Aku berjalan menuju kantin dengan langkah gontai, jauh di belakang Sandra dan Dela yang sedang heboh membahas pasangan mereka dari aplikasi KetemuanYuk! Sebenarnya, aku tidak berminat untuk makan. Selera makanku mendadak turun drastis semenjak pertemuan terakhirku dengan Jo 3 hari lalu. Setiap kali aku hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut, aku selalu teringat perkataan terakhir Jo. “No. It’s the best way for you”, membuatku berakhir super bad mood dan memilih hanya meneguk air putih saja. “Lo nggak laper, Ya? Kok cuma pesan teh hangat doang,” tanya Dela yang sadar di depanku hanya ada secangkir teh hangat. Aku menggeleng. “Masih kenyang gue. Tadi pas sarapan gue makan kebanyakan,” jawabku yang tentu saja berbohong. “Mending lo beli roti atau mie gitu aja, Ya. Soalnya kelas kita hari

