10. foto keluarga

1185 Kata
Demi semua gaun yang pernah aku lihat di dunia! Aku berani bersumpah ini adalah gaun paling cantik yang pernah kulihat. Rasanya aku ingin nangis karena gaun putih berbahan silk yang melekat di tubuhku ini cantik banget. Jadi nggak tega mau ngelepasnya. Gaun yang aku kenakan berwarna putih polos tanpa payet-an apapun. Eits, tunggu dulu! Justru karena tanpa hiasan manik-manik dan sebagainya, gaun ini keliatan classy banget! Apalagi desain tanpa lengan di bagian kiri sedangkan bagian kanan berlengan panjang. Bener-bener keliatan unik. Sekali lagi, aku mau nangis saking cantiknya. “Ya, coba lihat sini!” Karena mood-ku yang 100% sudah membaik karena melihat gaun indah ini, aku menoleh ke arah Jo dengan wajah yang bersahabat. Sudah sekitar 15 menit kami mengenakannya tapi sama sekali tidak ada niatan untuk segera melepasnya. Jo terlihat sangat keren dengan jas hitam berdasi kupu-kupu dengan warna senada. Meski penampilannya jika dilihat sejenak terlihat seperti setelan biasa acara formal. Kata Tantenya, desain setelan Jo memang dibuat khusus untuk menarik perhatian mata tertuju padanya untuk waktu yang lama agar bisa melihat detail kecil garisan benang yang samar-samar memenuhi sisi jasnya, membentuk pola aneh yang entah kenapa terlihat keren. “Aku keren nggak?” tanyanya sambil menaik turunkan sebelah aslinya. Tadi sih sebenarnya keren, tapi lantaran dia bersikap tengil, terpaksa aku urung menjawabnya. “Bajunya keren,” jawabku sekadarnya. Jo berdecak, kembali memperhatikan penampilannya di kaca besar. “Kan yang ditanya tuh aku keren apa enggak, bukan bajunya keren apa enggak,” protes Jo sambil sibuk merapikan dasi kupu-kupunya. “Tapi kan yang keren bajunya,” jawabku yang sebenarnya berbohong. Jika saja aku menjunjung tinggi kejujuran, sudah pasti aku akan menjawab Jo sangat keren sekarang. Tapi untungnya, aku tidak jujur-jujur amat, hehehe. “Jadi aku nggak keren gitu?” tanya Jo dengan suara yang super lemas, seperti orang yang belum makan seharian penuh. “Nggak.” “Jadi aku harus gimana?” Sontak, aku mengernyit. Memang ya, orang ganteng kenapa selalu hobi bikin bingung, sih? “Gimana apanya?” “Ya, aku harus gimana biar keliatan keren?” tanya Jo dengan wajah bete, menatapku dari pantulan cermin yang menampilkan seluruh bagian tubuhnya. “Ya ngapain harus keren?” tanyaku balik dengan sewot. Plis deh, mood-ku baru saja membaik tapi Jo sudah ngajak ribut lagi. “Ya kan aku entar jadi pacar kamu. Masa nggak keren, sih?” Oh iya. “Udah nggak usah diapa-apain.” Karena sebenarnya udah keren tapi aku gengsi aja mau bilang. “Dari sananya udah kaya gitu nggak bisa dibuah lagi.” Jo diam. Sibuk melakukan entah apa itu aku tidak peduli. Daripada mikirin tingkah random Jo, lebih baik aku merhatiin gaun indah ini, kan? “Ya, sini deh!” belum sempat aku berpose ala-ala supermodel papan atas menyaingi Gigi Hadid dan konco-konconya, suara Jo sudah kembali mengganggu. “Apaan sih?” gerutuku, masih diam di tempat, memperhatikan Jo yang sudah menggenggam ponsel keluaran terbarunya dengan tatapan kesal. Ganggu banget. “Sini dong! Kita foto dulu. Kita sama sekali belum pernah foto bareng, loh,” ajak Jo sambil kembali melambaikan tangannya. “Untuk apa, sih? Gue nggak mau ah!” tolakku dengan mentah-mentah. “Kalau gitu aku panggil Mama sama Papa aja deh.” Jo hendak beranjak menuju pintu yang di luar sana ada Mama dan Papanya sedang berbincang-bincang. “Eh ngapain?” teriakku yang langsung menghentikan langkah Jo. “Kalau kamu nggak mau foto berdua, kita foto keluarga aja. Lebih bagus,” jawab Jo dengan wajah menantang yang ingin sekali ku lempar sepatu. “Gue nggak mau!” “Nah kalau gitu pilih, dong. Mau berdua sama aku aja atau foto satu keluarga?” lagi-lagi, wajah Jo terlihat adem ayem, seakan-akan perkataannya tadi tidak membuatku kesal. Sumpah deh, ya. Aku pingin banget cekek nih cowok. Dengan terpaksa, aku melangkah cepat ke arah Jo. Wajahku tertekuk sempurna, menarik Jo kembali ke depan cermin besar yang tadi menjadi tempatnya berdiri untuk waktu yang lama. “Udah cepat foto!” “Jangan marah, dong,” goda Jo sambil membenarkan anak rambutku agar terlihat lebih rapi. “Mana romantis kalau kamu cemberut gitu difoto.” Aku membuang napasku kasar, berusaha menarik kedua ujung bibirku agar terlihat tersenyum secara alami. “Udah senyum ini, cepat foto!” Jo santak tersenyum puas. Tangan kirinya tiba-tiba saja melingkari pinggangku, sedangkan tangan kanan nya tertuju pada cermin yang menampilkan seluruh tubuh kami--ala-ala mirror selfie gitu loh. “Ya, coba lihat sini dulu.” Perintah Jo membuatku otomatis menoleh untuk menatapnya dan … Cekrek! Suara dari ponsel Jo berbunyi, pertanda Jo sudah mengambil gambarnya tepat saat aku menoleh ke arahnya. Alhasil, foto itu terlihat seperti candid dengan aku yang--ew--tersenyum saat menatap Jo. “Nah, ini cantk!” seru Jo dengan puas. “Apaan curang, ih!” protesku, berusaha meraih ponsel Jo untuk menghapus foto itu tapi sialnya gagal karena Jo terlalu tinggi. Nasibku jelek banget. Udah diselingkuhin, pendek pula. “Aku upload di instastory, ya,” kata Jo sambil mengetikkan sesuatu yang entah apa di ponselnya. “Ngapain?” “Biar keliatan kayak pacaran beneran, dong. Ini pemanasan dulu. Nanti orang-orang kaget kalau tiba-tiba lihat kita kondangan bareng,” jelas Jo sambil terus fokus menatap ponselnya. Aku menggeleng. “Nggak us--” “Udah aku post!” potong Jo yang tidak mempedulikan ucapanku. Kepalanya terangkat dengan kilatan penuh semangat. “Aku udah tag kamu, jangan lupa repost, ya.” Aku berdecak sebal. Memilih kembali ke tempatku semula. “Dijawab dong, cantik.” “Hm,” balasku tidak ingin ambil pusing. *** Sumpah demi apapun aku galau banget! Sudah hampir satu jam aku memperhatikan layar ponsel, terus menonton instastory Jo berulang-ulang kali. Hanya satu tombol di ujung bawah yang haru aku tekan tapi entah kenapa rasanya berat banget. Tidak ada yang salah di foto itu. Kami, khususnya aku kelihatan cantik banget. Walaupun itu hasil candid, mukaku tetap kelihatan mempesona. Tapi … otak jahatku ini yang bikin aku ragu. I mean, kalau aku nge-repost story Jo, itu berarti untuk pertama kalinya aku memposting sesuatu di media sosial semenjak aku putus dengan Dimas. Dengan kata lain, pertama kalinya aku memposting sesuatu di media sosial setelah Adelia mengatakan kalau wajahku membosankan. Astaga, kenapa sih hobi ku harus overthinking? Rasanya ingin sekali aku membelah kepalaku supaya pikiran-pikiran buruk yang bersarang di dalamnya pergi. Tapi kalau begitu caranya, nyawaku juga ikutan pergi. Aku menggerakkan kedua jariku, menge-zoom wajahku dan memperhatikannya dengan seksama. Bagaimana jika ada orang selain Dimas dan Adelia yang berpikiran jika wajahku membosankan? Siapa? Apa itu kedua sahabatku, Sandra dan Dela? Atau itu cowok-cowok playboy yang mendekatiku? Atau itu malah Jo yang difoto itu melingkarkan tangannya di pinggangku. Bagaimana jika mereka berpikir seperti itu? Apa mereka akan meninggalkanku dan mencari pengganti yang baru? Yang wajahnya tidak membosankan. Yang wajahnya manis. Yang wajahnya seperti Adelia. Bagaimana jika itu terjadi lagi padaku? Oke. Aku sudah berpikir terlalu jauh. Jika aku melanjutkannya, sudah pasti aku akan menangis meraung-raung sambil mengutuk wajahku yang cantik ini. Oleh karena itu, aku memilih untuk melempar ponselku ke sembarang arah, mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur kecil berwarna kuning keemasan, dan segera terlelap dalam hitungan detik. Aku sudah memutuskan untuk tidak me-repost story Jo. Tidak sekarang. Aku masih belum siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN