“Baju kamu kenapa pundaknya kebuka gitu?” Aku menyenggol bahu Jo pelan. Astaga, aku harus jawab apa! Mana tatapan mata Papa Jo sangat tajam, membuatku makin panik saja. “Kenapa pertanyaan saya nggak dijawab, Aya?” “Eh, em … anu Om ….” Aduh, rasanya aku mau pipis dicelana sing paniknya. Mana Jo hanya berdiri di tempat seperti patung lagi. Apa dia tidak merasa bertanggung jawab atas kejadian ini? “Memangnya kamu nggak kedinginan? Nanti kalau masuk angin gimana?” Aku mengerjap beberapa saat. Wajah datar Papa Jo seketika berubah, menunjukkan ekspresi khawatir. Entah sejak kapan tangan pria paruh baya itu memegang sebuah selendang panjang dan menyadarkannya padaku. “Ini punya Mama Jo, kamu pakai saja. Saya nggak mau kamu sakit.” Otakku masih berusaha memproses kejadian aneh ini, namun

