Author Pov.
Sore itu Cheril mendapat kiriman sebuah gaun sederhana berwarna sky blue dari seseorang, Cheril sendiri tidak tau siapa yang mengirimnya namun saat ada nomor baru menelfonnya akhirnya Cheril mengertahui jika Ethaan yang mengirim gaun untuknya, Cheril tidak tau Ethaan akan membawanya kemana, hingga dia harus menyiapkan gaun untuknya.
Setengah jutuh malam Cheril sudah siap di asramanya, kedua temannya itu bahkan tidak pergi hanya untuk mengetahui Cheril jalan dengan siapa, sementara Cheril sendiri tidak yakin dengan ini semua, yang benar saja dia beberapa waktu yang lalu menolak Elthan kini saudara kembarnya alias Ethaan mengajaknya jalan.
Ethaan memarkirkan mobilnya di depan asrama Cheril, dengan celana jeans hitam, baju hitam, jas berwarna sky blue seperti milik Cheril Ethaan bahkan sengaja duduk di kap mobil miliknya menggoda para perempuan jomblo untuk mendekat, mereka bahkan heran dengan kedatangan ice prince di asrama perempuan, apa mungkin Ethaan sudah memiliki kekasih dari asrama perempuan, tapi setau mereka anak orang kaya tidak akan mau tinggal di asrama seperti ini.
Demi melihat laki laki yang mengajak Cheril jalan, Anggika dan Prisila ikut turun, namun mereka berdua tidak menyangka jika Elthan, eehhhh salah, Ethaan yang mengajak Cheril jalan, karena disana hanya ada satu laki laki yaitu Ethaan.
“Cheril lo serius jalan sama ice princenya fakultas kedokteran, mimpi apa gue semalam melihat lo jalan sama Ethaan,” Prisila heboh sendiri, karena mendengar cerita dari pada senior dan mahasiswi kedokteran seorang Ethaan itu sangat pendiam, irit bicara kecuali saat debat dan presentasi dia akan banyak bicara, dan yang pasti selama ini seorang Ethaan itu jomblo, dia tidak pernah terlihat jalan dengan perempuan, bahkan membicarakan perempuan saja dia tidak mau, tapi ini dia mengajak jalan Cheril yang benar saja, ini seperti mimpi.
“Gila,, Cheril gila,,” Anggika saja tidak percaya, bagaimana bisa Cheril mengenal Ethaan, tidak mungkin laki laki yang jalan sama Cheril pagi itu Ethaan, karena Anggika tau Ethaan tidak memiliki mobil audi TTrs.
“Gue duluan.” Cheril mendekat pada Ethaan, sungguh, ini pertama kalinya dia jalan dengan cowok di Indonesia, dan yang lebih gila lagi itu Ethaan, laki laki yang di juluki ice Prince di kampus ini.
“Yuk berangkat,” Ethaan benar benar memperlakukan Cheril dengan baik, Ethaan membukakan pintu untuk Cheril, hal sederhana yang jarang di lakukan cowok.
“Gila, Ethaan kenapa bisa romantis banget sama Cheril, kapan Bryan bisa kaya gitu sama gue.” Anggika meratapi nasibnya, Bryan cukup cuek pada Anggika, makanya Anggika cukup iri dengan Cheril yang di perlakukan semanis itu sama Ethaan.
“LO yang punya pacar aja iri apa lagi gue yang jomblo.” Sambung Prisila, mereka bahkan sudah tidak melihat mobil Ethaan di parkiran.
Baik Cheril dan Ethaan mereka sama sama diam, Cheril bahkan tidak tau harus bicara apa, dia sendiri tidak sedekat itu dengan Ethaan, sementara Ethaan dia tidak tau harus memulai bicara dengan Cheril seperti apa, tapi dia mencoba untuk bicara, masa iya dia akan membiarkan wanita cantik ini diam melamun disampingnya.
“Apa kamu suka dengan gaunnya?.” Tanya Ethaan, Cheril yang melamun pun kaget di buatnya,
“Ehh,, iya,, nyaman di pakai,” Jawab Cheril seadanya, memang gaun ini cukup nyaman untuknya.
“Ohhh,,” Ethaan hanya ber ohh ria, sementara Cheril sendiri ingin bicara pada Ethaan cukup sungkan, apa lagi Ethaan mendapat julukan ice prince, pasti irit banget bicara.
“Kita mau kemana Kak?.” Tanya Cheril akhirnya dia mencoba membuka pembicaraan.
“Makan,” Balas Ethaan, Cheril mungkin harus banyak sabar jika punya pacara kaya Ethaan, ehhh tapi kenapa malah bahas pacar sih, emang Ethaan mau apa pacarana sama dia.
Ethaan menghentikan mobilnya di salah satu restoran ternama di Jakarta, ini sih bukan restoran untuk anak muda tapi kenapa Ethaan ngajakin kesini.
Cheril turun dari mobil Ethaan di bukakan pintu oleh petugas valet, Ethaan keduluan dong, kasihan.
Mereka sama sama masuk kedalam restoran, Ethaan membawa Cheril naik ke lantai dua, ini pertama kalinya Cheril datang ke restoran ini jadi dia tidak tau apa apa.
Ethaan masuk ke private room, enggak mungkin kan Ethaan mengajaknya kesini hanya untuk makan berdua aja, tapi bisa jadi, melihat bagimana Ethaan yang pendiam Cheril yakin jika Ethaan butuh tempat yang tenang dan nyaman hanya untuk makan, bukan seperti dirinya yang bisa makan dimana saja, mau tempat ramai atau sepi, mau di restoran mahal atau kaki lima yang penting makan.
Tapi saat mereka masuk, Cheril baru menyadari jika ini bukan makan malam untuk berdua, tapi untuk keluarga besar mereka, karena di dalam yang Cheril kira sepi, ada kedua orang tuanya dan Dava serta kedua orang tua Ethaan, dan adik Ethaan, tidak ada Elthan kah? Atau mungkin Elthan belum datang, tapi kenapa dia malah mencari Elthan sih.
“Cheril sayang, akhirnya kita bisa bertemu juga,,” Kezia langsung memeluk Cheril karena memang tempat duduknya dekat dengan pintu.
“Cheril juga seneng bisa ketemu sama Tante,” Cheril bicara setelah Kezia melepas pelukannya.
“Devan, sepertinya kita di lupakan ya,,” Ucap Letisha, Cheril tau Mommynya itu minta juga di peluk.
“Cheril enggak lupa dengan Mommy, Cheril menghampiri Letisha, lalu memeluknya, setelahnya bergantian dengan Devan, dan terakhir memeluk Xander.
“Ayo Cheril duduk di tempat kamu, di samping Ethaan, kita bicara santai sambil menunggu Elthan,” Cheril mengangguk, dia segera duduk disamping kiri Ethaan sementara di samping Cheril ada Dava adiknya.
Mereka membicarakan kuliah Cheril, bagaimana adaptasi Cheril di kampus barunya, juga keluh kesah Letisha yang kembali berpisah dari Cheril. namun saat pintu di buka semua orang langsung melihat ke pintu, disana ada Elthan, dia tentu saja tidak sendiri, dia bersama Hannah model yang saat ini sedang naik daun, Elthan tentu saja memiliki selera tinggi terhadap wanitanya.
Setelah mengenalkan Hannah pada kedua orang tuanya dan juga pada Devan Letisha, mereka berdua duduk di kursi kosong samping Xander, Elthan bahkan baru menyadari jika perempuan yang duduk disamping Ethaan itu Cheril, tapi kenapa Cheril disini.
“Elthan, kenalkan dia Cheril, anak Om Dava dan Tante Letisha,” Elthan hanya mengangguk, dia tentu saja mengenal Cheril tanpa perlu Daddynya jelaskan.
“Bukannya Elthan dan Cheril satu fakultas? Kalian tidak mengenal sebelumnya?.” Tanya Devan.
“Cheril mengenal Elthan Dad, teman Cheril Anggika, tunangannya teman Elthan.” Jelas Cheril.
“Ow begitu,” Devan menganggukan kepalanya.
“Lalu Cheril, apa kamu tau siapa perempuan yang berani menolak anak Om?.” Tanya Xander, Cheril yang sedang minum langsung tersedak, Ethaan tentu sigap memberikan air pada Cheril Elthan mengawasi semuanya, bahkan ada rasa tidak rela saat Ethaan memperlakukan Cheril seperti itu.
“Dad, sudah, itu cerita masa lalu, abaikan, saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan Hannah,” Elthan angkat bicara, dia tidak mau Cheril kena masalah nantinya.
“Ok Boy, Daddy tidak akan bicara lagi, mungkin nanti Daddy akan cari tau lewat Cheril,” Gurau Xander lagi.
“Sudah sudah, ayooo kita makan,” Kezia mengajak mereka semua untuk makan, tohh malam ini mereka berkumpul untuk makan bersama.
Mereka selesai makan, piring piring sudah di bereskan pelayan beberapa menit yang lalu, kini tinggal hidangan penutup, sperti ice cream, salad, pudding, satu orang mendapatkan pudding, namun Dava segera mengambil pudding milik Cheril, menggantinya dengan ice cream miliknya, Dava hanya tidak ingin Kakaknya jijik melihat pudding tersaji di hadapannya.
Devan dan Letisha yang tau anaknya tidak bisa makan pudding pun membiarkan, Cheril memakan ice creamnya dengan santai sambil mendengarkan Daddynya dan Om Xander membicarakan bisnis.
“Cheril kamu mau pulang ke rumah atau mau ke asrama?.” Tanya Devan saat mereka sudah berada di parkiran. Ini baru jam setengah Sembilan malam, asrama belum tutup lebih baik dia pulang ke asrama saja.
“Aku ke asrama Dad,” Devan mengangguk, Cheril tentu masuk kedalam mobil Ethaan, setelah berpamitan dengan orang tua masing masing Ethaan menjalankan mobilnya kea rah kampus, namun di tengah perjalanan Ethaan melihat ada pasar malam, dia tentu beberapa kali ke pasar malam, mungkin mengajak Cheril ke pasar malam bukan masalah kan.
Cheril sendiri heran dengan Ethaan, kenapa dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan coba.
“Mau main kesana?.,” Tunjuk Ethaan pada pasar malam di lapangan yang cukup ramai, serius Ethaan mengajaknya ke pasar malam.
“Boleh, tapi baju aku?,” Cheril sepertinya salah kostum, dan juga gaun yang Cheril gunakan tidak memiliki lengan, ini sudah malam juga, Ethaan melepaskan jasnya, memberikan pada Cheril.
“Pakailah biar tidak kedinginan.” Cheril mengangguk dia langsung memakai jas yang diberikan Ethaan.
Ethaan mengajak Cheril naik bianglala, ini pengalaman Cheril naik bianglala, Cheril mengira mereka hanya satu kali berputar, tapi ternyata berkali kali bahkan Cheril berteriak saat dia menyadari bianglalanya berputar makin kencang. Ethaan yang tau Cheril ketakutan langsung berpindah kesebelah Cheril walau dia tau tempat duduknya cukup sempit untuk mereka.
Tanpa sengaja Cheril memegang tangan Ethaan, Ethaan sendiri tidak bicara apapun, dia bahkan memandangi wajah Cheril yang Nampak antusias namun takut sekaligus, Ethaan bahkan tersenyum hanya dengan memandangi wajah Cheril.
Ethaan dan Cheril keluar drai bianglala, Ethaan tau kepala Cheril cukup pusing, tidak jauh dari sana ada penjual jagung bakar.
“Mau jagung bakar?,” Tanya Ethaan tentu saja pada Cheril.
“Boleh,,” Ethaan dan Cheril berjalan mendekati penjual jagung bakar, Ethaan memesan dua jagung bakar, pedas.
Tidak menunggu lama jagung bakar mereka matang, Ethaan dan Cheril sama sama menikmati jagung bakar yang masih hangat itu.
“Gimana enak?,” Tanya Ethaan tiba tiba.
“Enak, aku suka, ini pertama kalinya aku makan jagung bakar,” Jelas Cheril, Ethaan mengangguk, Cheril lama tinggal di Kingston mana ada disana jagung bakar.
“Mau keliling lagi setelah ini?.” Tanya Ethaan lagi, Ethaan mungkin harus membiasakan bicara dengan Cheril agar Cheril bisa nyaman dengannya.
“Boleh, tapi asrama?.” Cheril melihat jam di pergelangan tangannya sudah pukul Sembilan lebih sebelas menit, kalau kembali sekarangpun sepertinya tidak cukup waktu,.
“Menginap saja di apartemenku, ada dua kamar kok, santai aja,” Cheril mengangguk, tohhh ada dua kamar kan, kalaupun Cuma ada satu kamar Cheril bisa tidur di sofa.
“Ayo jalan lagi,” Ethaan menggandeng tangan Cheril lagi, mereka berkeliling, ada permainan lempar bola, hadiahnya bermacam macam, tadi Ethaan tertarik dengan boneka beruang berukuran cukup besar, tentu saja Ethaan mampu untuk membeli di toko, bahkan membeli pabriknya sekalipun tapi entah kenapa dia ingin memberikan boneka itu pada Cheril, jadi Ethaan mencoba permainan itu, Ethaan mendapat kesempatan tiga kali untuk meruntuhkan susunan kaleng dengan bola kecil mungkin bolanya hampir sama ukurannya dengan bola kasti.
Satu kali percobaan Ethaan berhasil meruntuhkan semua kaleng yang sudah di susun berbentuk piramida, jadi Ethaan langsung mendapatkan bonekanya dalam sekali percobaan.
“Untuk kamu,” Cheril kira Ethaan hanya main main dengan lempar bola, namun ternyata Ethaan bermain lempar bola tadi untuk memdapatkan boneka beruang yang sempat Cheril lirik tadi.
“Makasih Ethaan.” Ucap Cheril, bahkan dia sendiri tidak menyangka Ethaan akan memberikannya boneka beruang itu.
“Mau keliling lagi?.” Tanya Ethaan, Cheril hanya menganguk, satu tangan Cheril megang boneka yang cukup besar, Ethaan yang tau Cheril kesusahan langsung membantunya, Ethaan mengambil alih boneka Cheril, satu tangan Ethaan menggandeng tangan Cheril.
“Ethaan, itu permen kapas ya?.” Tanya Cheril pada Ethaan ketika mereka melewati penjual permen kapas.
“Heemmm,, tunggu sini,” Ethaan berjalan ke penjual permen kapas, dia membeli satu permen kapas, Cheril menerima dengan senang hati permen kapas yang Ethaan berikan.
“Kita ke mobil udah cukup malam,” Cheril mengangguk, mereka berjalan bersama, tangan Ethaan tentu saja masih menggandeng tangan Cheril, Ethaan tau cara memperlalukan wanita.