Kepala Clair terangkat, mendapati Daren di sana dengan senyum lebarnya. Yang membuat Clair terngungu bukan keberadaan Daren yang akhirnya muncul setelah seminggu mereka tidak bertemu, tapi keberadaan sosok lain yang sepertinya sengaja Daren hadirkan bersamanya di sana. “Ah, Lily di sini buat makan malam sama kita. Kamu yang minta buat undang Lily sewaktu-waktu, kan?” Suara Daren terdengar sangat riang. Berbanding terbalik dengan Clair yang menatap pria itu penuh dengan rasa heran. “Sore, Kak Clair. Maaf tiba-tiba dateng. Kak Daren ngoceh terus soal Kakak yang mau ajak saya makan malam, jadi…” Clair langsung memasang senyum lebarnya, tidak ingin menunjukan ekspresi bahwa dirinya hanya satu-satunya sosok yang tidak mengerti apa-apa di sana. “Hm, persis seperti yang Daren bilang. Ah, tapi

