“Jo sama Aya sebenarnya sudah lama putus.” Seketika, semuanya hening termasuk diriku. Apa-apaan ini? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Jo berkata seperti itu. Mana tanpa bilang-bilang ke aku lagi. “Apa maksud kamu, Jonathan?” pertanyaan dingin dari Papa Jo mengusir keheningan. Dengan pandangan lurus tertuju pada ayahnya, Jo berkata, “Jo sama Aya sudah putus. Alasan Aya kesini untuk pamitan sama Mama dan Papa.” Setiap kata yang keluar dari mulut Jo terdengar sangat lugas tanpa keraguan sedikitpun seakan-akan dia sudah berlatih puluhan hari untuk melafalkannya. Mama Jo menggeleng tak percaya. Dengan pandangan penuh harap, ia menatapku. “Kamu nggak putus beneran sama Jonathan kan, sayang?” tanya wanita itu padaku. Napasku tercekat. Rasanya ada seutas tali berduri yang melilit le

