ANTARA PEKERJAAN DAN RUMAH TANGGA

1582 Kata
“Anggun saya berbicara sama kamu!” Anggun berjingkat karena kaget. “Eh, iya... ada apa, Pak?” Anggun terbata. Mandala tampak jengkel sekali. “Kamu melamun saat bekerja?” Mandala mendesis. Anggun memejamkan matanya. “Maaf, Pak. Saya—” “Saya tidak peduli dengan hubungan kamu dan suami kamu yang sekarang sedang merenggang, tapi yang jelas saya mau kamu profesional. Sekali lagi saya tekankan, jangan membawa masalah rumah tangga ke kantor.” “Pak Mandala tahu dari mana kalau hubungan saya dan suami sedang merenggang?” Anggun mengernyit bingung. “Saya punya mata dan kemarin itu benar-benar norak. Kalian ada masalah dan suami kamu datang ke kantor ini. Apa kalian tidak punya rumah untuk membicarakan masalah ini baik-baik? Benar-benar adegan yang tidak pantas ada di kantor saya.” Anggun menunduk. Hatinya kembali terkoyak. “Maaf, Pak. Saya janji hal seperti itu tidak akan terulang lagi.” “Cukup sekali, Anggun, saya tidak mau melihat hal seperti itu lagi.” “Baik, Pak.” “Kerjakan pekerjaan kamu lagi. Fokus. Jangan melamunkan hal-hal yang tidak penting.” “Baik, Pak.” Mandala meninggalkan Anggun yang tampak mematung beberapa saat. Ya, kerja. Dia harus bekerja. Dia harus melakukan seperti yang bosnya perintahkan walau hatinya sedang sangat hancur saat ini. *** “Temenin gue, please.” Anggun membujuk. Tesla tampak malas. “Gue males banget ketemu Doni!” “Lo pikir gue mau? Gue juga males. Itu terlalu nyakitin gue, Tes.” “Ya kalo gitu nggak usah ke sana. Lo bisa beli baju baru atau pakai dulu baju gue. Gue nggak masalah kok.” Anggun menggeleng. “Pertama, gue harus hemat sekarang. Semua kebutuhan hidup gue yang tanggung sendiri, gue nggak mungkin hura-hura walau gaji gue gede. Kedua, gue nggak mungkin pake baju lo terus. Gue nggak enak.” “Tapi gue nggak masalah kok.” “Stop bilang nggak masalah terus. Lo mungkin nggak masalah, tapi gue yang nggak enak. Gue kayak orang yang nggak tahu diri. Udah syukur lo kasih tempat buat tidur, masa iya gue juga pake baju-baju lo.” Tesla diam. Dia malas sekali harus ke rumah lama Anggun untuk menemani perempuan itu mengambil barang-barangnya. “Ayolah. Cuma dateng, masuk, terus beresin barang-barang gue dan kita pergi. Selesai.” “Kalo ketemu Doni gimana?” “Ya nggak gimana-gimana. Anggep aja dia nggak ada.” Anggun menjeda. “Lagian bumi kita ini sempit, gue yakin cepat atau lambat lo pasti ketemu dia, di manapun itu. Gue juga udah ketemu dia lagi, and it's okay.” Mata Tesla membulat. “Lo ketemu dia? Kapan? Di mana? Dia sama siapa?” Anggun mengangkat bahunya, berpura-pura cuek untuk menunjukkan ketegaran palsu. “Dia kemaren dateng ke kantor gue. Katanya dia mau ngomong sesuatu tapi gue nggak mau denger. Gue tinggalin dia begitu aja, udah selesai.” “Dia bener-bener nggak tahu diri. Masih bisa-bisanya dia nemuin lo!” “Jadi gimana? Lo mau kan nemenin gue? Kalo sama lo setidaknya gue nggak bakal kayak perempuan bodoh di sana. Gue bakal tegar.” Tesla menghembuskan nafasnya pelan. “Oke, kapan?” “Sore ini juga.” *** “Jangan gugup, rileks aja. Buktiin kalo lo baik-baik aja tanpa dia.” Ujar Tesla setelah menyadari kegugupan Anggun. Anggun mengangguk. Lalu saat sampai di depan gerbang, Anggun menghembuskan nafasnya pelan. Tidak ada mobil suaminya itu. “Kayaknya dia belom pulang...” Baguslah kalo gitu, pikir Anggun. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot bertatapan dengan suaminya sekaligus istri sirinya tersebut. “Lo masih punya kunci rumah ini, kan?” Anggun mengangguk, menunjukkan kunci rumah yang dua tahun belakangan ini memberikan banyak kenangan. “Ayo cepet. Gue males banget kalo sampe ketemu Doni.” Tesla memburu-buru bukan tanpa alasan. Pertama, dia malas sekali bertemu Doni, dan kedua, ini juga lebih baik untuk kondisi Anggun. Tesla menyadari kalau mata Anggun berkaca-kaca kala memasuki rumah yang dua tahun ini menyimpan banyak cerita. Dengan buru-buru setidaknya bisa membuat Anggun tidak perlu menahan sakit hatinya karena beberapa kenangan manis pernikahannya menyeruak. “Gak usah mengenang masa lalu. Cepetan beresin barang-barang lo.” Anggun mengangguk dan bergegas seperti perkataan Tesla. Semakin cepat justru semakin baik. Tapi kegiatannya terganggu saat dia melihat koper berwarna ungu yang feminim sekali. Koper itu bukan miliknya atau pun Doni. Lalu koper ungu yang teronggok di dekat lemari itu punya siapa? Pikir Anggun dengan kening yang berkerut. Anggun berusaha mengabaikan rasa penasaran akan koper feminim itu. Dia mengeluarkan kopernya dari dalam lemari dan membukanya lebar-lebar. Anggun berusaha mengambil barang-barang yang dibutuhkannya dengan cepat. Yang paling penting adalah barang-barang pribadinya. Tidak perlu dilipat rapi asalkan semuanya bisa masuk koper dengan cepat. Beberapa perhiasan pemberian Doni tidak perlu dibawa karena hanya akan membuat Anggun sakit hati mengingat betapa manisnya pria itu saat memberikan kado-kado tersebut. Anggun membawa semua barang-barangnya tanpa tersisa. Butuh dua koper besar untuk membawa semua barang-barang tersebut. Setelah beres, Anggun dan Tesla bergegas keluar. Tapi sayangnya Tuhan sedang tidak ingin memuluskan rencana mereka. Sosok Doni datang dengan diikuti Diana di belakangnya. Melihat mereka langsung membuat d**a Anggun mencelos. Doni juga sama kagetnya melihat sosok Anggun di rumah mereka dengan dua koper besar di tangannya. Spontan saja tubuhnya langsung maju dan merenggut koper-koper itu dengan murka. “Nggun, semua ini maksudnya apa?” “Maaf aku masuk tanpa izin, tapi aku cuma mau ngambil barang-barangku.” “Akhirnya ada yang sadar juga. Lega banget karena akhirnya baju-baju aku bisa ditaruh di tempatnya.” Anggun berusaha menulikan telinganya dari perkataan Diana yang seolah-olah menyindirnya. Lalu dia teringat koper ungun feminim yang tadi di lihatnya di sebelah lemari. Ah, ternyata itu punya Diana. Hati Anggun semakin tercabik-cabik mendengar fakta ini. “Siapa yang ngizinin kamu pergi dengan koper-koper itu? Aku nggak ngizinin kamu pergi, Anggun. Taruh barang-barangmu pada tempatnya lagi!” Doni membentak. Anggun menggeleng. “Udah sih sayang, biarin aja. Kan kalo barang-barang Anggun diambil jadinya barang-barangku bisa ditaruh di tempatnya Anggun. Daripada kamu beli yang baru. Mending uangnya disimpen buat calon anak kita aja.” Diana mengusap perutnya dengan ekspresi pamer yang kentara sekali. Anggun menggenggam pegangan koper dengan kuat. Anggun tidak melihatnya secara langsung, tapi ekor matanya menangkap saat Diana mengusap perutnya. Dua tahun dia menikah, lalu kenapa Tuhan tidak membiarkan ada kehidupan di dalam perutnya yang bisa dia usap seperti itu? Anggun tidak akan pamer seperti Diana, tapi kenapa Tuhan tidak memberikan keajaiban itu? Rasa sesak langsung menyelimuti Anggun. Kalau tidak ada Tesla mungkin Anggun akan menangis saat ini juga. Tesla sangat berguna sekali untuk mengontrol emosinya. “Sebentar lagi kita cerai dan sangat nggak etis kalau barang-barangku masih ada di rumah ini, Mas. Apalagi pemiliknya yang baru udah dateng.” Anggun sedikit menyindir. “Anggun, aku nggak akan menceraikan kamu. Jadi kembalikan barang-barang itu ke tempatnya. Kamu juga pulang, jangan nginep di rumah orang lain lagi.” Anggun tertawa sumbang. “Kenapa kamu nggak mau menceraikan aku, Mas? Kamu pengen punya dua istri? Kamu serakah, ya Mas.” Anggun mencemooh dengan ringan sementara Doni membisu. “Kamu bakal punya istri yang lebih cantik dari aku. Kamu juga bakal punya anak sesuai kemauan kamu dan Mama kamu. Terus gunanya aku buat apa, Mas? Kamu mau jadiin aku pajangan paling antik di sini?” “Anggun, nggak kayak gitu, sayang.” Suara Doni memelan. Pria itu berniat maju mendekati Anggun, tapi Tesla langsung menghadang dengan dagu terdongak angkuh. “Lo emang gila! Berani-beraninya lo ngomong kayak gitu. Emang dasar lo laki-laki serakah. Lo seharusnya bersyukur dapet perempuan kayak Anggun, tapi lo malah nikah lagi? t***l banget, seriusan. Cowok terbodoh di dunia yang pernah gue temui!” kata Tesla dengan penuh hinaan. Dagunya terdongak menantang dan matanya berkilat penuh amarah. Anggun sangat bersyukur memiliki Tesla yang berapi-api. Dari Tesla, semua kata-kata yang tidak bisa terucap dari bibir Anggun meluncur dengan mulusnya dari bibir Tesla. Dan semua itu pantas dengan sosok Doni yang sudah menyelingkuhinya. “Jangan ikut campur urusan rumah tangga gue, Tesla.” Doni menggeram menahan emosinya. “Jangan sebut nama gue. Gue jijik nama gue disebut sama laki-laki b******n kayak lo. Dan jangan ikut campur? Hello, gue sahabat seumur hidupnya Anggun, dan gue nggak mungkin biarin sahabat seumur hidup gue ditindas sama laki-laki b*****t kayak lo!” Anggun menahan bahu Tesla agar perempuan itu tak lepas kendali. Sudah cukup, pikir Anggun. Dia tidak mau Doni khilaf dan melakukan hal yang buruk karena Tesla terlalu kasar. “Udah, Tes,” Anggun menyela dan Tesla menurut. Bahunya yang tegang perlahan-lahan mengendur. Kali ini Anggun mengambil posisi di depan Tesla dan menggantikan Tesla yang emosi. Dia mungkin tidak bisa berapi-api seperti Tesla, tapi inilah saatnya berbicara. “Kenapa Tesla nggak boleh ikut campur, Mas? Bahkan Mamamu dan Diana ikut campur dalam masalah ini, tapi kenapa Tesla nggak boleh? Di saat seperti ini nggak ada yang ngertiin aku. Kamu dan Mama kamu juga nggak ngertiin aku. Aku nggak punya siapapun yang membela aku di sini. Aku sakit sendiri dan aku menangis sendiri. Terus kamu pengen aku gila karena mikirin masalah ini sendiri gitu?” “...” “Kamu egois banget, Mas.” “...” “Aku mau kita bercerai.” Anggun memutuskan. Kali ini dia lebih mantap dan tegar, tidak seperti kemarin-kemarin. “Aku nggak akan ceraiin kamu.” “Terserah. Pada akhirnya aku tetap ingin bercerai. Entah kamu yang menceraikan aku atau aku yang menceraikan kamu. Kamu pilih sendiri, Mas.” “....” “Oh ya, aku kembaliin kunci ini. Terima kasih karena selama ini kamu sudah memercayakannya ke aku. Selamat tinggal, Mas.” Anggun menyerahkan kunci rumah lamanya, lalu pergi. Dia lebih lega sekarang.   TBC  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN