“Yes, it is.” Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Dadaku terasa kosong, entah karena aku lega telah menyuarakan semuanya, atau karena hilangnya sesuatu yang dengan sengaja aku buang sendiri. Jo lagi-lagi menampilkan senyuman hangatnya. “Well, I've guess that. Kalau itu mau kamu, what else can i do, right?” Dengan penuh paksaan, aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Terima kasih lo udah paham.” Jo mengangguk. “So … we will act like strangers again or you want to be friends?” tanya Jo dengan hati-hati. “Ah, please don’t. Just act like you dont know me.” Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti manusia paling egois se-alam semesta. Aku bahkan mengucapkan kalimat itu dengan penuh keyakinan, sama sekali tidak memperdulikan perasaan Jo saat mendengar racun itu. Aku tidak bisa berhub

