11. G(ak)

1159 Kata
Tampaknya, aku sudah kembali ke “habitat” lamaku--menjadi pusat perhatian. Ya, aku tidak bingung kenapa ini bisa terjadi lagi setelah sekian bulan lamanya. Tentu saja karena i********: story Jo. Cowok itu ternyata punya lebih dari 10 ribu followers yang sudah bisa dipastikan hampir 70% isinya adalah cewek-cewek yang naksir dia. Gila banget, kan? Bahkan aku yang termasuk ke dalam jejeran mahasiswi populer saja tidak punya followers sebanyak itu. Sebagian besar yang mencuri-curi pandang ke arahku yang sedang menikmati udara sore hari sebelum masuk kelas terakhir adalah kaum hawa. Dari sorot mata mereka saja aku sudah bisa mendeteksi aura-aura kecemburuan. Saat ini, sudah pasti aku sedang viral di grup chat berbagai macam circle sekampus. Topiknya kira-kira seperti ini: Setelah diselingkuhi cowok emas a.k.a Dimas, sekarang Aya pacaran dengan berlian a.k.a Jo. “Sumpah, gue yakin Aya pakai susuk, deh!” Oh iya, aku lupa bagian julid-nya. “Iya, gue juga mikir gitu!” salah seorang penyahut, entah itu siapa. Aku tidak ingin menoleh ke arah mereka dan mengganggu sesi ngumpulin dosa di sore hari mereka. “Bener, dari auranya gue bisa lihat, sih. Entah berapa banyak susuk yang dia pake sampe cowok-cowok perfect bisa dia gaet semua.” Aku tersenyum simpul. Tenang, aku tidak merasa sakit hati. Aku sudah terbiasa dengan julid-an seperti itu itu saat aku berpacaran dengan Dimas. Susuk, pelet, mbah dukun. Cih, enggak banget. Bisa-bisanya masih ada anak muda yang berpikiran kuno seperti itu. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sebentar lagi pukul 3 tepat yang berarti, aku harus siap-siap menuju kelas sekarang. Sayang sekali, padahal aku masih ingin mendengar teori konspirasi cewek-cewek yang hobi ngegosip. *** “Pssstt!” Telingaku langsung menangkap bisikan setan--hanya bercanda--saat kakiku melangkah masih ke dalam kelas. Detik berikutnya, mataku mengangkp Dela dan Sandra yang tumbennya sekarang duduk di kursi barisan tengah. Dari senyum-senyum mencurigakan mereka, aku yakin setelah aku mendaratkan bokongku di kursi, sudah pasti aku akan langsung dijejali berbagai macam pertanyaan, tuduhan, dan godaan tidak masuk akal. “Gimana?” tanya Sandra yang langsung menatapku dengan binar-binar bahagia. Aku mengernyitkan kening. “Gimana apanya?” tanyaku balik, meski sebenarnya aku tahu apa maksud dari pertanyaan singkat Sandra. Asal kalian tahu, aku sedang berusaha mengulur waktu. Dosen oh dosen, ayo datang cepat! “Kayaknya lo sama Jo udah deket banget, nih!” Dela memukul bahuku ringan sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda yang langsung membuat perutku terasa mual seketika. Alay banget. “Nggak ada apa-apa, kok,” sangkalku, berupa-pura fokus membaca catatan materi sebelumnya, namun gagal karena kedua kunyuk ini terus menggangguku. “Nggik idi ipi-ipi, kik,” julid Sandra. “Tapi tiba-tiba upload foto di butik.” Aku membuang napasku kasar. Sandra memang tidak ada duanya perihal julid menjulid. “Emang nggak ada apa-apa. Orang kami cuma fitting baju.” “Baju nikah?” timpal Dela dengan polos. Tidak hanya itu, dia mengatakannya sambil setengah berteriak yang membuat seluruh orang yang ada di kelas ini mendengarnya. Astaga. Aku ingin sekali menjambak rambut Dela sambil berkata “bodoh” sekarang. "Nggak. Udah deh, itu dosen udah mau datang. Jangan pada ribut napa!" teriakku frustasi. "Tapi setelah gue teliti nih ya …." Sandra terus memperhatikan ponselnya yang terpampang foto story i********: Jo yang ternyata sudah di-screenshot—kalau begini ceritanya sudah pasti aku akan diejek seumur hidup—menyipitkan sebelah matanya ala-ala seorang pengamat profesional. "Kalian cocok juga," ucapnya final. Dasar nggak jelas. "Ngaco." Dela ikut memperhatikan ponsel Sandra sambil manggut-manggut tidak jelas. "Bener juga lo, San." Nggak banget. "Oh, baju couple kalian buat apa?" tanya Dela yang sepertinya baru sadar kalau lokasi foto itu terletak di butik ternama yang tentu saja dia tahu—sebagai pengingat sobatku yang satu ini crazy rich. "Buat kondangan," jawabku singkat dengan suara sekecil mungkin. "Ke kondangan mantan?" tanya Dela sekali lagi yang hanya kubalas dengan anggukan singkat. "CIE ELAH! KE KONDANGAN MANTAN AJA HARUS BUAT BAJU COUPLE SEGALA!" ASTAGA! Dengan buru-buru, aku menendang kaki Sandra dengan sekuat tenaga. BERANI BANGET DIA TERIAK SEPERTI ITU DI TENGAH-TENGAH KELAS YANG PENUH! “Aduh!” dalam sekejap, Sandra langsung mengelus-elus tulang keringnya yang aku tendang dengan kekuatan penuh. Baru saja dia hendak protes, sudah kuserang dengan tatapan tajam yang langsung membuat nyalinya ciut. Rasain. “Btw, Ya. Sekarang lo lagi viral di grup angkatan.” Dela menunjukkan ratusan pesan yang masuk dari grup angkatan yang sedang sibuk membahas hubunganku dengan Jo. “Biarin. Udah biasa juga,” balasku pura-pura bodoh amat. Padahal aslinya, aku kepo juga. Tapi demi menyelamatkan reputasi “pura-pura tidak peduli”-ku, aku harus menahan diri untuk tidak membuka pesan grup itu sampai aku tiba di rumah. Dalam hati, aku senyum-senyum tidak jelas. Sudah pasti kabar mengejutkan perihal hubunganku dengan Jo sudah tersebar luas hingga ke telinga-telinga mahasiswa kupu-kupu sekalipun. Aku yakin seribu persen, Dimas telah mengetahui berita “menyenangkan” ini. Ck. Andai saja aku bisa melihat ekspresi terkejut Dimas. Pasti aku akan bertambah senang berkali-kali lipat. *** Mie ayam super pedas yang dipadu dengan es teh manis dan disantap saat hari mendung selepas jam kuliah terakhir. Nikmat apalagi yang bisa aku dustakan? Untuk merayakan balas dendam jilid 1 yang berhasil, aku dengan sukarela mentraktir dua temanku yang kini dengan tidak tahu dirinya sudah menghabiskan dua mangkok bakso ditambah 3 jus jeruk sambil terus berbicara tidak jelas dengan kondisi mulut yang penuh. “Ini lo traktir kita sebagai ucapan terima kasih karena lo udah pacaran sama Jo?” untuk pertama kalinya, Sandra berbicara dengan jelas. Aku menggeleng. Mumpung suasana hatiku masih bagus, aku tidak marah saat lagi-lagi Sandra menyalah artikan hubunganku dengan Jo. “Cuma mau traktir aja apa salahnya, sih.” “Nggak salah sih,” timpal Dela sambil menambah satu lagi sendok berisi gilingan cabe hijau ke dalam mangkok baksonya. “Lebih nggak salah lagi kalau lo setiap hari traktir kita.” Aku berdecak. “Seharusnya yang kayak gitu tuh lo. Kan lo cici-cici rich.” “Pacar lo panjang umur, Ya!” tiba-tiba saja, Sandra berteriak penuh semangat, mlemparkan tisu bekas ingusnya padaku--untung saja aku berhasil menghindar. “Apaan sih?” tanpa sadar, pandanganku tertuju arah Sandra melambaikan tangannya. “Jo, Bim. Sini!” serunya sambil melambai-lambaikan tangan dengan heboh. Tentu saja, aku tidak kesulitan menemukan Jo yang--tentu saja--paling shining shimmering splendid dengan setelan kaos putih berlogo Nike dan celana jeans hitam, berjalan ke arah meja kami dengan wajah yang--sepertinya--tertekuk atau memang setelan asli mukanya memang seperti itu. “Makan, guys? Hari ini Aya bakal traktir kita makan,” tawar Sandra dengan heboh. “Weis, ada yang nuntasis pajak jadian, nih!” seru teman Jo--yang sepertinya bernama Bima--lalu menyikut bahu Jo. “Lo kapan mau nuntasin pajak, bro?” “G,” jawab Jo singkat dan langsung kembali tertuju pada ponselnya. Aku mengernyitkan dahiku. Sepertinya, dia memang lagi bete. Untung saja suasana hatiku sedang happy kiyowo jadi aku berbaik hati menawarkannya. “Lo mau pesan apa, Jo? Biar gue pesan,” ucapku dengan suara halus bak putri di negeri dongeng. “G.” Dih, kenapa nih orang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN