Perempuan itu membuka pintu dan keningnya berkerut mendapati sosok Anggun. “Nggun, tumben ke sini jam—” Belum selesai dia bertanya, Anggun sudah menubruk tubuhnya. Matanya langsung terbuka sempurna.
“Tes...” Anggun terisak.
“Nggun kenapa?” Perempuan bernama Tesla itu langsung khawatir.
“Tes... suami gue... suami gue!”
Dan Tesla sadar ada yang tidak beres. “Ayo masuk. Kita bicarain di dalem.”
Anggun mengangguk dan mengekori Tesla. Begitu di dalam Tesla langsung mengajak Anggun duduk berhadapan.
“Kenapa?” tanya Tesla lagi.
“Suami gue selingkuh, Tes.” Anggun memberitahu tanpa ragu. Kekecewaan dan sakit hati tercetak jelas di matanya.
Tesla terperangah. “Jadi bener yang waktu—”
“Iya.” Potong Anggun cepat.
“Gue turut berduka, Nggun.”
Tesla menepuk punggung Anggun dengan sayang. Bagaimanapun juga dia adalah saksi kisah cinta Anggun dan Doni dari masa pacaran sampai menikah. Mereka adalah pasangan yang harmonis dari dulu sampai sekarang. Dan kenyataan bahwa Doni, laki-laki yang dianggap Tesla sangat sempurna itu ternyata tak sesempurna yang dia bayangkan. Laki-laki itu selingkuh sama seperti laki-laki lainnya.
“Lo tahu siapa perempuan itu?”
“Namanya Diana.”
“Namanya cantik, tapi kok mau sih dijadiin selingkuhan.” Ketus Tesla. Anggun menunduk.
“Sebenarnya dia...” Anggun terisak lagi mengingat kalau Doni dan Diana tidak sepenuhnya selingkuh. Mereka sudah menikah siri di belakangnya dengan restu Mama mertuanya.
“Dia apa?” Tuntut Tesla dengan kening berkerut.
Anggun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. “Dia sama Mas Doni udah menikah siri. Dia lagi hamil sekarang.”
Tubuh Tesla langsung menegang. Amarah langsung menggelegak. “Dia menikah siri dan lo nggak tahu apapun? Dan sekarang perempuan itu hamil?!” Sembur Tesla tanpa pikir panjang. Dan anggukan Anggun yang diiringin air mata langsung membuat dia mengumpat keras-keras. “Perfect brengseknya! Dia bener-bener jahat banget. Dia nggak sesempurna yang gue kira!”
“Gue juga mikir gitu. Nggak ada alasan yang bisa bikin Mas Doni berkhianat, tapi ternyata—” Anggun menyiapkan hatinya. “Mamanya Mas Doni pengen cucu dan gue nggak bisa ngasih itu.”
“Nyokapnya tahu?”
“Mamanya Mas Doni yang mengenalkan mereka dan beliau mendukungnya.”
“Dasar keluarga gila!! Nggak anaknya, nggak Mamanya, nggak ada yang beres!!” Tesla mengumpat kesal. Anggun memilih menunduk dan menangis dalam diam. “Dan keputusan apa yang lo ambil sekarang?”
“Gue minta cerai.” Anggun menatap Tesla seolah meminta pendapat. Dia sebenarnya ragu, tapi dia juga tidak bisa memaafkan pengkhianatan suaminya.
“Dan gue rasa itu keputusan yang tepat. Nggak ada alasan lo mempertahankan rumah tangga yang mana salah satunya sudah berkhianat sedemikian fatalnya.”
***
Pagi sudah menyapa. Anggun sedikit kaget karena sinar matahari menyinari dengan begitu terangnya. Biasanya dia tidak pernah bangun sesiang ini karena memiliki tugas untuk mengurus suaminya. Tapi kali ini berbeda dan Anggun harus membiasakannya. Tidak ada lagi laki-laki yang akan dia urus setiap harinya.
Anggun mengubah posisi berbaringnya menjadi miring. Semalam Anggun memutuskan menumpang di rumah Tesla. Dia sendirian di sini dan tidak punya siapa-siapa. Air mata perempuan itu sudah tak menetes lagi, tapi hatinya masih sangat sakit. Ponsel Anggun berdering dan membuat perempuan itu langsung mengangkatnya karena berisik.
“Halo.”
“Sesiang ini dan kamu belum berangkat, Anggun?”
Anggun langsung terkesiap. Buru-buru dia duduk.
“Jangan bilang kamu nggak berangkat lagi. Saya bakal pecat kamu detik ini juga.”
Anggun berfikir sejenak. Dia harus bekerja, dia tidak bolah dipecat.
“Saya berangkat, tapi kasih saya waktu sedikit lagi, Pak. Saya lagi—”
“Saya tidak butuh alasan kamu, Anggun. Cepat berangkat karena saya mau bekerja!”
Begitu perintah itu lontarkan, pria di seberang sana langsung mematikan panggilannya. Anggun menghembuskan nafasnya. Dia salah. Ternyata masih ada satu orang laki-laki yang harus dia urusi, yaitu bosnya yang sangat gila kerja.
***
Anggun berkaca lagi di dalam mobil sebelum keluar. Matanya bengkak dan Anggun risih ketika menyadarinya. Pasti aneh sekali. Karena itulah dia memilih memakai kacamata yang sangat membantu penampilannya kalau matanya sedang bermasalah seperti sekarang.
Anggun keluar seperti biasa seolah tidak terjadi apapun. Dia harus profesional. Anggun memutuskan pergi dari rumahnya tanpa membawa baju, jadi pagi ini atas seizin Tesla dia meminjam bajunya. Begitu sampai di lantai direktur, Anggun mendapati atasannya menatap mejanya dengan berkacak pinggang. Pria itu pasti sebal. Anggun sangat menyadari itu.
“Maaf, Pak, saya terlambat.” Katanya sopan.
“Kamu bukan terlambat lagi, tapi kamu memang tidak niat berangkat!”
Memang!
Kalau bukan karena gajinya yang besar, Anggun pasti memilih meringkuk di apartemen Tesla dan pasrah untuk di dipecat. “Saya lagi banyak masalah, Pak. Maaf.”
“Kamu pikir cuma kamu saja yang banyak masalah?” sindir bos Anggun dengan tajam dan perempuan itu hanya bisa menunduk. “Berapa kali saya harus bilang kalau kamu harus profesional? Bekerja ya bekerja, dan masalah rumah tangga ya masalah rumah tangga. Jangan dibawa ke kantor karena saya tidak suka. Kecuali kalau kamu memang berniat dipecat.”
Bosnya ini memang sedikit menyebalkan. Ralat, bukan sedikit, tapi memang sangat menyebalkan. “Saya tidak akan mengulanginya lagi, Pak. Maaf.” Bos Anggun melengos malas.
“Saya hari ini ada presentasi. Bahannya sudah kamu siapkan, kan?”
Anggun berkedip beberapa kali. “Saya cek dulu, Pak. Tapi kalo seinget saya sudah saya buatkan.”
“Apa ingatan kamu bisa dipercaya?”
Anggun menunduk pasrah. Dia sedang menghidupkan komputernya. Begitu menyala, dia langsung mencari file-nya. “Sudah saya buatkan, Pak. Silakan dicek dulu,” Dengan bangga Anggun mempersilakan bosnya yang menyebalkan itu untuk melihatnya. Anggun menyeringai saat melihat kepuasan dari wajah bosnya.
“Bagus. Untung kinerjamu bagus makanya saya masih mempertahankan kamu.” Kata bosnya yang membuat Anggun sedikit besar kepala meskipun hatinya sedang membengkak karena terluka.
***
“Pekerjaan kamu sudah selesai. Kamu boleh pulang, Anggun.”
Anggun yang sedang membereskan barang-barangnya mendongak dan tersenyum sopan.
“Iya, ini saya lagi beresin barang. Bapak juga mau pulang?”
“Belum, saya masih mau di kantor.”
“Kalau begitu saya permisi duluan, Pak.”
Anggun sudah berjalan, lalu suara bosnya kembali terdengar. Anggun menghentikan langkahnya dan berbalik dengan senyum sopan yang agak dipaksakan. Semoga bukan berita yang buruk.
“Anggun, pastikan besok kamu berangkat tepat waktu. Saya tidak mau kamu telat lagi, mengerti?”
Anggun mengangguk. “Di mengerti.” Anggun berkedip beberapa kali menunggu tambahan wejangan. Dan setelah tidak terlihat tanda-tanda bosnya akan mengomel lagi, Anggun kembali berujar, “Jadi, saya udah boleh pulang sekarang?”
“Silakan.”
Dan Anggun langsung bergegas. Dia harus segera pulang untuk mengistirahatkan dirinya yang sudah berjuang seharian ini. Anggun bersyukur karena pekerjaannya hari ini cukup menguras tenaga sehingga Anggun tidak punya pilihan selain untuk fokus. Dengan begitu dia sedikit lupa dengan fakta kalau kehidupan pernikahannya sudah hancur.
Tapi sayangnya semua itu hanya berlaku saat dia bekerja. Setelah bekerja dia kembali teringat tentang rumah tanggannya yang hancur. Dadanya kembali sesak dan keinginan untuk menangis kembali menyeruak. Tahan, Nggun, ini masih di kantor, batinnya menyemangati.
Dengan lesu Anggun meninggalkan ruang kerjanya. Langkah kakinya terhenti saat di lobby kantor Anggun melihat sosok yang sudah menghancurkan semua mimpi-mimpi indahnya tentang pernikahan.
“Mbak, apa Anggun Masayu Naeswara sudah pulang?”
Anggun mematung di tempat. Di tatapnya suaminya dari jauh dengan tatapan hampa sekaligus marah. Kenapa pria itu masih mencarinya? Apa belum puas dia membuat Anggun kehilangan arah untuk melanjutkan hidup?
“Oh, itu Anggun Masayu Naeswara. Sepertinya baru mau pulang, Pak.”
Kepala Doni langsung menengok. Mata mereka bertemu. Anggun dan Doni bertatapan untuk sejenak. Kalau dulu Anggun akan langsung menghambur ke pelukan Doni dengan penuh cinta karena sudah menjemputnya, kali ini Anggun benar-benar ingin putar arah dan kembali ke ruang kerja saja. Ke mana pun, asal tidak perlu melihat wajah pria yang sudah mengkhianatinya.
Tapi Anggun tidak mau dibutakan oleh amarahnya. Kenapa dia yang harus menghindar di saat Doni-lah yang bersalah? Anggun tidak ingin terlihat menyedihkan dengan terus menghindari si b******k penghancur hidupnya ini. Bukankah hidup terus berjalan maju? Jadi Anggun juga harus maju untuk menata lagi hidupnya yang sudah hancur karena mereka.
“Anggun, aku mau ngomong sama kamu.” Anggun berpura-pura tak mendengar, dia terus berjalan. “Anggun—” Doni mencekal lengan Anggun. “Kita harus bicara, Nggun.” Tegasnya.
“Lepasin aku, Mas. Ini di kantor.” Anggun berusaha melepaskan, tapi cekalan itu terlalu kuat.
“Aku nggak peduli, yang penting aku ngomong sama kamu.”
“Kamu nggak peduli, tapi aku peduli. Ini tempat kerja aku dan kamu bisa bikin aku dipecat. Lepasin aku sekarang juga!” bentak Anggun dengan sebal.
Doni melepaskan cekalannya sebelum mereka menjadi pusat perhatian. Tingkah lakunya ini bisa membahayakan pekerjaan Anggun. “Ada yang mau aku ngomongin sama kamu.” Ujarnya setelah berusaha menenangkan diri.
“Tapi aku nggak mau ngomong apapun sama kamu.”
“Nggun, kita nggak bisa terus seperti ini. Masalah nggak akan selesai kalo kamu terus menghindari aku. Kita harus membicarakan ini dengan kepala dingin.”
“Kepala dingin?” Anggun terkekeh. “Gimana bisa aku berbicara dengan kepala dingin ketika aku diselingkuhi oleh suamiku sendiri yang mana perselingkuhan itu disetujui oleh Mama mertuaku? Dan bahkan perempuan itu juga hamil. Apa itu masih bisa dibicarakan dengan kepala dingin? Jangan konyol, Mas.” Kata Anggun dengan penuh penekanan. Meskipun emosi, Anggun masih berusaha menjaga intonasi suaranya. Dia tidak ingin seantero orang di lobby tahu kalau rumah tangganya hancur karena perselingkuhan.
“Dan kamu bilang masalah kita nggak akan selesai? Mas, masalah kita udah selesai. Ketika aku sudah melepaskan kamu dan meminta diceraikan –masalah aku selesai, Mas. Jadi tolong jangan memperumit hidup aku yang sudah kalian hancurkan. Aku nggak pernah minta tas branded atau pun parfum mahal ke kamu, jadi bisa kan permintaan kecil ini kamu kabulin?”
“Anggun, ini masalah pernikahan. Nggak bisa seenaknya kamu ngomong cerai-cerai.”
Ingin rasanya aku memaki suaminya yang tidak tahu malu ini. Doni benar-benar memalukan dan sangat-sangat menjijikkan, batin Anggun. “Tapi kamu menyelingkuhi aku, Mas. Ini mungkin sepele bagi kamu, tapi aku nggak bisa bertahan dengan laki-laki seperti kamu.”
“....”
“Kamu inget saat aku menerima lamaran kamu dulu, Mas? Aku menerimanya dengan cepat dan terkesan tanpa pikir panjang. Aku nggak main-main karena aku percaya sama kamu. Dan sama seperti dulu, aku juga akan meminta cerai dengan cepat dan tanpa pikir panjang. Aku nggak mau menjadi istri kamu lagi, Mas.”
***
Mandala mengamati dalam diam sebuah drama yang menarik indra penglihatannya. Anggun dan suaminya –kalau tidak salah- bertengkar hebat. Tumben sekali, pikir Mandala. Terlebih lagi dengan mimik super serius dari Anggun yang jarang sekali dilihat olehnya. Dan karena itu Mandala menduga kalau pertengkaran mereka pasti karena masalah yang sangat serius.
Setelah puas mengamati drama rumah tangga yang tidak sesuai dengan seleranya, Mandala segera meraih laporan dari receptionist dan hendak bergegas pergi. Dengan cuek dia meninggalkan meja receptionist dan memasuki lift. Tapi seseorang memanggilnya dan bergegas berlari untuk kemudian menyerobot masuk lift bersamanya tanpa izin. Wajah Mandala langsung mengeras.
Sialan, umpatnya dalam hati. Gara-gara ketidaksiapannya sekarang Mandala harus satu lift selama beberapa menit dengan perempuan yang memorak-porandakan hatinya.
“Mandala, maafin aku. Aku bisa jelasin yang di Malang itu.”
“Aku nggak butuh penjelasan kamu. Hubungan kita udah selesai.” Kata Mandala dengan terus menatap ke depan dan raut wajah datar.
“Nggak bisa kayak gitu. Kamu harus denger penjelasan aku dulu!” Perempuan itu masih bersikukuh dan Mandala muak.
“Aku nggak peduli! Yang jelas mata aku melihat kamu selingkuh dengan laki-laki itu. Itu udah cukup menjelaskan buatku.” Mandala membentak. Perempuan itu kaget, lalu menitikkan air mata. Mandala memutar mata. Air mata palsu itu bisa merepotkannya kalau sampai staff keamanan yang memantau CCTV melihat ini. “Dan satu lagi. Aku nggak mau kamu dateng ke kantor untuk membahas masalah ini. Aku nggak suka masalah pribadi di bawa ke kantor, jadi jangan pernah melakukannya lagi.”
“Terus di mana? Di luar kantor pun kamu sulit ditemui. Password apartemen kamu juga udah kamu ganti. Terus aku gimana mau jelasin semuanya? Semuanya nggak seperti yang kamu lihat.”
“Aku percaya dengan mataku dan kamu mengkhianatiku. Itu udah cukup,” Mandala menjeda. “Dan kalau aku sulit ditemui di luar kantor itu tandanya aku nggak pengen ketemu kamu lagi. Jadi sebaiknya kamu berhenti.”
Pintu lift terbuka. Mandala langsung keluar sementara perempuan itu masih diam di lift. “Kamu bisa pergi sendiri, jangan sampe aku panggil security di bawah untuk menyeret kamu keluar. Dan juga jangan pernah datang lagi. Aku nggak akan menerimamu kamu di sini... atau di manapun.”
TBC