5. pacarku, Tan

1232 Kata
Keheningan di dalam mobil yang tengah melaju dengan kecepatan normal itu amat kentara. Jo yang duduk di kursi kemudi fokus menyetir mobilnya, melewati jalanan lengang yang lurus-lurus saja. Sementara itu, aku pura-pura sibuk dengan terus menekan-nekan random ponselku, seolah-olah aku sedang nge-chat seseorang padahal tidak sama sekali. Sial banget. Kenapa saat detik-detik krusial seperti ini tidak ada yang menghubungiku, sih. Kemana semua cowok gatel yang tak gentar mengirimkan puluhan pesan setiap harinya meski sudah jelas-jelas kutolak? “Kamu masih mau pura-pura sibuk begitu, Ya? Padahal aku mau ngomong banyak hal loh sama kamu.” Jo tiba-tiba saja bersuara, membuatku refleks terpanjang kaget. Untuk saja genggamanku pad ponsel amat kuat. Kalau tidak, sudah pasti benda pipih ini melayang. “Eh, enak aja. Gue emang lagi sibuk, kok. Kan tadi gue udah bilang kalau gue ada tugas,” elakku dengan sewot, tak lupa memasang wajah kesal sambil meliriknya sinis. Sial. Apa acting-ku ini payah banget sampai-sampai sekarang Jo malah cekikikan tidak jelas? “Kamu nggak usah bohong lagi deh, Ya. Dari tadi aku lihat kamu buka tutup Instagram.” Aghhh! Terkutuklah Jo. Kenapa orang ini bisa hidup dengan tenang, sih? Mana reputasinya kinclong banget dengan embel-embel kalem dan pendiam lagi. Entah siapa yang melabeli Jo seperti itu. Lihat saja tingkahnya yang terus tertawa sendiri seperti orang gila. “Emang mau nanya apa sih?” tanyaku yang langsung mengalihkan pembicaraan. Jika terus membiarkan Jo menertawaiku, sudah pasti harga diriku akan langsung terjun bebas. “Kamu tahu kan yang desain baju kita itu tanteku?” “Em ….” Jawabku tanpa minat. “Nanti aku kenalin kamu sebagai pacarku, ya?” Sial. Sial. Sial. Apa-apan sih dia! “ENAK AJA! YA ENGGALAH. LO UDAH GILA?!” teriakku dengan penuh amarah, menolak mentah-mentah usulan Jo tanpa ragu. Dahi pria itu berkerut, berhasil menyatukan kedua alis tebalnya. “Kenapa kok nggak mau?” “Kenapa mesti nanya lagi, sih? Kan udah jelas karena kita nggak pacaran!” jelasku berapi-api. Untung saja seluruh kaca mobil tertutup sempurna. Jika tidak, sudah pasti suara teriakanku akan didengar oleh pengguna jalan yang lain. “Tapikan nanti tanteku bakal bingung kenapa aku ngajak kamu.” Jo masih bersikeras. Aku berdecak. “Ya tinggal bilang gue itu teman lo atau apa gitu kan beres. Kenapa rempong banget sih?” “Nanti tanteku banyak nanya kalau cuma dibilang cuma teman.” “Ya tinggal dijawab” “Lagian kan sebentar lagi kita bakal pacaran.” Aku bahkan sampai tersedak air liur sendiri saat mendengar perkataan Jo barusan. Dengan santainya dia bilang sebentar lagi bakal pacaran. Gila saja! Kenapa ada orang bisa se-PD itu, sih? “Siapa yang bilang kayak gitu? Enak aja mulutnya.” “Lah, bukannya kamu yang bilang?” Jo memandangiku heran. “Apa, gue?” tanpa ragu, aku membalas tatapannya dengan pelototan tajam. “Sejak kapan gue bilang kayak gitu? Jangan ngaco deh.” Jo membuang napasnya. “Orang jelas-jelas kata Sandra kamu yang ngajak aku pergi ke kondangan mantanmu sebagai pasangan kok.” Terkutuklah Sandra. “Kan udah gue jelasin berkali-kali kalau it--” “Kita sudah sampai,” potong Jo dengan semena-mena. *** “Eh, ternyata kamu jadi datang, Jo. Tante kira kamu cuma bercanda aja pas itu.” Seorang wanita berusia matang yang mengenakan pakaian casual dengan paduan warna putih dan krem tiba-tiba saja masuk, menyambut kami dengan senyuman hangat bahkan tanpa ragu, memeluk Jo dengan akrab. “Kan aku udah janji, Tan. Masa iya nggak datang,” jawab Jo tak kalah ramahnya. Ah … ternyata wanita itu tantenya. Jujur, kalau ada rumor yang mengatakan kalau seluruh keluarga besar Jo mempunyai wajah yang cakepnya diatas rata-rata, aku pasti percaya sepenuhnya. Lihat saja, tantenya yang suda berusia 38 tahun saja kulitnya masih mulus seperti itu tanpa kerutan. Sorot kedua netra hangat itu tiba-tiba saja beralih padaku, membuatku mengerjap panik sambil tersenyum kikuk. “Ini siapa?” tanyanya ramah dengan senyuman yang tak kunjung pudar. “Saya te--” “Pacarku, Tan,” jawab Jo yang dengan cepat memotong. Sontak saja aku membelalak kaget. Jika saja tidak ada tante nya di sini, sudah pasti akan kuhajar habis-habisan dia. Sebagai gantinya, tangan kananku yang bersembunyi di belakang mencubit kecil punggung Jo, membuat pria itu menggeliat menahan rasa sakit. Mampus! “Kamu beneran punya pacar? Ya ampun, ternyata keponakanku beneran sudah besar!” seru wanita itu penuh semangat. Kedua tangannya membuka lebar, menyambutku ke dalam pelukan hangat. “Nama kamu siapa, sayang?” tanyanya dengan tatapan penuh kasih sayang sambil beberapa kali mengelus rambutku. “Aya, Tante,” jawabku malu-malu. Sial. Pokoknya akan aku hajar Jo habis ini. Berani sekali dia menertawaiku diam-diam. “Astaga! Panggil aja Tante Indri, ya. Maaf kalau Tante heboh banget. Ini pertama kalinya Jo ngenalin pacarnya ke keluarga soalnya,” ujar Tante Indri dengan kedua mata yang menyipit, seolah tengah menahan senyuman penuh haru. Mataku memicing ke arah Jo. Cowok seperti ini jomlo sejak lahir? Nggak yakin banget. Aku yakin dia punya lusinan mantan yang disembunyikan dengan rapat hingga saat ini. “Tan, Aya kebetulan lagi banyak tugas, jadi nggak bisa lama-lama.” Jo mengambil alih, memberi kode halus agar tantenya itu segera mulai melakukan pekerjaannya. “Oh iya! Maaf banget ya, Aya. Saking semangatnya Tante jadi lupa,” ucapnya dengan kekehan kecil. “Sebentar, Tante ambil barang-barangnya dulu.” Setelah memastikan tidak ada orang di dalam ruangan yang dikelilingi cermin ini, aku mendaratkan satu pukulan brutal pada lengan kanan Jo. “Aduh! Apaan sih, Ya?” tanyanya heran, menatapku dengan raut kesakitan sambil mengelus-elus tangannya yang baru saja aku pukul. “Enak banget lo bilang kita pacaran! Kalau gue tiba-tiba viral di grup keluarga lo gimana?” tanyaku dengan nyalang. “Kan tadi pas di mobil aku udah bilang, tapi kamu malah ngalihin pembicaraan. Jadi aku anggap setuju dong,” jelas Jo dengan tenang. “Enak aja, mana bisa kaya gitu!” “Bisa … dan soal grup keluarga, tenang aja. Keluargaku pada sibuk, mana sempat ngurus yang begituan,” sambungnya. Baru saja aku hendak kembali memukul Jo, Tante Indri ternyata sudah masuk membawa sebuah papan yang diatasnya terdapat kertas data serta alat ukur yang tersangkut di leher jenjangnya yang mulus. “Jadi kalian mau buat baju couple untuk acara nikahan?” tanay Tante Indri memastikan. “Iya, Tan.” Jo mengangguk penuh semangat. “Acara nikahan siapa, sih? Kayaknya penting banget sampai harus buat baju couple segala?” tanya tante Indri sambil memandangku jail. Sial. Apa jangan-jangan Tante Indri bisa nebak kalau ini acara nikahnya mantanku? “Em … teman dekat, Tan.” Tentu saja, aku berbohong. Terkutuklah Dimas. Semua ini karena dirinya. *** Sementara itu di grup keluarga Jo …. Tante Indri: Wah, selamat Jo akhirnya punya pacar juga:) Mama: Eh, apa ini? Kok Mama nggak tahu? Papa: @Jo apa ini kok Papa sama Mamamu nggak tahu? Malah Tante Indri yang tahu duluan Tante Indri: Tadi siang dia bawa cewek ke butikku, Mas. Dia bilang itu pacarnya. Cantik banget! Jo sekali dapat cewek nggak main-main Om Safar: Beneran itu Jo? @Jo Om Geralrd: Wah, adain syukuran nggak ini? Akhirnya hilal menantu sudah muncul @Papa @Mama Papa: Masih menunggu laporan resmi …. Me: Eh … maaf sebelumnya kalu buat kaget. Jo nggak bermaksud nyembunyiin dari Papa Mama, kok. Cuma belum ada waktu yang tepat untuk ketemu aja Mama: Siapa namanya, Jo? Me: Aya, Ma. Cantik Om Safar: Sudah ada rencana ke jenjang yang lebih serius belum, Le? Me: Didoakan saja, Om. Semoga lancar, hehehe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN