Chapter 10 — Pertemuan tak biasa
Pagi telah beranjak, dan matahari semakin tinggi, membanjiri jalanan dengan cahayanya yang hangat. Riria dan Luira melangkah keluar dari rumah, meninggalkan keheningan dan misteri "ruang lumut" di belakang mereka. Meskipun kejadian di rumah tadi masih membekas kuat, kenyataan tentang waktu mulai mendesak. Arloji Riria menunjukkan pukul sembilan pagi—jam yang jelas terlalu siang untuk masuk sekolah seperti biasa.
Awalnya, kepanikan kecil menyelimuti mereka. "Kita telat banget!" Riria berseru, langkahnya sedikit terburu-buru, bayangan hukuman dan tatapan guru melintas di benaknya. Namun, Luira yang selalu tenang, hanya mengangguk ringan. "Ini musim panas, Riria-san. Biasanya ada kelas ekstrakurikuler atau olahraga di pagi hari." Kata-kata Luira membawa sedikit kelegaan. Benar, selama musim panas, jadwal sekolah seringkali lebih fleksibel, terutama untuk kelas-kelas praktik seperti renang atau olahraga lainnya. Ini memberikan mereka sedikit kelonggaran yang sangat mereka butuhkan.
Mereka berjalan menyusuri trotoar berdaun, percakapan mereka mengalir perlahan, mencoba mencerna rentetan kejadian yang baru saja mereka alami. Udara pagi terasa segar, membawa aroma dedaunan dan embun yang masih menempel. Pepohonan tinggi di sepanjang jalan melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di aspal, menciptakan pola kontras yang indah. Riria melirik Luira yang berjalan anggun di sampingnya, meski baru saja melewati pengalaman yang intens, Luira tampak seolah tak ada apa-apa, sebuah ketenangan yang selalu mengagumkan bagi Riria.
Sesampainya di gerbang sekolah, suasana sudah mulai ramai dengan murid-murid yang berdatangan, beberapa dengan handuk di bahu, bersiap untuk pelajaran renang. Mereka berdua masuk ke dalam gedung sekolah yang familier, koridor-koridor panjangnya terasa seperti labirin. Kelas mereka ternyata masih cukup kosong, beberapa murid sudah pergi ke lapangan atau kolam renang. Mereka menemukan tempat duduk mereka di bagian belakang, tas sekolah diletakkan di bawah meja, dan bisikan mereka tentang Aira segera dimulai.
"Dia tahu banyak hal, Luira," Riria berbisik, suaranya rendah agar tidak menarik perhatian. "Bagaimana mungkin dia tahu tentang tali itu? Dan... bagaimana dia tahu tentangmu tidak memakai stocking?" Kerutan di dahi Riria menunjukkan betapa pertanyaan-pertanyaan ini mengganggunya.
Luira terdiam sejenak, tatapannya menyapu seisi kelas yang perlahan terisi, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat. "Aku tidak tahu, Riria-san," jawabnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Aku belum pernah merasakan energi seperti miliknya sebelumnya. Dia bukan sekadar murid biasa, itu pasti." Ada nada serius yang dalam pada suaranya, sebuah pengakuan bahwa ini adalah sesuatu yang melampaui pemahamannya.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang guru masuk, mengumumkan pelajaran olahraga. Ini adalah kesempatan mereka untuk sedikit melupakan kegelisahan tentang Aira dan fokus pada kegiatan fisik. Mereka memutuskan untuk mengganti pakaian bersama, sebuah kebiasaan yang nyaman di antara mereka.
Mereka berjalan menuju ruang ganti yang terletak di dekat kolam renang sekolah. Aroma kaporit sudah tercium samar di udara, bercampur dengan bau rumput basah dari lapangan di samping. Lorong menuju ruang ganti itu agak sepi, karena sebagian besar murid sudah lebih dulu tiba. Saat mereka berdua melangkah di sepanjang lorong yang agak remang, Riria merasakan sesuatu. Sebuah perasaan aneh merayap di tengkuknya, seperti bulu kuduk berdiri. Itu adalah sensasi ditatap, diikuti.
Ia melirik Luira, yang juga tampak merasakan hal yang sama. Ekspresi Luira sedikit mengeras, matanya menyipit, mengamati sekeliling. Insting mereka, yang mungkin telah diasah oleh kejadian semalam dan pagi itu, bereaksi tajam. Suara langkah kaki yang terlalu pelan, tarikan napas yang tertahan, sebuah bayangan yang terlalu cepat bersembunyi di balik pilar.
"Ada yang mengintip," Luira berbisik, nadanya datar namun penuh peringatan.
Riria tidak perlu berpikir dua kali. Tanpa peringatan, ia berbalik cepat dan melayangkan tendangan lurus yang kuat, seperti kilat. Sepatu olahraganya mendarat telak di wajah seorang murid laki-laki yang mencoba mengintip dari balik sudut koridor. BRAK! Suara hantaman itu cukup keras, diikuti erangan kaget dan kesakitan dari si pengintip. Murid laki-laki itu langsung tersungkur ke lantai, memegangi hidungnya yang mungkin sudah berdarah, matanya membelalak kaget. Wajar saja. Riria dan Luira adalah gadis-gadis yang cantik dan manis, memiliki daya tarik alami yang seringkali mengundang tatapan tak senonoh, dan sayangnya, seringkali mereka juga ikut menjadi korban pengintaian seperti ini. Reaksi Riria adalah campuran dari insting pertahanan, jengkel, dan keengganan untuk mentolerir perilaku menjijikkan seperti itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Riria membentak, suaranya tajam dan penuh kemarahan. Ia tidak peduli jika murid lain mendengar atau melihatnya.
Mereka akhirnya tiba di ruang ganti, suara keributan di belakang mereka perlahan mereda. Begitu masuk, suasana kolam renang yang ramai langsung menyambut mereka. Bau kaporit yang kuat memenuhi udara, bercampur dengan suara gemericik air dan tawa riang. Murid-murid lain sudah sibuk berganti pakaian, beberapa sudah mulai membasahi diri di tepi kolam.
Riria dan Luira melangkah menuju loker mereka. Mereka berdua hanya berjarak beberapa langkah dari area loker ketika sebuah kejadian tak terduga terjadi. Dari salah satu bilik ruang ganti, seorang gadis melangkah keluar, rambut ungu gelapnya yang tergerai panjang langsung menarik perhatian Riria. Mereka berpapasan begitu saja, tak terhindarkan.
Itu adalah Aira.
Aira melangkah dengan tenang, mengenakan pakaian renang yang sederhana namun pas di tubuhnya, menonjolkan siluet rampingnya. Ia menoleh ke arah Riria dan Luira, dan sebuah senyuman tipis, yang terasa familiar namun tetap misterius, merekah di bibirnya.
"Halo, Luira-san, Riria-san," sapa Aira, suaranya tenang dan ramah, seolah mereka adalah teman lama yang kebetulan bertemu. Tidak ada jejak ketegangan dari pertemuan pagi itu.
Riria dan Luira sama-sama terdiam sejenak, terkejut dengan pertemuan kebetulan ini. Riria adalah yang pertama menemukan suaranya.
"Aira," panggilnya, sedikit kaget.
Aira tertawa ringan, sebuah tawa yang terdengar lembut namun memiliki nada tertentu yang membuat Riria sedikit merinding. "Kukira Luira-san masih tidur nyenyak di rumah," katanya, nadanya polos, namun mata emasnya berkilat nakal, menangkap ekspresi kaget di wajah Riria. "Sepertinya 'kurang enak badan' tidak berlangsung lama, ya?"
Riria tersentak, wajahnya memerah karena malu. Ia mengelak jawaban, mencoba mengubah topik. "Eh, itu... kami kan memang harus sekolah, Aira. Lagipula ini pelajaran olahraga." Suaranya terdengar canggung dan sedikit terbata-bata. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah berbohong.
Luira, di sisi lain, menatap Aira dengan tatapan yang lebih serius, matanya mencoba membaca sesuatu di balik senyum dan tawa ringan Aira. "Aira-san," Luira memulai, suaranya tenang namun ada bobot di setiap kata, "Siapa sebenarnya dirimu? Dan... bagaimana kau mengenal namaku, dan mengapa kau datang ke rumahku pagi ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi, langsung ke intinya, karena Luira tahu bahwa Aira bukanlah orang yang bisa diajak bertele-tele.
Riria mengangguk cepat, mendukung pertanyaan Luira. "Ya! Dan bagaimana kau tahu tentang... tentang tali biru itu? Dan semua hal lainnya?" Riria merasa penasaran sekaligus marah dengan pengetahuan Aira yang misterius dan mengganggu itu. Pertemuan pagi ini, ditambah insiden tendangan ke pengintip tadi, membuat otaknya berputar cepat, mencoba menghubungkan semua titik. Aira adalah sebuah anomali, sebuah masalah yang tidak bisa diabaikan.
Aira hanya tersenyum lebih lebar, seolah pertanyaan-pertanyaan itu adalah hiburan baginya. Mata emasnya menari-nari di antara Luira dan Riria, sebuah kilatan misteri yang tak terpecahkan. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menikmati momen kebingungan mereka, seolah ia adalah pemegang kunci dari semua jawaban yang mereka cari.