7. lah kok ....

1054 Kata
Sungguh sial. Kenapa sih aku selalu kekurangan baju? Tumpukan baju yang memenuhi seisi lemariku sungguh tak berguna. Warnanya sangat monoton dan aneh banget. Nggak cocok untuk dipakai buat first date. Aku membuang napas kesal. Satu lagi bau lengan panjang berwarna putih dengan motif floral yang menghiasi bagian kerahnya aku lempar dengan sembarang. Itu pilihan terakhir dan kini, aku sungguh tidak ada baju. Aku menyerah. Kini satu-satunya harapan yang aku punya adalah Dela. Semoga saja dia punya baju yang bagus dan bersedia meminjamkannya padaku. Barisan pesan teratas tertulis nama Jo di sana, membuat aktivitasku yang hendak menelpon Dela. Tidak ada pesan jawaban darinya meski pria itu telah membacanya beberapa jam yang laku. Apa dia marah? Ya … aku memang bodoh. Sudah pasti dia marah. Memang sih, aku sangat tidak sopan karena memilih untuk membatalkannya lewat chat. Seharusnya, aku bicara secara langsung dan berterima kasih dengan sopan. Hanya saja saking excited-nya ketemu Dewa, aku sampai lupa tata krama. Nanti aja deh, kalau aku tak sengaja bertemu dengannya aku akan berterima kasih. “Kenapa nih?” suara Dela menyahut dari seberang sana, membuat lamunanku buyar seketika. “Gue nggak ada baju,” kataku dengan lesu. “Astaga, Ya. Itu yang di belakang lo jadinya apa? Makanan kucing?” sakras Dela sambil menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. “Bukan!” elakku dengan cepat. Plis deh, aku lagi nggak mood dengerin julitan Dela. “Maksudnya tuh gue nggak punya baju yang cocok. Masa iya gue first date pakai kemeja putih? Udah kaya mau interview kerja aja.” “Yaudah deh, sini lo. Lemari gue selalu terbuka,” izinnya tanpa ragu. Memang deh, sahabatku yang satu ini memang paling peka. Terbaik! “OKAY, GUE OTW!” “Eh, Dewa yang mana sih yang mau lo temuin?” kini ekspresi wajah Dela terlihat kebingungan, seakan-akan tengah mengabsen satu-persatu nama Dewa yang ia kenal. “Ya gue nggak tahu. Kan udah dibilangin kalau orangnya nggak pake foto profil.” Sumpah deh, sejak tadi pagi Dela selalu menanyakan hal yang sama. Apa dia nggak bosen denger jawabanku yang selalu sam juga? “Nama lengkapnya juga nggak ada?” tanyanya lagi. “Ada ….” Aku memejamkan mataku, kembali mengingat-ingat siapa nama lengkap Dewa. “Kalau gue nggak salah ingat namanya Sadewa Dinata.” “Sadewa Dinata?” Dela kembali mengulang jawabanku, seakan-akan tak percaya mendengarnya. “Iya!” angguk ku penuh semangat. “Lo kenal, ya? Gimana? Ganteng?” tanyaku bertubi-tubi. “Ya enggak, sih.” Dasar tukang pemberi harapan palsu a.k.a PHP. “Tapi namanya kayak pernah dengar.” Sontak, aku tertawa terbahak-bahak. Tidak kusangka Dela akan se-polos ini. “Ya jelas pernah dengar lah! Lo pikir nama Dewa nggak pasaran? Coba lo lihat data mahasiswa kampus, gue yakin yang namanya Dewa kalau dikumpulin pasti ada lebih dari seribu.” “Tapi, Ya--” “Udah deh, gue nanti telat. Otw ke rumah lo sekarang ya, Del,” potong ku dengan cepat. Jika terus meladeni rasa penasaran Dela, bisa-bisa aku nggak jadi nge-date. *** Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, aku merasa seperti princess. Tidak salah sih aku memberi predikat Dela sebagai The Rich One karena dia memang sekaya itu! Lihat dress selutut yang aku pakai sekarang, aku tahu pasti harganya bisa sampai jutaan mengingat merk yang terpampang di bagian belakang leher itu sangat terkenal di berbagai penjuru dunia. Rasa percaya diri yang akhir-akhir ini runtuh kembali terbabgun meski tidak sempurna. Jangan tanya karena siapa, sudah pasti jawabannya Dimas. Sebenarnya ini tidak sepenuhnya salah Dimas, sih. Tapi salah selingkuhannya juga karena perempuan tak tahu malu itu-lah yang menyebabkan kepercayaan diriku hilang. “Gue akui lo emang lebih cantik daripada gue. Tapi asal lo tahu, muka cantik lo itu buat orang gampang bosen, tahu nggak.” Memang sialan. Ya ya ya, seharusnya perkataan yang keluar dari mulut seorang perusak hubungan orang tidak perlu aku dengarkan. Tapi karena salah satu hobi tak berguna yang aku miliki adalah overthinking, aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Apa iya muka cantikku ini ngebosenin? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyesal menjadi cantik. Adelia Laras, nama lengkap selingkuhan Dimas. Perempuan itu adalah teman seangkatan Dimas di jurusan yang sama dengan kelas yang entah kenapa selalu sama pula. Awalnya aku berpikir mereka berdua hanyalah bestie semata saat beberapa kali aku memergoki mereka jalan berdua. Tapi ternyata oh ternyata, hubungan mereka sudah sampai ke yang …. seharusnya aku tidak perlu jelaskan karena sudah pasti kalian paham, bukan? Oke, aku beri sedikit qlue. Ranjang. Beberapa orang mengakui Adelia memiliki wajah yang manis--tidak termasuk aku loh, ya. Ogah banget aku muji pelakor. Dan sialnya lagi, aku banyak mitos-mitos yang beredar kalau wajah manis itu lebih banyak menarik perhatian orang karena nggak pernah bikin bosan. Sial banget, kan? Sejak saat itu, aku mulai tidak percaya diri. Media sosialku yang biasanya aktif memposting setidaknya satu foto selama seminggu kini tidak pernah aku lakukan lagi. Semua foto yang sudah aku upload sengaja aku arsipkan. Terakhir, aku memprivasi semua akunku dan menjauh dari segala hal yang membuatku menjadi pusat perhatian. Setiap malam, perkataan Adelia selalu menggangguku. Muka lo ngebosenin. Aku menyesal sudah terlahir cantik. Kenapa sih, aku tidak terlahir manis saja seperti Adelia? Aku menelan ludahku, berusaha mengusir bayang-bayang dua orang yang akan selalu ku benci sampai aku berubah menjadi tulang belulang. Tidak seharusnya aku memikirkan dua orang tidak tahu diri itu lagi, bukan? Toh, sekarang aku akan memulai awal yang baru dengan seseorang bernama Dewa. Aku gugup bukan main saat mengetahui jam sudah menunjukkan pukul 5 yang berarti Dewa seharusnya sudah datang sekarang. Sial. Aku tremor. Jariku bergetar tak karuan, bahkan aku tidak bisa membalas pesan Sandra dan Dela yang dari tadi heboh sendiri menunggu update-an terbaru dariku. Oke, aku harus teguh. Mereka yang membuatku seperti ini. Cacian dan tamparan di depan umum saja tidak cukup. Aku harus melakukan balas dendam yang jauh lebih kejam. Aku tidak salah melakukan ini. “Permisi, ini Aya, bukan?” saat panggilan dengan nada yang lembut itu membuat detak jantungku semakin cepat. Dia sudah datang. Dengan gugup, aku mengangkat kepalaku dengan gerakan sepelan mungkin bak adegan film yang di slow motion. “Hal--” Seketika, ekspresi ramah ku menghilang entah kemana, berganti dengan mulut yang menganga lebar yang selaras dengan kedua bola mataku. Sungguh, saking terkejutnya aku bisa merasakan jantungku berhenti berdetak selama beberapa saat. “Lah kok ….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN