24. pertanyaan maut

1275 Kata

Setelah kecanggungan penuh selama lebih dari 30 menit, akhirnya aku punya bahan untuk mengusir suara “krik-krik” di antara kami. “Jo, komplek rumah gue belok kanan loh. Kok lo malah lurus?” tanyaku berusaha sebisa mungkin menunjukkan nada sewot, bukan bermaksud jahat, tapi image-ku dimata Jo sudah terlanjur seperti itu. Jika aku tiba-tiba menggunakan nada lemah lembut nanti dia bisa kejang-kejang karena kaget. “Loh, memangnya aku bilang kalau mau ngantar ke rumah kamu?” tanyanya balik dengan dahi yang tertekuk. Kan, setannya kembali lagi. Sudah benar-benar dia menjelma menjadi cowok bijak beberapa menit lalu, kenapa hobi memancing emosinya muncul lagi, sih? “Ck, jangan main-main dong, Jo. Gue capek nih mau tidur. Putar balik cepat!” perintah ku dengan nada sewot yang kali ini tidak pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN