Twins Lover's Part 8 Rahasia

1590 Kata
Author Pov. Ethaan menghabiskan waktu liburnya di perpustakaan, untuk apa lagi kalau bukan untuk pacarana dengan buku buku kedokterannya itu, Ethaan mememang sedari dulu duka membaca, entah buku apa saja yang dia baca dia bisa langsung mengingatnya. Kedokteran memang cukup sulit bagi sebagian orang namun tidak bagi Ethaan, asal dia rutin membaca buku dan melakukan praktik di labnya dia yakin akan sangat mudah untuknya menyelesaikan kuliah kedokterannya. Mansion memang sepi, hanya pelayan dan pengawal yang berada di rumah jadi Ethaan bisa leluasa belajar, tanpa harus terganggu oleh Mommynya dan Ale. *** Sementara Cheril dia baru saja pulang ke asramanya, hari sudah sore banyak orang berlalu lalang di lingkungan asrama namun Cheril tidak perduli. Dia sudah puas bermain dengan Dava, membeli beberapa baju, dan makanan, lalu pulang ke asrama, tentu saja Dava yang mengantarnya. Di bantu Dava Cheril mengeluarkan belanjaannya dari bagasi, Dava memang gila bisa bisanya dia keluar dengannya membawa mobil sport milik Daddynya, untung Daddynya enggak di rumah, coba kalau di rumah bisa di hukum mereka berdua. “Langsung pulang, jangan keluyuran, sampai ketemu hari minggu.” Ucap Cheril pada Dava. Dava hanya mengangguk dia memeluk Cheril tanpa sungkan, membuat beberapa pasang mata disana pada lirik lirik Cheril dan Dava, apa lagi tubuh Dava yang lebih tinggi dari Cheril juga Dava menggunakan topi jadi tidak ada yang tau jika Dava sebenarnya adiknya Cheril. Cheril sampai di kamarnya langsung menaruh paperbag dan kantong plastik di lantai, masa bodoh dengan belanjaannya lebih baik dia segera tidur. Anggika dan Prisila baru kembali ke asrama jam tujuh malam, mereka berdua kaget dengan keberadaan Cheril di kamar mereka, ada beberapa paperbag dan kantong plastik, isinya baju dan makanan. “Jangan bilang Cheril beneran pergi sama pacarnya,” Ucap Anggika pelan. “Bisa jadi, emang lo tadi pagi enggak lihat cowoknya?.” Tanya Prisila, “Gue cuma lihat mobilnya, tapi kacanya gelap,” Prisila hanya mengangguk. “Nanti aja kita tanya sama Cheril kalau dia udah bangun, mending kita makan dulu aja,”Anggika mengangguk, dia juga lapar, seharian ini memang pacarnya dan kedua laki laki jomblo itu main game di rumah Bryan jadi Anggika hanya jadi figuran aja, makanya dia cepat pulang ke asrama. Cheril bangun ketika dia mendengar berisik berisik di sekitarnya, ternyata Angggika dan Prisila sudah pulang. “Kalian sudah pulang?,” Tanya Cheril, dia duduk di tempat tidurnya, melihat jam di tangannya, puluk delapan, sudah malam ternyata. “Udah dari tadi, lo aja yang asik tidur,” Cheril hanya mengangguk mendengar ucapan Anggika. “Ahhhh,,, capeknya,” Cheril berdiri memberesi kantong belanjaannya, memasukkan paperbag berisi baju ke dalam lemari baju, lalu menata makanan di lemari kecil dekat tempat tidurnya. Setelah selesai, Cheril membawa roti chocolate dan s**u ke meja. “Kalian udah makan malam?.” Tanya Cheril pada mereka berdua yang asik maskeran. “Udah, pas tadi lo tidur,” Cheril mengangguk, dia memakan roti dan susunya. Setelah merasa kenyang, dia segera mengambil baju tidur di lemari dia butuh mandi, tubuhnya lembab dengan keringat. Hari ini hari jumat, Cheril hanya ada satu mata kuliah, namun karena kemarin hari kamis libur jadi dosen memberikan tugas yang akan di kumpulkan minggu depan. Cheril saat ini sudah duduk manis di perpustakaan, bahkan petugas perpustakaan sampai hafal dengan Cheril, yang suka di perpustakaan berjam jam lamanya, hanya untuk membaca buku atau mengerjakan tugasnya. Cheril menyelesaikan resume untuk mata kuliah hari ini, selanjutnya dia akan mengerjakan tugas kuliah kemarin namun saat melihat jam sudah jam tiga, mungkin Cheril akan mengerjakan di asramanya. Cheril meminjam dua buku untuk referensi tugasnya, nmaun saat dia sampai di depan perpustakaan dia melihat Elthan sedang bersama teman temannya termasuk Anggika. “Cherillll,,” Panggil Anggika, Cheril hanya melambaikan tangannya. “Hy,,” Cheril terpaksa menghampiri Anggika. “Lo mau kemana Cher?.” Tanya Anggika,, saat tentu saja canggung bagi Elthan dan Cheril, huhhh lagian Cheril kenapa tadi menghampiri Anggika segala. “Gue mau ke asrama, gue duluan, bye Anggika, bye kakak kakak semua,” Cheril berjalan meninggalkan mereka berempat. Elthan entah kenapa terus memandangi Cheril yang berjalan keluar Gedung fakultas bisnis. “Kalau suka ya kejar, jangan memandang dari jauh, bukan tipe lo banget deh,” Cletuk Bryan. “Jangan bilang lo beneran jatuh cinta sama Cheril, tapi bisa jadi sihh secara Cheril itu blasteran kaya lo gitu, cocok deh pokoknya kalau sama lo,” Sambung Zio, “Kalau mau sama Cheril di seriusin, jangan di mainin dia cewek baik baik Elthan.” Tambah Anggika, ucapan Anggika barusan mengundang tawa Bryan dan Zio. “Yakin lo Elthan bakalan berubah hanya untuk Cheril, gue enggak yakin, mungkin nanti kalau emang Elthan beneran sama Cheril, Cheril yang berubah, terus ngintilin Elthan kemana mana,” Balas Zio lagi, mereka sudah berteman dari kecil sifat Elthan dan Ethaan yang bertolak belakang membuat mereka tau jika Elthan orangnya suka main main dan Ethaan orang yang suka serius, dari dulu hingga sekarang tetap sama, kemungkinan sedikit sekali Elthan mau berubah untuk Cheril. “Why not, semua bisa berubah, kalau Elthan mau mendapat yang lebih baik, enggak salah berjuang, dan juga memperbaiki dirinya.” Ucap Anggika lagi. “Kenapa kalian berdua yang ribut sih, tu Elthan aja masih memandangi pintu keluar, kaya orang kesambet, Cuma diem aja, udah tinggalin aja yuk,” Bryan mengajak mereka bertiga meninggalkan Elthan yang masih melamun, entah apa yang di lamunan Elthan mereka tidak ada yang tau. Elthan baru menyadari jika dirinya melamun ketika seorang perempuan datang memberikan bingkisan kado pada Elthan, perempuan itu memanggil Elthan beberapa kali hingga Elthan tersadar dari lamunannya. “Ada apa?.” Tanya Elthan. “Ini kak, buat Kak Elthan, bye Kakak Elthan,” Perempuan muda itu langsung pergi meninggalkan Elthan setelah memberikan kado untuknya, Elthan yang penasaran langsung membuka isi kadonya. Sebuah gelang, namun bukan gelang mahal, tapi ini unik, ahhh Elthan bahkan lupa wajah perempuan yang memberinya kado tadi, ada inisial namanya disana, EQT. Elthan memasukan gelang dari perempuan itu ke tasnya, tapi tunggu dimana teman temannya, bukannya mereka tadi mau main billyard bareng kenapa hanya dia yang ada di lobby?. Elthan langsung mengambil ponselnya, tentu saja menelfon Zio. “Lo dimana?.” Tanya Elthan, “Udah sadar dari lamunan lo? Kita di parkiran, cepet nyusul atau gue tinggal,.” Ucap Zio, dasar teman lucnut, main tinggal aja. “otw,”Elthan segera mematikan sambungan telfonnya, dia melangkah menuju parkiran fakultas bisnis. *** Ethaan baru saja menyelesaikan tugasnya, ini sudah setengah lima sore, saatnya pulang sebelum kanjeng mami Kezia marah padanya, karena melewatkan makan mlam dirumah. Langkah Ethaan terhenti ketika melihat Cheril, aka perempuan yang dia sukai sedang duduk di kursi taman fakultas kedokteran, dilihat dari bajunya, sepertinya dia baru selesia olahraga. Ethaan kebetulan waktu keluar dari perpustkaan membeli minuman isotonic. Ethaan menyerahkan satu minumannya pada Cheril Cheril sendiri yang menunduk langsung mendongak ketika melihat seorang laki laki mengulurkan minuman untuknya. “Kak Ethaan?.” Tanya Cheril, Cheril sekarang bisa membedakan mana Elthan dan mana Ethaan, dari bola mata mereka, kalau Elthan itu bola matanya hitam pekat seperti milik Tante Kezia, sementara Ethaan hijau ke abu abuan sama seperti Uncle Xander, tapi mata mereka sama sama memiliki tatapan setajam pisau bedah. Ethaan tidak bicara dia duduk disamping Cheril, setelah Cheril mengambil minuman yang di sodorkan Ethaan tadi. “Kak Ethaan baru pulang kuliah?.” Tanya Cheril, tidak ada salahnya membuka percakapan bukan, lagian Ethaan beberapa hari yang lalu sudah menolongnya. “Heemmm,,,” Balas Ethaan, Cheril tidak mengira jika pertanyaannya akan di balas dengan deheman Ethaan, ini Ethaan sebenarnya memang irit bicara atau lagi sakit tenggorokan sih. “Malam minggu besok, lo ikut gue, gue jemput di depan asrama lo, dandan yang cantik.” Setelah mengatakan itu Ethaan segera bangkit dari duduknya, meninggalkan Cheril yang masih diam mematung, mencerna ucapan Ethaan, namun saat Cheril sudah mencerna ucapan Ethaan barusan Ethaan sudah hilang entah kemana, berserta mobilnya. Sementara Ethaan fokus mengemudikan mobil sportnya keluar dari lingkungan kampus, Ethaan bahkan tersenyum mengingat wajah polos Cheril. Hanya Cheril perempuan satu satunya yang bisa membuat Ethaan tersenyum tanpa harus melawak di depan Ethaan, hanya mengingat Cheril saja Ethaan bisa tersenyum, Ethaan sudah mulai bucin nihhh.. Ethaan sampai di mansion langsung duduk disamping Ale yang sedang main game, tumben adiknya itu di rumah, biasanya sore gini suak keluyuran. Kezia heran dengan Ethaan yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, biasanya jam segini Ethaan akan mengurung diri di perpustakaan kamarnya. Kezia mengintip dari belakang Ethaan, Kezia kaget melihat Ethaan memilih milih cincin berlian, jangan bilang anaknya sudah punya pacar. “Ethaan, kamu mau beli cincin,” Ethaan segera menyembunyikan ponselnya ketika mendengar teriakan Kezia di belakangnya, sialan Mommynya kapan ada di belakangnya. “Mom, jangan ganggu Ale, cacing Ale mati kan,,” Bukan Ethaan yang protes tapi Ale, anak perempuannya itu memang suka main game, sama seperti dirinya dulu. “Ale, jangan main game mulu, belajar sana,” Kezia menjewer telinga Ale, Ethaan yang mendapat kesempatan untuk kabur langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Ale dan Kezia yang ribut di sofa ruang keluarga. “Ale,, kan Ethaan pergi, kamu sih, gangguin Mommy aja,” Kezia duduk disamping Ale. “Kok Mommy jadi nyalahin Ale, kan Mommy tiba tiba teriak bikin cacingku nabrak.” Protes Ale lagi. “Mau Mommy ambil lagi ponsel kamu?,” Tanya Kezia, Ale segera berlari meninggalkan Kezia, lebih baik dia kekamarnya, dari pada ponselnya di ambil Kezia, bisa galau dia. “Ale kembali enggak, Mommy belum selesai bicara.” Teriak Kezia, namun Ale tidak memperdulikan teriakan Kezia. *** Elthan baru pulang ke rumah sebelum jam makan malam, dia segera masuk ke kamarnya, mandi, lalu turun kebawah untuk makan malam bersama keluarganya. Ethaan dan Elthan turun kebawah bersama sama, Elthan menyadari ada yang aneh dengan Ethaan saudara kembarnya itu sepertinya sedang Bahagia, apa dia ketinggalan sesesuatu?. Di meja makan sudah ada Ale dan Xander, sementara Kezia mungkin masih sibuk di dapur, Mommynya itu terkadang suka masak namun jika sudah malas masak air panaspun menyuruh pelayan. Disela sela makan malam Kezia memulai percakapannya, “Jadi Ethaan tadi beli cincin untuk siapa?,” Tanya Kezia, Elthan dan Xander kompak langsung tersedak, sementara Ale dan Ethaan hanya diam fokus dengan makan malamnya. “Ethaan, jawab Mommy dong,” Pinta Kezia. “Ekhemmm,,” Xander berdehem mengkode agar Ethaan bicara namun anaknya itu tetap diam, ishhh sadar ice prince. “Ethaan jawab Mommy,,” Pinta Kezia, Ethaan yang duduk dihadapan Kezia mentap Kezia dan Xander sebelum bicara. “Rahasia,” Jawab Ethaan, membuat Kezia langsung mendesah kecewa. Anaknya itu susah sekali untuk di ajak bicara, hanya bicara tentang kampus atau pekerjaannya baru dia bicara panjang lebar, tapi kalau urusan lainnya jangan harap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN