4. dijawab dong sayang

1221 Kata
Sepertinya di kehidupan sebelumnya, aku adalah seorang saudagar kaya raya yang suka menindas rakyat kecil dan sekarang, aku tengah menerima karma. Kalau tidak begitu, sudah pasti kemalangan amat menyukaiku. Total sudah lima kali, aku bertemu dengan Jo dan detik ini menjadi keenam kalinya. “Kenapa pesanku cuma di baca?” tanya Jo. Pria itu dengan sigap memblokir jalanku, membuatku mau tidak mau harus menghadapinya. "Ini di perpustakaan, jangan berisik deh!” dalih ku. “Awas, buku gue berat banget. Tak ada balasan dari Jo, tapi selang beberapa detik pria itu langsung memiringkan tubuhnya, memberiku jalan yang cukup untuk lewat dan tentu saja, tanpa pikir panjang aku langsung melengos pergi. Saat ini, yang paling aku butuhkan adalah dua sobatku, Sandra dan Dela sebagai pengalih rasa kesal dengan mencubit brutal lengan mereka. Dari sekian juta makhluk di bumi, kenapa harus aku yang selalu dibuntuti kesialan? Aku menghentakkan kaki cukup keras setiap kali melangkah keluar dari perpustakaan sambil menenteng paper bag berisikan tiga buah buku tebal yang baru saja aku pinjam. Dalam hati, aku terus merapalkan mantra-mantra ajaib. “Kamu sengaja nge-read pesanku, ya?” paper bag yang aku genggam tiba-tiba saja terlepas, saat sebuah tangan mengambilnya secara tiba-tiba. Aku tanpa sengaja meloloskan satu decakan kecil kala menyadari lagi-lagi, Jo sudah berdiri di sampingku dan sialnya, kini dia memegang buku yang sangat aku butuhkan untuk mengerjakan tugas kuliahku. “Kembalikan bukunya. Gue butuh banget,” ujarku dengan nada cuek. “Aku nggak bakal ngambil, kok. Lagian kan jurusan kita beda. Aku cuma mau bantu bawain. Kamu jawab saja pertanyaanku yang tadi,” balas Jo dengan santai, sama sekali tidak mempedulikanku yang jelas sekali ogah berurusan dengannya. “Pertanyaan apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti. “Pesanku kenapa nggak di balas?” “Lagi sibuk.” “Yaudah kalau gitu jawab sekarang aja, sekalian jalan.” Sial. Kenapa orang ini keras kepala banget, sih? “Apaan sih, orang gue mau ketemu sama teman. Nggak searah kita” “Mau ketemu Sandra, kan? Sama aku juga.” Aku membuang napasku kasar. Memilih tetap diam menahan segala luapan emosiku. Lihat! Bahkan hanya dengan jalan berdua seperti ini saja sudah menarik perhatian para mahasiswa di sekitar kami, apalagi kalau aku memaki-makinya sekarang. “Jadi nanti sore kita beli baju couple, ya?” Aku sontak menoleh dengan kedua mata yang membelalak. “Apa-apaan?” jawabku dengan kesal. “Nggak bisa gitu, dong. Gue juga punya kesibukan.” Jo tersenyum samar. Sepertinya dia senang banget kalau lihat aku kaget seperti tadi. “Makanya kalau aku tanya itu dijawab dong, sayang. Kalau kamu nggak jawab berarti aku anggap kamu setuju.” “SAYANG?!” aku tidak bisa lagi menahan rasa keterkejutanku. Biarkan saja orang-orang kurang kerjaan itu bergosip ria tentang kami. “Apaan sih, kenal aja enggak udah manggil sayang segala,” gerutuku dengan suara lebih rendah. Jo terkekeh. Jujur, suaranya sangat renyah. Tapi tetap saja aku kesal. Masa kemarahanku bisa dibayar dengan kekehan begitu. Nggak banget. “Aku bercanda. Serius banget jadi orang.” “Aya!” suara teriakkan cempreng yang sangat kukenali sebagai milik Dela itu langsung terdengar sata kami telah tiba di kantin fakultas ekonomi. Hanya dalam sekali pandang, aku berhasil menemukan dua orang cewek yang sedang melambaikan tangannya dengan heboh. “Asik! Udah jalan berdua aja nih,” komentar Sandra dengan heboh saat menyadari Jo mengekor di belakangku. “Apaan, orang dia mau ketemu sama lo kok,” jawabku dengan ogah-ogahan sambil mengambil tempat duduk di depan Dela yang lagi-lagi, sibuk mengetik pesan di ponselnya. “Masih main aplikasi dating, Del?” tanyaku basa-basi saat menangkap logo KetemuanYuk! Dela mengangguk tanpa jaim. “Gue dapat pasangan yang seru banget, Ya! Lihat deh, nanti malam dia bakal ajak gue ketemuan.” Dengan bangga, Dela menunjukkan isi obrolannya dengan seseorang yang hanya kubalas dengan gelengan tak habis pikir. “Hati-hati. Entar lo digondol manusia hidung belang,” peringatku yang sama sekali tidak dihiraukan. “Nggak bakal ada jenis manusia kayak gitu di aplikasi KetemuanYuk!, Ya.” Lagi, sial. Sejak kapan Jo sudah duduk di sampingku. Sudah begitu, mana dengan seenaknya menimpali percakapanku dengan Dela pula. “Ngapain lo masih di sini? Katanya ada urusan sama Sandra,” tanyaku sambil memandangi nya sewot. “Lah, ini di depanku kan Sandra.” “Urusan dia sama gue tuh makan bareng, Ya,” jelas Sandra sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jail. “Jangan cemburu gitu, dong.” Dih, apa aku terlihat seperti seseorang yang sedang cemburu? Mata Sandra memang benar-benar rusak. “Habis ini lo mau ke mana, Jo?” Sandra kembali beralih pada Jo yang tengah makan ayam gorengnya dengan tenang. “Pergi.” “Asik, gue ikut dong!” seru Sandra penuh semangat. Bahkan ia sampai hampir menumpahkan es tehnya. “Nggak bisa,” tolak Jo tanpa pikir panjang. “Gue mau pergi sama Aya beli baju couple. Yakan, ya?” Sontak, aku langsung terbatuk, mengeluarkan kembali kopi latte yang baru saja ku minum. Untung saja Dela dengan sigapnya memberiku tisu. Kalau tidak, sudah pasti minuman yang aku muntahkan itu masuk ke dalam mi ayamku. “Apaan sih, sejak kapan gue bilang mau?” tanyaku sewot, menatap Jo dengan nyalang. Sementara itu, Jo yang sudah kuhujami seribu kekuatan tatapan permusuhan sama sekali tidak gentar. “Bukannya tadi aku udah bilang kalau kamu nggak jawab pertanyaanku berarti kamu terima, ya?” Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi. Biarkan saja terlihat gila di depan cowok menyebalkan ini. Aku sudah tidak peduli lagi. “Oke, kalau gitu gue tol tawaran lo.” “Ah, sayang banget udah nggak bisa lagi, Ya.” Kini, waah Jo tampak sengaja dimelaskan, membuatku ingin sekali mengacak-acak wajah putih bersihnya itu dengan lumpur. “Kenapa lagi? Kan udah gue tolak!” “Aku sudah terlanjur buat janji sama Delcourage. Mustahil bisa dibatalin. Kamu tahu sendiri buat janji di sana susah banget,” jelas Jo. WHAT? Apa tadi yang barusan dia bilang, Delcourage? Wah, dia memang gila! Mana mungkin dia bisa membuat janji di butik ternama seperti itu. Bahkan dengar-dengar, butuh berbulan-bulan supaya janji kita bisa disetujui. “Gila lo, Jo? Emang lo buat janjinya kapan?” tanya Sandra yang sama terkejutnya denganku. Bahkan sobatku itu sampai melempar pipetnya ke arah Jo saking terkejutnya. Jo mengangguk yakin. “Gue buat janji semalam.” “Kok bisa langsung diterima gitu sih? Nyokap gue aa butuh ngantri berbulan-bulan.” Dela turut menimpal, menatap Jo dengan penuh tanda tanya. Pria itu tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang aku yakini tidak gatal sama sekali. “Gue dapat kemudahan. Kebetulan salah satu desainer-nya tanteku.” Wah. Sepertinya keluarga Jo memang bukan main. Bahkan tantenya saja salah satu desainer Delcourage yang terkenal sangat selektif memilih tenaga kerja krusial seperti desainer. Aku yakin, tentunya sudah pasti lulusan top 5 lima universitas terbaik se-dunia. “Kalau gitu bisa dong, dibatalkan. Lo kan pakai koneksi, jadi nggak butuh ngantri lama-lama.” Aku masih berusaha menolak tawarannya meski dalam hati, aku ragu. Jujur saja, memasuki butik Delcourage adalah salah satu wishlist-ku yang sampai saat ini tidak terwujud. “LO GILA?” seperti yang kuduga, detik berikutnya aku sudah diserang dengan tatapan nyalang dari Dela dan Sandra. Bahkan kini, aku juga diserang dengan pelototan samr dari Jo. Sial. Ini semua salah Dimas. Jika dia tidak nikahkan aku tidak perlu repot-repot seperti ini. “Daripada kamu diserang sama mereka, lebih baik kamu ikut aku aja, Ya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN