Saat matahari terbenam, kami akhirnya kembali ke mobil dengan dua buah paper bag. Satu paper bag dibawa oleh Jo sebagai hadiah ulang tahun Mamanya, sedangkan yang satunya lagi dengan terpaksa aku tenteng lantaran Jo dengan seenaknya membelikan satu selendang untukku. “Kok cemberut gitu, Ya? Kamu laper?” tanya Jo lagi. Pake nanya segala. “Enggak,” jawabku ketus. “Mau mampir ke mana dulu gitu?” tawar Jo dengan sabar. Restoran. “Nggak. Gue mau pulang.” Jo mengangguk. Tanpa suara, dia menyalakan mesin mobil, membelah jalanan kota yang cukup ramai pada malam hari. Pandanganku terfokus pada lampu-lampu jalan di luar jendela. Mayoritas kendaraan yang berlalu lalang adalah sepasang kekasih. Heran, padahal ini bukan malam minggu. Jika begini ceritanya, aku jadi nelangsa. Setelah ini, aku ak

