Twins Lover's Part 7 Playboy Elthan

1354 Kata
Author Pov. Elthan berjalan santai dengan Zio di fakultas bisnis, mereka sudah semester lima jadi jarang kuliah di jam pagi, tapi Zio mengajaknya berangkat satu jam sebelum perkuliahan mereka di mulai karena Zio harus meminjam buku di perpustakaan untuk tugasnya sementara Elthan dia tentu saja memiliki buku sendiri di perpustakaan rumahnya, dia tidak perlu repot repot meminjam buku ke perpustakaan kampus. Elthan bertemu dengan cheril, perempuan itu sedang asik membaca buku, mungkin dia sudah selesai kuliahnya, Elthan tidak lagi memandang Cheril toh dia sudah mendapatkan pengganti Cheril, lagian buat apa mengejar yang tidak pasti saat ada yang menunggunya dengan kepastian. Mengambil resiko itu perlu, tapi bagi Elthan perempuan tidak termasuk didalamnya, banyak stok wanita yang mengantri untuk Elthan, lebih baik Elthan bermain main dengan wanita yang menunggu Elthan, nanti jika saatnya dia sudah ingin menikah baru nyari yang pas untuk dijadikan istri. “Elthan, Cheril tu, enggak lo samperin?.” Tanya Zio, “Biarin aja, tohh gue udah ada Hannah, gue belum bosen sih sama Hannah,” Zio hanya mengangguk, Zio tentu saja punya kekasih, tapi kekasihnya itu sedang liburan di luar negeri jadi dia sedang menjomblo. “Yakin lo, kalau di ambil orang tau rasa lo,” Balas Zio. “Enggak penting, gue Cuma penasaran aja, gue enggak pernah pake hati buat main sama cewek, kalau mereka sih gue enggak perduli, mau main main ayo mau pake hati ya silahkan tohh nantinya kalau gue campakin mereka yang merasakan sakit,” Zio hanya mengangguk, Zio lupa jika Elthan tidak pernah menggunakan hatinya untuk main main dengan wanita. “Udah dapet bukunya?.” Tanya Elthan. “Udah, yuk cabut,” Elthan dan Zio langsung ke petugas perpustakaan untuk administrasi peminjaman buku, setelahnya mereka nongkrong di kampus sambil nunggu jam satu siang, karena kelas mereka nanti jam satu siang. Cheril sungguh menyukai perpustakaan kampusnya, banyak sekali buku buku bahasa inggris, yang bisa dia baca, dari taman kanak kanak hingga kuliah semester dua Cheril selalu mendapatkan buku bahasa inggris jadi dia merasa eneh jika membaca buku bahasa Indonesia. Sore hari Cheril baru kembali ke asrama dengan bus antar jemput mahasiswa, entah sudah berapa jam dia di perpustakaan asik membaca buku tidak kenal waktu. Cheril berjalan dengan santai memasuki “Tunggu, anda yang bernama Cheril bukan?.” Tanya penjaga asrama. “Iya, ada apa ya?.” Tanya Cheril, was was. “Inia da titipan makanan untuk kamu, silahkan di bawa,” Petugas asrama menyerahkan tiga paperbag, isinya aneka roti dari brand cukup terkenal dan juga salad, dan camilan. “Ini dari siapa ya Bu?.” Tanya Cheril penasaran, enggak mungkin Mommy dan Daddynya yang ngirim, mereka pasti bilang dulu. “Enggak tau tadi kurir yang nganter kesini, mungkin orang tua kamu.” Cheril hanya mengangguk. “Terimakasih Bu, ini salad sama roti buat Ibu.” Cheril mengambil satu kotak salad dan juga roti menyerahkan pada Ibu penjaga asrama. “Ehhh, enggak usah Nak,” Tolak Ibu penjaga asrama, dia merasa tidak sanggup untuk memakan makanan malah seperti itu. “Tidak apa Bu, lagian saya tidak mungkin memakannya sendiri, apa lagi ini cukup banyak.” Akhirnya mau tidak mau Ibu penjaga asrama menerima roti dan salad yang Cheril beri. “Terimakasih Nak,” Cheril mengangguk. “Kalau gitu saya ke atas dulu Bu.” Ibu Penjaga asrama mengangguk. Cheril masih penasaran siapa yang mengiriminya roti dan camilan sebanyak ini, bahkan kedua orang tua dan adiknya saat dia tanya tidak ada yang menjawab, sebenarnya siapa sih yang mengiriminya. Kan dia jadi takut. “Wiiihhh, banyak banget camilan sama rotinya, habis borong ya Cher?.” Tanya Prisila, dia baru masuk ke dalam kamar ketika melihat banyak roti, salad, dan camilan dari toko roti ternama. “Enggak tau, geu bingung, pas gue tanya sama orang tua gue dan adik gue mereka bilang enggak ngirim, siapa dong yang ngirim makanan sebanyak ini?.” Cheril frustasi dengan makanan di meja ini. “Yaudah kali, mending kita makan aja,” Prisila membuka salad buahnya, lalu memakannya. “Emmmm,, ini enak banget, sumpah,” Cheril melihat Prisila menikmati salad buahnya, Cherilpun jadi ikut ikutan mengambil salad buah yang belum di buka, mencicipinya terlebih dulu, rasanya memang enak. Cheril jadi ketagihan bahkan Cheril dan Prisila tanpa mereka sadari mereka sudah menghabiskan satu kotak salad buah berukuran sedang. Cheril bersyukur hari ini hari libur jadi dia bisa bersantai sejenak, mungkin dia akan jalan jalan di taman, atau jogging mumpung dia bangun pagi. Cheril sudah siap dengan kaus oblong dan celana olahraga selututnya, juga sepatu lari warna putih miliknya. Cheril mengira sepagi ini taman sepi tapi ternyata taman cukup ramai banyak mahasiswa dan Dosen sedang jogging ataupun hanya jalan jalan, Cheril sudah mengelilingi taman ini satu kali, mungkin sudah cukup untuk hari ini, lebih baik dia segera pulang ke asrama. Ponsel Cheril berbunyi, sepagi ini Dava menelfonnya, tumben. “Halo, ada apa Dav?,” Tanya Cheril. “Kak, jalan jalan yukk,, Mommy sama Daddy ke Bandung ada pertemuan, males aku di rumah sendirian.” Sepertinya Cheril juga butuh jalan jalan. “Jemput gue di kampus ya,” Ucap Cheril. “Ok,, jam delapan gue sampe sana, dandan yang cantik ya,,” Ucap Dava, dia segera mematikan sambungan telfonnya, Davano tidak ingin Cheril ngomel aja. Sementara Cheril menatap tidak percaya pada ponselnya, adiknya itu minta di hajar kali, lihat aja nanti. Cheril menunggu Dava di depan asrama, beberapa menit yang lalu Dava bilang dia sudah sampai depan kampus, nahhh itu dia. Cheril segera menghampiri mobil Audi ttrs miliknya yang di kemudikan Dava. “Cheril lo mau kemana?,” Teriak Anggika, ketika melihat Cheril mau masuk kedalam mobil. Beruntung kaca mobilnya cukup gelap jadi Anggika enggak bisa melihat Dava di dalam mobil. “Gue mau jalan, byee,,,” Cheril segera masuk kedalam mobilnya, Dava tentu saja langsung menjalankan mobilnya. Sebelum sampai di depan gerbang kampus Dava minta gantian mengemudi, Dava hanya tidak mau saja di tilang polisi, sedangkan Cheril tentu saja memiliki sim, bahkan sehari setelah dia sampai di Indonesia dia sudah mendapatkan sim. Cheril mengemudikan mobilnya ke arah plaza Indonesia, awalnya Cheril ingin mengajak Dava pergi ke pantai namun tiba tiba mendung, jadi lebih baik mereka bermain di tempat indoor saja. *** Elthan bahkan tidak pulang dari semalam, dia menginap di mansion Bryan, Kezia dan Xander sedang pergi ke Labuan baju mengecek resort dan hotel disana, jadi Elthan, Ethaan dan Ale cukup bebas di hari libur ini, makanya Elthan bisa menginap di mansion Bryan tanpa harus buru buru pulang. Anggika datang membawa pizza dan camilan lainnya, mereka bertiga para cowok sedang bermain game, entah apa yang mereka mainkan, kalau enggak salah pubg, Anggika hanya duduk sambil memakan pizzanya, menunggu mereka maka dia akan pingsan terlebih dulu. Tiga puluh menit kemudian, mereka bertiga, Bryan, Zio dan Elthan selesai main game, tentu saja sasarannya lansung pizza dan camilan yang di bawa Anggika. “Kalian akan terus main game sampai sore?.” Tanya Anggika, padahal Anggika kesini ingin main bersama tunangannya, main dalam artian pergi jalan jalan ke mall atau kemana, jangan di artikan lain ya. “Mungkin, ada apa?.” Tanya Bryan. “Enggak papa, mungkin setelah ini aku bakalan balik asrama aja, tapi di asrama sendirian, disini sendirian juga,” Ucap Anggila. “Emang temen sekamar lo kemana?.” Tanya Zio. “Prisila tadi pagi pergi ke Gereja, lalu setelahnya dia ada acara kumpul sama teman teman fakultasnya.¬ Cheril enggak tau tu pergi sama siapa, misterius banget cowoknya.” Sungut Anggika. “Cheril yang waktu itu nolak Elthan kan?.” Tanya Bryan, “Iya sayangku, atau jangan jangan Cheril udah punya pacar makanya nolak lo?,” Tanya Bryan pada Elthan. “Maybe, gue udah lupain Cheril, lagian gue masih ada Hannah, jadi itu enggak penting,” Anggika, dan Bryan sama sama mengangguk. Memang ya Elthan selalu seperti itu, tapi Anggika bersyukur Cheril menolak Elthan, jadi temannya itu tidak akan sakit hati di awal kuliahnya. “Tumben lo lama ama cewek Than?.” Tanya Bryan, “Nama gue Elthan, bukan Than,” Ucap Elthan. “Belum bosen aja sama Hannah, kalau udah bosen ya ganti yang baru,” Tambah Elthan lagi. “Atau jangan jangan cowok yang tadi, sama juga dengan yang nganter Cheril ke minimarket depan kampus,” Anggika baru ingat jika Cheril beberapa hari yang lalu sempat pergi ke minimarket tanpa harus izin dulu. “Bisa jadi, tapi kenapa jadi ngomongin Cheril sih?.,” Tanya Zio. “Anggika duluan yang mulai,” Tunjuk Bryan pada tunangannya yang duduk disebelahnya. “Kenapa jadi nyalahin gue sih?.” Tanya Anggika. “Lo yang mulai duluan,” Balas Zio. “Udah udah,,, enggak usah berantem, mending kita keluar aja yuk, nonton atau kemana.” Ajak Elthan. “Hujan Elthan, gue males ahhh,,” Sambung Anggika. “Gue enggak ngajak Lo,,” Ucap Elthan lagi. “Sialan lo,” Anggika melempar bantal padan Elthan, beruntug Elthan segera menghindar. “Awas lo ya,,” Elthan melempar bantal pada Anggika namun Anggika sudah terlebih dulu sembunyi di belakang Briyan, jadi bantalnya mengenai tubuh Bryan. “Udahh, udah,, jangan kaya anak kecil deh kalian berdua,” Tegur Bryan pada Elthan dan Anggika. Mereka berdua langsung diam, Bryan kalau marah serem cuyy,, jadi Elthan dan Anggika lebih baik diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN