“Cih, apa gunanya peduli? Apa gunanya khawatir? Apa gunanya jadi salah satu orang penting di hidupnya, kalau nyatanya bukan gue yang dia cinta.” Dengus Clair pada dirinya sendiri setelah mengingat interaksinya dengan Lily beberapa jam lalu. Meski begitu Clair mengakui kalau Lily memang gadis yang baik, sopan, bahkan menyenangkan hingga mereka bisa menurunkan keformalan mereka pada satu sama lain yang sebelumnya menggunakan “saya” untuk mendeskripsikan diri masing-masing. Clair menarik dan menghembuskan napasnya sambil membalik tubuh yang semula berbaring miring di ranjangnya kini terlentang dan memandang ke langit-langit kamar yang terasa kosong. Entah bagaimana wanita itu merasa dirinya mengerti kenapa Daren bisa begitu tergila-gila pada Lily padahal untuk kasus Clair sendiri, ia baru

