Kekesalanku sudah mencapai puncaknya sekarang. Bahkan setelah berendam selama satu jam penuh ditemani dengan wewangian yang menenangkan, aku tetap saja merasa kesal.
"Ini pacarku, Tan."
Agh, dasar Jo sialan! Bisa-bisanya dia buat berita macam-macam seperti itu. Dengan cara apapun, pokoknya aku harus menemukan pengganti Jo secepatnya! Bisa gila aku berdekatan dengan cowok nggak waras itu.
“Hari gini masih, jomlo?”
Seketika, aku menoleh pada televisi yang sedang menganpilkan iklan dengan pembuka sadis yang berhasil mengambil alih perhatianku.
“Yakali kalah sama mantan yang sudah nyebar undangan.”
Sial. Bahkan iklan di TV saja sudah berani menyindirku. Memang ya, dunia ini kejam banget.
“KetemuanYuk! Aplikasi kencan nomor satu se-Indonesia dengan ratusan ribu pengguna yang berhasil mendapatkan pasangan.”
Aku memicing, menatap deretan gambar warna-warni yang didominasi dengan warna merah muda dan bentuk hati. Norak banget.
“KetemuanYuk! dijamin dapat gandengan!"
Bahkan setelah iklan itu berganti dengan yang lainnya, aku masih terpaku. Dijamin dapat gandengan. Hm … boleh juga.
Dengan tergesa-gesa, aku sibuk mencari ponselku yang sialnya entah aku lempar kemana. Ini adalah kesempatan brilian! Kenapa aku tidak berpikir dari kemarin-kemarin saja?
“Dapat!”
Dengan mengandalkan kecepatan WiFi kamar kosku yang harganya tidak seberapa, aku men-download aplikasi KetemuanYuk! tak sabaran.
Tidak sampai satu menit, aplikasi itu telah terpasang sempurna di ponselku. Logo bentuk hati yang dibuat oleh sepasang tangan menyambutku penuh keramahan.
Selamat datang!
Detik berikutnya, aku langsung dialihkan menuju halaman daftar yang mengharuskanku mengisi data seperti nama lengkap, nomor ponsel, tanggal lahir, serta t***k bengek lainnya yang bahkan membuatku curiga.
Apa aplikasi ini penipuan? Kenapa nanyanya sampai detail seperti ini, sih?
Setelah memasukkan kode verifikasi dan mencentang bagian “saya bukan robot”, akhirnya aku beralih juga ke halaman home yang kini memintaku untuk mengisi tipe ideal.
Rentang usia: 22-25 tahun
Pekerjaan: mahasiswa
Domisili: Jakarta Selatan
Warna rambut: hitam
Tinggi: 170-185 cm
Warga Negara: Indonesia
Senyumku merekah saat tombol selesai itu sudah ku tekan penuh semangat. Kini, layar ponselku berubah menjadi merah muda dengan tulisan “tengah mencari pasangan” yang berada di tengah-tengahnya.
Dahiku mengkerut saat hanya mendapati satu profil yang muncul di-list teratas dengan total kecocokan 78%. Masa iya cuma satu doang? Perasaanku aku tidak memasukkan data pasangan ideal yang neko-neko, kok.
Tidak ada foto profil yang terpampang di sana. Hanya tertampil nama Sadewa Dinata dengan informasi pribadi seperti umur, jenjang pendidikan, serta status saat ini. Di ujung profilnya, terdapat tanpa hijau terang yang berarti dia sedang online.
“Semoga berhasil!”
Setelan menekan tombol hati, aku langsung dialihkan ke kolom obrolan pribadi saat tiba-tiba saja status di atas sana bertuliskan “mengetik”, jantungku rasanya mau copot.
Sadewa Dinata: Halo! Aku Dewa
Senyumku merekah saat mendapati sambutan yang ramah.
Me: Hai! Aku Aya
Sadewa Dinata: Hai Aya, salam kenal ya. Btw, kamu kuliah di Petsada?
Me: iya. Kamu juga kan, ya? Aku lihat di bio kamu
Sadewa Dinata: Yoi! Jangan-jangan kita pernah nggak sengaja ketemu nih
Sadewa Dinata: Atau jangan-jangan jodoh, hahaha
Percakapan itu berlangsung lama. Aku tidak tahu berapa jam persisnya. Bahkan saking nyamannya, aku mengabaikan dentingan jam yang terus berputar. Seseorang bernama Dewa ini sungguh sempurna! Dengan latar belakang wow banget, aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa aku tak mengenalnya walaupun kami berada di universitas yang sama.
Kini, aku tidak lagi heran kenapa kedua sobatku--khususnya Dela--terlihat amat terobsesi dengan aplikasi ini.
Sampai akhirnya, percakapan kami berakhir pada sebuah pesan. Pesan yang membuat mataku segar dan terjaga sepanjang malam dengan degupan jantung yang bergerak amat kencang.
Sadewa Dinata: Good night, sampai jumpa besok malam, ya!
Sial. Aku terlihat seperti ABG yang baru pertama kali dapet gebetan.
***
“Tumben lo dari tadi mantengin HP mulu?” celetuk Dela yang menatapku heran lantaran biasanya, aku yang paling semangat mendengarkan gosipan terkini kampus, namun malah fokus pada ponselku.
“Pasti lagi chatting-an sama Jo. Udah jangan diganggu Del, lagi kasmaran tuh anaknya!” ledek Sandra dengan penuh semangat.
Aku memutar mataku jengah. Padahal Sandra sudah kuberitahu berkali-kali kalau tidak ada apa-apa antara aku dan Jo. Tapi kenapa dia masih bebel seperti itu, sih? Ngeselin banget.“
"Gue udah nggak ada hubungan apa-apa sama Jo. Jadi nggak usah dibahas lagi. Kasian orangnya nanti keselek mulu,” jelasku dengan acuh sambil lagi-lagi mengecek ponselku, berharap ada pesan masuk dari Dewa yang barangkali ma berbasa-basi denganku sebelum kami bertemu.
Dela mendekat. “Kalian udah putus? Kok cepet banget.”
“Kami nggak pernah jadian lebih tepatnya.”
“Loh, kalau gitu yang temenin lo kondangan siapa dong? Yakin lo mau sendiri?” dari raut Sandra, aku yakin dia sedang kecewa berat padaku. Tapi bodoh amat, aku sudah mendapatkan pengganti Jo yang tak kalah menawan.
“Gue udah dapat pengganti,” jawabku ringan dengan wajah penuh kebanggaan.
“SIAPA?” tanya mereka serempak dengan wajah terkejut. Bahkan Dela sampai memukul meja kantin dengan keras, membuat perhatian beberapa orang tertuju pada kami.
“SIAPA YANG BERANI BUANG JO?” tanya Sandra dengan nada yang dilebih-lebihkan.
“Gue.”
“Siapa pengganti Jo, Ya?” tanya Dela yang kini sudah kembali duduk di tempat semula, menatapku dengan raut penasaran.
Aku tersenyum penuh arti. “Ayo tebak ….”
“Kating?”
“Mantan lo sebelumnya?”
“Jodoh dari nyokap?”
“Adek tingkat?”
“Salah semua!” seruku sambil tertawa terbahak-bahak. Membuat kedua sahabatku kepo sungguh menyenangkan.
“Jadi siapa dong, Ya? Gue bakal mati penasaran nih!” seru Sandra tak sabaran sambil mengguncang-guncang tubuhku.
“Tada!” dengan bangga, aku menunjukkan layar ponsel yang menampilkan isi obrolanku dengan Dewa semalam.
“Lo main juga, Ya?” tanya Dela yang terlihat speechless yang langsung kubalas dengan anggukan cepat.
“Jadi lo beneran milih si Dewa ini daripada Jo?” tanya Sandra memastikan, menatap layar ponselku dengan raut tak yakin.
“Terus Jo mau udahan gitu?” tanya Dela lagi.
Oh iya, saking semangatnya aku belum memberitahu Jo soal ini. “Entar gue chat dulu.”
“Yeu, g****k!” seru Sandra dengan emosi. “Kasian banget anak orang lo PHP-in.”
“Daripada gue selingkuhin,” celutukku asal.
“Eh, tapi Sadewa itu kayak nggak asing, deh.”
***
Jo membuang napasnya kasar. Potongan daging di atas piringnya tak lagi menggugah selera pria itu meski beberapa menit yang lalu, ia kelaparan bukan main.
“Kenapa nggak dimakan? Kenyang angin lo?” Bima menatap Jo dengan raut setengah ngeri. Sahabatnya sekarang terlihat seperti ABG yang baru saja putus cinta.
Tanpa memperdulikan Bima yang dengan kurang ajar memakan dagingnya, Jo terus membaca ulang rentetan pesan dari Aya yang baru diterimanya.
Aya: Jo gue batalin
Aya: Gue udah dapat pengganti lo. Jadi lo nggak perlu nyamar jadi pacar gue segala
Aya: makasih, ya. Kapan-kapan gue traktir deh
Kepalanya terangkat, menampilkan sepasang mata yang sayu. “Belum juga jadian gue udah diputusin aja, Bim.”