Chapter 11 — Kedatangan Aira
Aira hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang terasa seperti teka-teki tak terpecahkan, menggantung di udara seperti kabut pagi yang misterius. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Luira dan Riria, melainkan memainkan kata-kata, menikmati kebingungan yang tercetak jelas di wajah kedua gadis itu. "Bagaimana ya," gumamnya, nadanya melantun ringan, seolah ia sedang mempertimbangkan sebuah lelucon. "Apakah seru jika semua rahasia terungkap begitu saja? Mengapa kalian tidak mencoba mencari tahu sendiri?" Ia memiringkan kepala sedikit, mata emasnya berkilat nakal, menangkap setiap nuansa ekspresi mereka, seolah menantang mereka untuk menyelidiki lebih jauh, untuk memasuki labirin pengetahuannya.
Tanpa basa-basi lebih lanjut, seolah Aira telah memutuskan bahwa interaksi ini sudah cukup, ia mengakhiri percakapan itu dengan cara yang sama tiba-tibanya seperti kemunculannya. "Baiklah, aku harus segera pergi sekarang. Sampai jumpa." Dengan sebuah anggukan kecil yang ringkas namun penuh makna, ia berbalik, melangkah dengan tenang dan anggun menuju area kolam yang lebih dalam, bayangan rampingnya menghilang di balik kerumunan murid, meninggalkan Luira dan Riria terpaku di tempat, masih penuh pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban, seperti benang kusut yang tak bisa diurai.
Di sisi lain, Luira yang mendengar jawaban tarik ulur itu hanya terdiam lembut, matanya yang biru dalam memancarkan pemikiran yang kompleks. Ekspresi kebingungan yang samar melintas di wajahnya, namun ia menahan diri untuk tidak menuntut penjelasan lebih jauh, seolah ia memahami ada batasan yang tak boleh dilanggar. Ada aura kesabaran yang tak terbatas dalam dirinya, sebuah ketenangan yang tak tergoyahkan bahkan di tengah misteri. Sementara Riria, ekspresi wajahnya berubah merah padam, sedikit kesal dan frustrasi atas tingkah laku Aira yang terlalu menggoda dan meremehkan. Bibirnya mengerucut, ingin sekali membantah atau menuntut jawaban yang lebih jelas, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya. Ia merasa dipermainkan, dan itu memicu bara api kecil di dalam dirinya.
Melihat kegelisahan Riria yang memuncak, Luira dengan lembut menyentuh lengan Riria, memberikan sentuhan yang menenangkan. "Sudahlah, Riria-san," bisiknya, suaranya menenangkan seperti angin sepoi-sepoi di sore hari, membelai emosi Riria yang bergejolak. "Mari kita akhiri bahasan ini dulu. Kita harus segera ke kolam renang. Nanti ada waktu untuk membahas ini lebih jauh." Ada urgensi lembut dalam nadanya, sebuah isyarat bahwa ada waktu dan tempat untuk setiap perdebatan, dan sekarang bukanlah saatnya.
Riria hanya bisa diam menerima, desahan kecil keluar dari bibirnya, sebuah tanda menyerah yang enggan. Ia tahu Luira benar. Situasinya tidak memungkinkan mereka untuk berlarut-larut dalam kebingungan dan kekesalan. Pertanyaan-pertanyaan tentang Aira harus disimpan untuk nanti, disematkan di sudut benaknya, menunggu saat yang tepat untuk diungkap.
Akhirnya, mereka berdua melangkah keluar dari ruang ganti dan tiba di tepi kolam renang yang luas, sebuah pemandangan yang kontras dengan lorong sunyi yang baru saja mereka lewati. Suasana di sana sangat ramai, gemuruh tawa riang dan suara percikan air memenuhi udara, menciptakan simfoni riuh yang energik. Aroma kaporit yang pekat menyeruak, menusuk indra penciuman, bercampur dengan bau rumput basah dari lapangan di samping. Murid-murid lain sudah sibuk berganti pakaian, beberapa sudah mulai membasahi diri di tepi kolam, melakukan pemanasan ringan, tubuh mereka terlihat samar di balik uap air yang mengepul.
Saat mereka berdua melangkah maju, perhatian banyak murid laki-laki langsung tertuju pada mereka, seolah mereka adalah selebriti yang baru saja menginjakkan kaki di panggung yang megah. Tatapan kekaguman dan gairah terpancar jelas dari mata mereka, tak mampu menyembunyikan pesona yang dirasakan. Bisikan-bisikan mulai terdengar, seperti riak ombak yang kecil.
Terlebih lagi Luira. Dengan bentuk tubuhnya yang anggun dan proporsional, siluetnya yang ramping namun berisi, dadanya yang cukup besar, kulitnya yang mulus bagai pualam, dan pahanya yang jenjang serta mulus juga memikat mata. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang lembut dan imut, ia menjadi magnet bagi banyak murid laki-laki. Mereka bahkan tidak mencoba menyembunyikan kegembiraan mereka; bisikan kekaguman dan desahan samar terdengar di antara kerumunan, seperti serenade yang tak disadari. Ada aura kemurnian namun juga daya pikat tak terbantahkan yang terpancar dari Luira, sebuah kombinasi yang mematikan.
Sama halnya dengan Riria. Ia juga memiliki daya tarik tersendiri; sosoknya yang lebih atletis dan energik, rambut hitamnya yang bergelombang panjang, dan mata ekspresifnya yang tajam menarik perhatian. Mungkin yang membedakan adalah sifatnya Riria yang lebih aktif, ekspresif, dan memiliki aura berani yang menawan. Ia terlihat seperti bara api yang siap menyala, penuh gairah dan semangat, sementara Luira adalah air yang menenangkan, sejuk, dan memikat. Bahkan tidak hanya murid laki-laki yang terpesona. Beberapa murid perempuan lain pun demikian terpesona oleh kecantikan, keanggunan, dan kelembutan Luira, serta aura percaya diri Riria. Mereka saling berbisik, mengagumi postur dan pesona kedua gadis itu yang begitu menonjol di antara keramaian. "Aah...Luira-chan sangat mengagumkan!" bisik seorang gadis, suaranya penuh kekaguman. "Riria juga keren sekali!" timpal yang lain.
Namun, "kenikmatan" visual bagi murid laki-laki itu harus berakhir sampai di sini. Tiba-tiba, suara peluit yang nyaring memekakkan telinga memecah suasana, menghentikan semua bisikan dan tawa. PRIIIT! Seorang guru olahraga yang bertubuh kekar, dengan tatapan tegas dan aura militeristik, berjalan mendekat, langkahnya mantap dan penuh wibawa. "Perhatian!" perintahnya dengan suara lantang dan tanpa kompromi, menggaung di seluruh area kolam. "Tempat tes dipisahkan! Murid laki-laki ke area kanan, murid perempuan ke area kiri! Kita akan segera memulai tes renang!" Seketika, kerumunan mulai bubar, murid laki-laki dengan enggan berpindah ke sisi kanan kolam, mengakhiri momen mereka mengagumi Luira dan Riria. "Ah, membosankan sekali tempat tesnya dipisah," dengus seorang murid laki-laki, suaranya penuh kekecewaan, sebelum mereka akhirnya berpindah. Murid perempuan juga bergegas menuju sisi kiri, bersiap untuk giliran mereka, atmosfer yang semula santai berubah menjadi lebih serius dan terstruktur.
Di area tes renang perempuan, yang kini dipenuhi suara riuh dan percikan air yang konstan dari putaran-putaran renang sebelumnya, Riria dan Luira menunggu giliran mereka di pinggir kolam. Beberapa murid lain sudah melompat ke air, memulai putaran mereka, cipratan air membasahi pinggir kolam. Saat mereka menunggu, Aira muncul lagi, seolah materialisasi dari udara tipis, menyelinap di antara kerumunan murid tanpa suara yang berarti, menyapa mereka dengan senyum tipis yang tak terduga. Ia sudah selesai berganti pakaian dan tampak siap untuk berenang, rambut ungu gelapnya diikat rapi, menonjolkan fitur wajahnya yang tajam.
"Oh, kalian sudah sampai," sapa Aira, nadanya santai, seolah mereka bertemu di kantin sekolah. Tidak ada jejak keterkejutan di wajahnya, seolah ia sudah tahu mereka akan ada di sana.
Riria terkejut setengah mati. Sebuah jeritan kecil nyaris lolos dari bibirnya, menunjukkan betapa kaget dan kesalnya ia. "Aira?! Kenapa kamu ada di sini?!" tanyanya, suaranya sedikit melengking, menunjukkan kekesalan yang jelas. Ini terlalu kebetulan, terlalu sering Aira muncul di sekitar mereka, seperti bayangan yang tak bisa dihindari.
"Hai... aku adalah murid baru di kelas ini," Aira menjawab dengan nada santai, seolah hal itu adalah informasi paling biasa di dunia, sebuah fakta sederhana yang tak perlu dipertanyakan.
"Hah... murid baru di kelas ini?" Riria mengulangi, otaknya masih mencoba memproses bagaimana Aira bisa muncul di setiap aspek kehidupannya, seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun mereka pergi. Dunia mereka yang tenang kini terasa seperti magnet bagi hal-hal aneh.
Seorang guru di dekat mereka, yang sedang mencatat nama-nama, menoleh. Matanya memandang Aira dengan ramah, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Oh, itu murid baru, Aira," jelas guru itu, nadanya ramah dan sedikit bersemangat, seolah bangga dengan murid barunya. "Dia baru masuk ke kelas ini hari ini dan akan mengikuti praktik renang pada pelajaran pertama di hari pertamanya di akademi. Tolong ajak dia beradaptasi, ya." Guru itu kemudian berbalik ke arah Aira, memberikan isyarat. "Baiklah, perkenalkan dirimu, Aira."
Aira mengangguk sopan ke arah guru, lalu mengalihkan pandangannya ke arah murid-murid perempuan lainnya yang kini menatapnya dengan penasaran. "Hai... namaku Aira... aku murid baru di kelas ini. Salam kenal." Suaranya jelas, sedikit dingin, namun sopan, sebuah perkenalan yang singkat dan efektif, tanpa basa-basi berlebihan.
"Y-ya, salam kenal juga, Aira," beberapa murid perempuan lain memberikan senyuman manis dan sedikit canggung terhadap Aira, mencoba bersikap ramah kepada pendatang baru. Mereka terpukau oleh kecantikan dan aura Aira yang berbeda, sebuah daya tarik yang tak terbantahkan. Beberapa di antaranya berbisik, "Wah, dia cantik sekali," atau "Aura nya unik. Terlihat keren."
Di sisi lain—Aira mendekat, langkahnya tenang dan pasti, dan tatapannya langsung menuju Riria, mengabaikan murid-murid lain yang masih terpesona olehnya. Sebuah senyum tipis merekah di bibirnya, senyum yang menjanjikan sebuah rahasia.
Aira hanya tersenyum tipis, senyumnya kini tampak sedikit menggoda, sebuah ekspresi yang mungkin akan membuat siapa pun yang melihatnya merasa kesal atau terprovokasi. Ia menikmati reaksi Riria, seolah Riria adalah boneka yang bisa ia mainkan, sebuah hiburan di tengah hari yang biasa. "Jadi, Riria-san," ia memulai dengan nada bercanda yang penuh arti, nadanya mengusik, "Apakah kau penasaran mengapa aku tiba-tiba menjadi murid di sini?"
Riria mendengus, wajahnya memerah karena kesal. Pertanyaan Aira terasa seperti pukulan langsung ke saraf, memicu amarah kecil di dalam dirinya. "Tentu saja! Apa alasanmu repot-repot masuk ke akademi ini hanya untuk muncul begitu saja?!" Ia merasa dipermainkan, dan itu membuatnya geram, ingin sekali membalas ejekan itu.
Aira hanya tertawa kecil, suara tawanya seperti lonceng perak yang berderik, namun terdengar sedikit mengejek di telinga Riria. "Dan mengapa aku harus memberitahukanmu, Riria?" ia menjawab dengan nada yang membuat Riria semakin kesal. Mata Riria menyipit, bibirnya mengerucut, ia merasa dipermainkan. Ia membayangkan mencubit pipi Aira dengan gemas, atau setidaknya membalas ejekannya dengan cara yang sama menyebalkannya.
Melihat ekspresi Riria yang semakin memerah dan frustrasi, Aira menambahkan dengan nada bercanda, senyum tipis yang sedikit mengejek, "Hahaha... hanya bercanda. Jangan terlalu serius, Riria-san." Ia memberi sedikit jeda, menikmati efek yang ditimbulkannya, sebelum akhirnya mengalah sedikit, memberikan sedikit informasi yang telah ditunggu-tunggu. "Aku datang ke akademi ini... hanya untuk melihat Luira-san. Itu saja." Nada suaranya kini sedikit lebih serius, namun masih dengan sentuhan misteri yang khas dirinya, membuat pernyataan itu terasa ambigu.
Luira sedikit bingung dengan jawaban itu. Alisnya terangkat perlahan, dan bibirnya sedikit terbuka, membentuk ekspresi kebingungan yang imut dan lembut—sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan, mengingat ia selalu tenang dan terkendali dalam setiap situasi. "Untuk... melihatku?" tanyanya, suaranya dipenuhi rasa keheranan yang murni. Mengapa seseorang rela mendaftar ke akademi hanya untuk dirinya?
Riria memandang Aira, rasa penasaran dan skeptisnya bertarung di dalam dirinya, menciptakan badai emosi yang kompleks.
"Kenapa repot-repot masuk akademi ini hanya untuk Luira? Apa maksudmu?" Riria mendesak, ia butuh jawaban yang lebih substansial, sesuatu yang bisa ia pegang, bukan sekadar lelucon.
Aira menghela napas dramatis, seolah baru saja akan mengungkapkan rahasia besar yang telah ia simpan dengan susah payah, sebuah rahasia yang mungkin akan mengubah segalanya. Ia melirik Luira dengan tatapan yang dalam, seolah mengukur kedalaman jiwanya, lalu kembali menatap Riria dengan senyum misteriusnya.
"Sebenarnya," ia menjawab, nadanya tiba-tiba berubah sedikit lebih serius, mengisyaratkan sebuah pengungkapan yang signifikan, "Aku juga adalah subjek misi tentang ikatan peningkat kekuatan fisik. Aku juga memiliki makhluk berlumut itu." Ia menjeda, membiarkan informasi itu meresap, sebuah pengakuan yang mengejutkan bagi Riria, sebuah benang merah yang menghubungkan mereka bertiga. Lalu, ia menambahkan dengan nada mencibir yang khas, "Namun, yang tali dikeluarkan berwarna merah. Apakah jawaban itu cukup bagimu, Riria-san?" Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyum mengejek yang membuat Riria memerah dan sedikit kesal kembali, merasa semakin dipermainkan oleh pengetahuan Aira yang misterius dan kemiripan mereka yang mengejutkan. Ada rasa terprovokasi yang mendalam di benak Riria, seolah Aira sengaja menguji kesabarannya.
Namun Luira, reaksi Luira justru berbeda. Dia memberikan nada dan ekspresi yang imut, matanya membulat lucu karena keheranan murni, seolah ia baru saja mendengar sebuah dongeng yang menarik, yang entah bagaimana berhubungan dengan dirinya. "Aira-san, apakah kau betul-betul memiliki makhluk lumut?" tanyanya, suaranya dipenuhi rasa ingin tahu yang murni. Sebuah pertanyaan dari seseorang yang memahami aspek aneh ini, yang bisa merasakan kebenaran di balik perkataan Aira.
Aira memberikan jawaban atas pertanyaan Luira, senyum tipisnya berubah menjadi lebih menggoda, penuh tantangan. "Kenapa? Kau tidak percaya? Baiklah, apakah kau akan melihat dan mencobanya sendiri untuk membuktikannya, Luira-san?" Nadanya mengundang, seolah memancing Luira untuk melakukan hal dengan tujuan membuktikan kebenarannya.
Luira memberikan reaksi yang imut dan lembut. Ia sedikit mengibaskan tangannya, menggelengkan kepala, senyumnya menenangkan, menolak tawaran menggoda Aira dengan sopan namun tegas. "Tidak tidak, aku percaya kok, hehe," katanya. Suaranya lembut dan menenangkan, sebuah kepercayaan yang tulus terpancar dari matanya. "Lagipula, sebentar lagi kita harus tes. Ayo kita bersiap." Ia mengakhiri pembicaraan, memecah ketegangan yang mulai terbangun dan mengalihkan perhatian kembali ke tugas yang ada di tangan.