Setelah kecanggungan penuh selama lebih dari 30 menit, akhirnya aku punya bahan untuk mengusir suara “krik-krik” di antara kami. “Jo, komplek rumah gue belok kanan loh. Kok lo malah lurus?” tanyaku berusaha sebisa mungkin menunjukkan nada sewot, bukan bermaksud jahat, tapi image-ku dimata Jo sudah terlanjur seperti itu. Jika aku tiba-tiba menggunakan nada lemah lembut nanti dia bisa kejang-kejang karena kaget. “Loh, memangnya aku bilang kalau mau ngantar ke rumah kamu?” tanyanya balik dengan dahi yang tertekuk. Kan, setannya kembali lagi. Sudah benar-benar dia menjelma menjadi cowok bijak beberapa menit lalu, kenapa hobi memancing emosinya muncul lagi, sih? “Ck, jangan main-main dong, Jo. Gue capek nih mau tidur. Putar balik cepat!” perintah ku dengan nada sewot yang kali ini tidak pe

