44. terusir

1120 Kata

Aku membuang napas lega saat akhirnya suapan terakhir bubur ayam masuk ke dalam lambung. Sumpah ya, sebenarnya di suapan pertama saya rasanya aku mau muntah lantaran mencium aroma bubur ayam yang entah sejak kapan sangat amat tidak enak itu. Belum lagi teksturnya yang super lembek dan acak-acakan karena Jo mengaduk rata bubur ayamnya. Perutku rasanya berputar seperti truk molen yang sedang mengaduk semen. Tapi untungnya, aku bisa menahan rasa itu sampai suapan terakhir yang membuat Jo tersenyum puas. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan pidato sepanjang apa yang akan cowok itu sampaikan padaku. “Obatnya diminum dulu, Ya.” Jo menyerahkanku duah buah pil berbentuk bulat yang tentu saja mau tidak mau harus aku minum. “Yang bulat warna putih ini kamu minum sekali kali sehari ya, Ya. Kala

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN