KAMU CINTA AKU KAN, MAS? CERAIKAN AKU.

1082 Kata
“... Kamu mau menikah sama aku? Aku janji bakal bahagiain kamu dan menjadikan kamu satu-satunya di hidupku...” “... Ibu seneng kamu ketemu Doni. Ibu bisa liat kesungguhannya. Dia kayaknya laki-laki yang baik dan pekerja keras. Ibu doain semoga kalian langgeng...” “... Lo beruntung dapet Doni. Jarang lho ada laki-laki kayak gitu. Seandainya ada Doni-Doni lainnya yang memang diciptakan buat gue. Uggh, gue iri sama lo!” Kenangan-kenangan itu berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Dulu semua itu manis, tapi sekarang semua itu terasa menyakitkan. Semua itu palsu. “Kamu b******k, Mas.” Anggun sudah tak kuasa menahan tangisnya. “Anggun, aku bisa jelasin,” Doni berniat mendekat, tapi Anggun melarangnya. Dia mundur beberapa langkah. “Apalagi yang mau kamu jelasin, Mas? Satu kata itu udah cukup mendeskripsikan semuanya. Kamu selingkuh!” “Aku nggak melakukan semua itu dengan sengaja. Semua itu... tiba-tiba dia dateng dan aku terjerat begitu aja.” “Terus kamu pikir cuma perempuan itu yang salah? Kamu juga salah, Mas. Kalian berdua yang salah di sini!” “....” “Kamu yang minta aku jangan ninggalin kamu, tapi nyatanya kamu yang ninggalin aku. Inikah balasannya untuk kesetiaan aku ke kamu?!” “Aku nggak akan ninggalin kamu, Nggun.” “Apa?!” Anggun menatap suaminya marah. Berani-beraninya dia.... “Aku nggak akan ninggalin kamu. Kamu bakal tetep jadi istri aku.” Anggun tertawa miris. “Dan kamu pikir aku masih mau jadi istrimu? Jangan mimpi, Mas!” Pintu terbuka dengan lebarnya. Anggun dan Doni langsung menatap ke pintu dengan mata membulat. Ibu mertuanya datang. “Kalian ini ada apa? Suara kalian kedengeran sampe luar!” Ibu mertuanya memarahi dan Anggun hanya bisa menunduk. Anggun cukup paham kalau apapun yang terjadi, dialah yang akan disalahkan di sini oleh mertuanya. Anak laki-lakinya tidak pernah salah, itulah prinsip Mama Mertuanya yang sangat Anggun kenali. “Anggun, ada apa ini?” “Mama tanya sama anak kesayangan Mama aja.” kata Anggun dengan cepat. Dia tidak peduli dengan etika lagi. “Doni ada apa ini?” Doni menatap Mamanya dan Anggun bergantian. Helaan nafas pelan terdengar. “Anggun tahu semuanya, Ma. Tentang Diana.” “Oh.” Anggun mendongak. Oh? Responnya terdengar seperti... biasa saja. “Mama tahu tentang hubungan Mas Doni dengan perempuan itu?” Tanya Anggun dengan mata menyipit curiga. “Mama yang mengenalkan mereka.” Jawab ibu mertuanya dengan enteng dan tanpa perasaan. d**a Anggun langsung sesak. “Mama mengenalkan perempuan lain ke Mas Doni tanpa sepengetahuan Aku? Mama tahu kalau Mas Doni dan perempuan itu selingkuh?” “Mereka memang menjalin hubungan dan Mama setuju.” Ya Tuhan! Anggun menatap Mama Mertuanya dengan hampa. “Kenapa Mama lakuin ini? Mas Doni udah beristri, Ma.” “Iya, tapi Doni belum punya anak sampai sekarang. Kamu pikir apa gunanya istri kalau bukan memberi anak ke suaminya?!” “Ma, stop!” Doni mencegah. Anggun kira tidak ada alasan yang mampu membuat suaminya berkhianat, tapi ternyata ada. Dan itu alasan yang sangat sensitif. “Hampir dua tahun kalian menikah, tapi mana hasilnya? Temen-temen Mama udah pada pamer cucu kesekian, sedangkan Mama? Satupun belum ada.” “....” “Mama mau cucu dan kamu nggak bisa ngasih, jadi jangan salahin kalau Mama cari perempuan lain yang lebih mampu ngasih Mama cucu.” “Perempuan itu hamil?” mata Anggun basah lagi. Tidak ada yang memberinya jawaban. Ditatap mata suaminya. “Mas?” selidiknya. “Iya, dia hamil. Baru tiga minggu.” Mama mertua Anggun yang menyahut tanpa kasihan. Anggun menangkup wajahnya kasar. “Status perempuan itu apa?” “Perempuan itu dan Doni sudah menikah siri. Ada masalah?” Amarah Anggun memuncak. “Jelas masalah! Aku istri sahnya Mas Doni dan Mama menikahkan Mas Doni tanpa seizinku? Mama pikir aku apa?!!” “Sebagai istri yang nggak bisa ngasih anak sebaiknya kamu terima saja. Kalau kamu nggak terima, kamu bisa minta cerai ke Doni. Itu lebih bagus, dengan begitu Doni dan Diana bisa menikah secara resmi.” Semudah itu Mama mertuanya berbicara? Anggun tak menyangka. Dia bukan menantu yang diharapkan lagi. Tidak seperti dulu. “Ma, aku nggak akan menceraikan Anggun.” “Memang apa salahnya seorang istri yang belum hamil di tahun kedua mereka menikah? Itu salahku? Kenapa Mama nyalahin aku? Kenapa Mama nggak salahin anak kesayangan Mama juga?!” “Anak Mama jelas nggak pernah salah. Ini salah kamu. Kamu yang nggak subur. Buktinya Doni berhasil menghamili Diana. Kamu mandul!” Anggun menggigit bibirnya hingga terasa sakit. Tidak, itu tidak sakit. Hati dan harga dirinya lebih sakit saat ini. Anggun selalu mencoba berfikir kalau Mama mertuanya adalah orang baik, tapi siapa sangka lidah Mama mertuanya melebihi tajamnya pisau. Mama mertuanya benar-benar tidak punya hati. “Maaf karena aku bener-bener nggak berguna di keluarga ini.” “Anggun, nggak—” “Bagus kalau kamu sadar!” “Ma!” Doni membentak. Mamanya memperkeruh keadaaan. “Mas, nikahin Diana secara sah. Dia mengandung anakmu, jadi perlakukan dia seistimewa mungkin.” “Kamu setuju aku menikah lagi?” Doni sedikit tidak percaya. Anggun terkekeh miris. “Aku setuju untuk kebaikan anak kamu yang masih di kandungan Diana.” “Nggun, aku melakukan ini hanya untuk anak yang ada di dalam kandungannya aja. Percaya sama aku. Setelah dia melahirkan, aku akan ceraikan dia. Aku—” Aku mengangkat tangannya. Dia tidak mau mendengar perkataan Doni lagi. Dia muak, bahkan sangat jijik. “Dan sebagai gantinya, ceraikan aku, Mas.” Mata Doni membulat. “Aku nggak akan menceraikan kamu, Anggun!” “Terus gimana? Cuma ini satu-satunya cara supaya kamu bisa menikahi Diana secara sah dan mengistimewakan anak kamu yang masih di kandungannya.” “Tapi nggak dengan menceraikan kamu!” “Terus gimana? Kamu mau menduakan aku?” Anggun terkekeh melihat kebingungan suaminya itu. “Dan kamu pikir aku mau diduakan? Ceraikan aku, Mas.” Kata Anggun dengan sinis. “Anggun, nggak.” “Aku mungkin nggak sempurna, tapi aku tetap perempuan. Aku nggak mau diduakan.” “Anggun...” Mata Anggun kembali berkaca-kaca. Air mata siap meluncur lagi. “Kamu cinta aku kan, Mas? Kalau iya, ceraikan aku. Bebaskan aku dari semua permasalahan ini. Aku –aku udah nggak kuat jadi bagian dari keluargamu. Biarkan aku bebas dan mencari kebahagiaanku sendiri di luar sana.” Doni termenung. “Aku tunggu surat cerai darimu.” Anggun mundur tiga langkah. Dia mencoba tersenyum di saat terakhirnya. Setelah puas memandangi suaminya untuk terakhir kalinya, Anggun membalikkan badan. Air matanya menetes dengan deras. Inilah akhirnya. Pernikahannya benar-benar berakhir di sini. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN