita dengan klien penting sudah dekat. Jadi bisa kamu selesaikan nanti di rumah kalian dan kita ke ruang meeting sekarang?” “Bisa, Pak. Sangat bisa. Dan saya juga nggak ada hal yang harus dibicarakan dengan dia.” Dia? Mandala mengernyitkan keningnya. Ada yang aneh, pikirnya. “Baguslah kalau begitu. Ayo masuk.” “Silakan, Pak.” Anggun mempersilakan Mandala untuk duluan tapi pria itu menggeleng. “Nggak, saya khawatir kamu bakal lari ke arah suami kamu dan menghancurkan meeting penting kita. Jadi, silakan kamu yang duluan.” Anggun mengangguk, lalu berjalan duluan. Sementara itu Mandala mengekori di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, Mandala menghentikan langkahnya lagi. Dia menengok ke arah suami Anggun dan dia termenung. Ada perempuan yang baru datang dan dengan manjanya mencium suami Anggun. Mandala mengernyit. Dia memerhatikan punggung Anggun yang sudah menjauh dan suami Anggun bersama perempuan lain secara berganti-gantian. Siapa perempuan yang datang bersama suami Anggun? Apa Anggun tahu kalau suaminya datang dengan perempuan lain? Mereka terlihat mesra, apa suami Anggun memiliki hubungan nakal tanpa sepengetahuan Anggun? Benaknya bertanya-tanya, tapi dia menggelengkan kepalanya. Ini bukan urusannya. Ya, bukan urusannya. Jadi seharusnya dia tak perlu memikirkannya. *** “Emm, Nggun?” “Iya, Pak, ada apa?” Anggun membalikkan badannya. Mandala ingin mengatakan tentang perempuan yang dilihatnya bersama suaminya tadi tapi dia ragu. Mandala tergagap, mencari alasan yang tepat. Kalau dia mengatakannya dan ternyata Anggun tidak tahu masalah itu, bisa-bisa dia membongkar kedok suami Anggun dan merusak rumah tangga mereka. “Catatan meeting dengan Pak Darwin udah kamu salin?” Mandala menemukan alasan yang pas. Dalam hatinya Mandala sedikit bersyukur. Apakah rumah tangga Anggun dan suaminya bermasalah itu bukan urusannya, dan kalau pun ada sebaiknya Mandala tidak menambahnya dengan informasinya. Lebih baik dia tidak ikut campur, pikir Mandala. Dia memasang sikap kaku seperti biasanya. “Sebentar lagi, Pak.” Mandala memutar bola matanya. “Kok kamu jadi lelet sih, Nggun? Cepetan selesaiin karena saya mau baca ulang.” “Sudah saya buat, Bapak, tapi memang belum selesai. Memangnya ada apa, Pak?” Anggun berusaha sabar menghadapi sikap menyebalkan bosnya yang kadang tidak tahu tempat. Bahkan meetingnya pun baru selesai dua jam lalu, dan Anggun merasa memiliki banyak pekerjaan yang lebih mendesak dari sekedar menyalin hasil meeting. Dan jangan lupakan ini adalah jam pulang kerja. “Pengen saya baca. Nanti malam tolong kirimkan ke saya lewat email, bisa?” “Bisa kok, Pak. Sekitar jam tujuh malam.” “Oke.” Mandala jadi salah tingkah. Sebenarnya bukan ini tujuannya mendatangi meja Anggun, sehingga alasannya pun terdengar menjengkelkan dan tidak masuk akal bahkan di telinganya sendiri. ”Pekerjaan kamu udah selesai, jadi kamu boleh pulang.” Tambah Mandala karena benar-benar tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Anggun menatap bosnya dengan kening berkerut bingung. Bosnya terlihat seperto belum selesai mengatakan sesuatu sehingga terlihat tidak puas meski Anggun mengatakan akan mengirim file hasil meeting siang tadi jam tujuh malam. Sebenarnya apa yang mau dikatakan bosnya? “Terima kasih, Pak. Ini saya juga lagi beres-beres mau pulang.” Anggun menambahkan cengiran sekilas. “Oh gitu...” Kan, aneh lagi. Biasanya bosnya ini langsung pergi sesaat setelah membebaskannya dari jam kerja, tapi kok ini masih berdiri canggung tak jauh dari posisinya? Apa jangan-jangan memang ada yang mau dikatakan? “Saya permisi, Pak.” Pamit Anggun lalu bergegas pergi sebelum bosnya ini berubah pikiran dan memberi tugas lembur yang tidak ada di jadwal. “Anggun...” Anggun memejamkan matanya. Aksi hendak-segera-pergi langsung terhenti seketika. Semoga saja bukan kerjaan tambahan, doa Anggun dalam hati. “Iya, Pak, ada apa?” Anggun berbalik dengan senyum sopan yang dipaksakan. “Emm itu... maaf saya lancang, tapi saya harap kamu segera menyelesaikan masalah kamu dengan suami kamu. Pertengkaran kalian merusak kinerja kamu yang biasanya sangat baik.” Anggun langsung meremas dokumen yang ada di tangannya. Anggun diam dan Mandala sadar sudah salah. Ya, sangat salah. Bukan itu yang ingin dia katakan, tapi malah itu yang berhasil keluar dari mulutnya. “Maafkan saya, Pak. Saya akan mengusahakannya.” “Bagus.” Bodoh! *** Air mata Anggun menitik saat perempuan itu sedang melajukan mobilnya. Anggun mengurangi kecepatan karena sadar menyetir sambil menangis adalah hal yang berbahaya. Dia mungkin sedang sakit hati, tapi bukan berarti dia ingin mati konyol.  Suara klakson mobil yang mengganggu membuat Anggun sempat bingung. Setelah beberapa detik mengamati mobil itu, Anggun tahu kalau  mobil itu adalah mobil Doni. Buru-buru Anggun mengusap wajahnya yang basah karena air mata dengan kasar. Anggun menambah kecepatan mobilnya, tapi nyatanya Doni tetap berhasil mengejar. Bahkan pria itu dengan sengaja menghadang jalan di depannya yang membuat Anggun menginjak rem dalam-dalam. “Kamu gila ya?!” Sembur Anggun sambil menutup pintu mobil dengan kencang hingga menimbulkan bunyi berdebum yang kuat. “Aku gila karena nggak bisa bicara sama kamu, Nggun.” “Berhenti, Mas. Mau sampe kapan kamu kayak gini? Kamu cuma buang-buang waktu doang.” Anggun mulai lelah sekaligus jengkel. Kenapa pria itu harus memperumit keadaan? Anggun hanya ingin bercerai. “Aku nggak bisa berhenti sebelum bisa bicara sama kamu.” “Kita bisa bicara nanti pas di pengadilan, Mas. Makanya cepet kasih aku gugatan itu, kita proses secepat mungkin, dan setelah itu kita bicara di pengadilan.” Kata-kata Anggun bagaikan sebuah pisau yang menusuk ulu hati Doni. “Aku nggak mau yang seperti itu. Aku masih berharap kita nggak akan berakhir di pengadilan agama. Aku mau kita tetap memertahankan pernikahan ini.” “Untuk apa kamu pertahankan pernikahan ini, Mas? Aku nggak bisa ngasih kamu apa-apa. Bahkan anak yang kamu harapkan pun aku nggak bisa ngasih, jadi untuk apa, Mas?” “Aku cinta kamu, Nggun.” “Kenyataannya cinta aja nggak cukup, Mas. Lebih baik kita sendiri-sendiri.” “Please, jangan hindari aku, Nggun.” “Aku harus menghindari kamu, Mas. Ngeliat kamu itu bikin aku sakit dan aku nggak pengen sakit lagi. Udah cukup, jadi bisa berhenti? Jangan sakitin aku lagi.” Anggun memohon dengan mata yang kembali berkaca-kaca. “Aku tahu aku salah, tapi—” Perkataan Doni disela dengan cepat oleh sebuah deheman yang cukup keras. Keduanya langsung menatap ke sumber suara. Doni menyipitkan mata tak suka, tapi Anggun justru membulatkan mata. Perempuan itu terlihat terkejut mendapati siapa yang menginterupsi pertengkarannya dengan suaminya. “Pak Mandala?” Spontan saja bibir Anggun menyebut nama itu. “Seharusnya kalian bertengkar di rumah, bukannya di jalan seperti sekarang.” “Maaf, Pak, saya—” “Kalian mengganggu saya sebagai pengguna jalan. Saya berhak mendapatkan jalan yang baik karena saya rutin melakukan pajak setiap tahunnya.” Ada humor dalam suara Mandala, tapi ini bukan waktunya untuk melucu. Kemudian Mandala berdehem. “Dan kamu...” Mandala menatap suami Anggun dengan meneliti dari atas sampai bawah. “Saya tahu yang namanya masalah harus segera diselesaikan, tapi sayangnya Anggun belum siap ketemu anda, jadi jangan paksa dia sampe nyegat di tengah jalan kayak gini. Ketidaksiapan Anggun buat ketemu anda pasti karena suatu hal yang besar, jadi beri dia waktu lebih. Bersikaplah layaknya seorang gentleman, bisa?” Merasa mendapatkan sedikit perlindungan, Anggun berusaha melepaskan cekalan tangan Doni pada pergelangan tangannya. Anggun langsung beringsut mendekat ke belakang tubuh Mandala. Entah kenapa Anggun merasa aman berdiri di belakang tubuh bos yang hobinya menggertak dirinya terus. “Ini bukan urusan anda. Saya tahu anda bosnya, tapi anda tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga kami.” Kata Doni dengan perasaan tersinggung. “Kalau Anggun memang ingin menyelesaikan masalahnya dengan anda, saya tidak akan melarang. Tapi masalahnya Anggun terlihat enggan meladeni anda, dan anda juga cukup pemaksa. Saya nggak bisa dong tutup mata melihat asisten saya diperlakukan seperti itu, di tengah jalan pula.” “Saya suaminya!” bentak Doni karena rasa jengkelnya yang sudah di ubun-ubun. “Suami?” Mandala terkekeh. “Apa begini cara suami membujuk istrinya? Dicegat di tengah jalan? Tangannya dicekal dengan paksaan? Sudah berapa tahun anda menikah dan anda tidak menemukan cara ampuh untuk membujuk istrimu yang sedang marah seperti sekarang? Dia sedang butuh waktu sendiri, jadi jangan mengganggunya.” “Nggun siapa dia sebenarnya? Kenapa dia sangat nggak sopan ikut campur dalam rumah tangga kita ini?” “Mas, udah!” Anggun membentak suaminya. “Yang dibilang Pak Mandala benar. Aku butuh waktu sendiri, jadi jangan ganggu aku dulu.” “Nggun, kamu—” Doni tak bisa menyelesaikan perkataannya sendiri karena Anggun sudah membalikkan badannya. Anggun masuk mobil sebentar, lalu tak lama kemudian keluar lagi dengan sebuah amplop di tangannya. Doni mengerutkan kening. Alarm tanda bahaya berdenging di kepalanya. “Aku tahu kamu nggak bakal bertindak, jadi aku yang bertindak. Ini isinya gugatanku ke kamu. Tolong dibaca dan semoga setelahnya kamu sadar diri kalo kamu salah.” “Apa? Kamu menggugat aku?” Doni tampak marah dan juga kecewa. Anggun mengangkat bahu. “Iya, aku menggugat kamu. Aku udah kasih kesempatan supaya kamu menggugat aku, tapi nggak akan kamu lakuin, kan? Aku udah nggak bisa terikat hubungan sama kamu lebih lama lagi. Jadi kalo seandainya kamu dapet panggilan dari pengadilan, aku harap kamu dateng, Mas. Aku harap kamu nggak mempersulit semuanya.” “Tapi aku nggak mau cerai. Kenapa kamu ngotot banget sih?” sembur Doni karena tak terima dengan keputusan sepihak yang dilakukan Anggun. Dia sadar sudah melakukan kesalahan, tapi Doni tidak mau melakukan kesalahan lain lagi, yakni bercerai dengan Anggun. “Aku ngotot karena ini yang benar. Memang sudah seharusnya kita bercerai. Dan kamu nggak mau bercerai? Kenapa kamu cuma berani berbuat tapi nggak mau akibatnya, Mas? Pengecut.” “Apapun itu... aku nggak akan pernah mau dateng ke pengadilan. Aku nggak mau bercerai dari kamu.” Mendengar itu amarah Anggun langsung memuncak. “Kamu sadar nggak sih Mas kalo kamu itu terdengar sangat jahat banget? Selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku setia sama kamu, Mas. Aku lakukan semuanya buat kamu. Tapi apa yang aku dapet? Pengkhianatan. Dan sekarang aku minta cerai karena pengkhianatan kamu, tapi kamu malah nggak mau? Aku nggak nyangka kalo selama ini aku udah menikahi b******n yang kejam. Aku cuma mau bahagia, Mas, jadi tolong jangan memperumit apapun itu.” “Memangnya kamu bisa bahagia selain sama aku?!” Jawab Doni dengan cepat dan juga marah. “Kamu sendiri yang bilang cinta aku. Kamu sendiri yang bilang bakal sehidup semati sama aku. Tapi sekarang—” “Kalo kamu bisa, kenapa aku nggak bisa? Mudah Mas, asal kamu lepasin aku.” Potong Anggun tanpa memikirkan apapun lagi. “Kamu udah nggak cinta sama aku?” “Cinta?” Anggun terkekeh penuh ironi. “Aku udah nggak percaya cinta, Mas, dan itu karena kamu. Toh cinta nggak cukup untuk mempertahankan pernikahan ini, jadi buat apa cinta?” “Anggun...” Doni lemas. Kata-katanya hilang di tenggorokan. “Aku nggak ketemu kamu beberapa hari ini dan aku baik-baik aja. Memang sakit, tapi aku udah baik-baik aja sekarang. Tolong pertimbangkan keinginan aku untuk bercerai. Itu untuk kebaikan aku, kamu, perempuan itu, Mama kamu dan calon anak kalian. Biarin semua yang terlibat bahagia, dan—” Anggun tercekat. Dia menggigit bibirnya kuat. “Dan bercerai dari kamu merupakan salah satu kebahagiaan aku.” tambah Anggun dengan hati yang terkoyak.    TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN