CHAPTER 12

2098 Kata
Chapter 12— Pertandingan renang Sedikit demi sedikit, murid-murid perempuan yang lain dipanggil dan sudah menyelesaikan tes renang mereka. Suara percikan air dan instruksi guru terus terdengar, memenuhi area kolam. Beberapa di antaranya ada yang gagal dan juga berhasil, menunjukkan berbagai tingkat kemampuan dan persiapan yang berbeda. Sampai pada akhirnya, tiba giliran Luira untuk dipanggil melakukan tes. Riria merasa sedikit lega, berharap ini akan menjadi akhir dari interaksi aneh mereka dengan Aira untuk sementara, setidaknya sampai pelajaran selesai, memberinya waktu untuk memproses semua informasi yang ia terima. Seperti sebuah kebetulan yang aneh—atau mungkin bukan kebetulan sama sekali, melainkan sebuah pengaturan takdir yang tak terhindarkan—ternyata Luira tes berbarengan dengan Aira dan Riria. Sebuah pengaturan yang terlalu pas untuk menjadi kebetulan belaka, seolah ada tangan tak terlihat yang mengatur semua ini, menarik mereka ke dalam skenario yang sama. Aira, Luira, dan Riria dipanggil untuk tes berenang dari pangkal kolam sampai ujung kolam di setiap tiga slot sudut yang tersedia: kiri, tengah, dan kanan. Sebuah pengaturan takdir yang aneh, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menarik mereka bertiga bersama ke dalam sebuah panggung yang sama, sebuah kompetisi yang akan mengungkap lebih banyak lagi. "Wah, ternyata kita tes berbarengan," Riria bergumam, sebuah ekspresi terkejut di wajahnya, pandangannya beralih dari Luira ke Aira, merasakan aura kompetitif yang mulai terbentuk. Luira menoleh ke Aira dan Riria, ekspresinya tenang dan siap, tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajahnya yang lembut. Ia sudah memposisikan dirinya dengan anggun di tepi kolam, tubuhnya ramping dan lentur. "Ayo kita siap-siap di tempat masing-masing," ajaknya, suaranya mantap, sebuah ajakan untuk fokus pada tugas yang ada di depan mata. Mereka berdua menjawab "ya, baiklah" dengan nada serius, aura kompetisi mulai terasa menguat di antara mereka, meskipun mereka berdua mencoba menyembunyikannya dari Luira dan guru di dekat mereka. Ada janji tak terucapkan di udara. Sementara Luira sudah siap di posisinya di slot tengah, memusatkan diri, napasnya teratur, Riria dan Aira masih berada sedikit di belakangnya, berdiri di tepi kolam, bersiap untuk melompat, namun tidak sepenuhnya fokus pada persiapan mereka. Ternyata, sebelum mereka benar-benar siap di posisi masing-masing, Aira memancing Riria lagi. Ia menoleh ke Riria, senyum mengejek terpampang jelas di bibirnya, mata emasnya berkilat nakal, sebuah kilatan menantang yang membuat Riria bersemangat sekaligus kesal. "Tunggu Riria," ia memulai, nadanya penuh provokasi, sebuah tantangan langsung yang tidak bisa dihindari, sebuah perkenalan yang tak biasa. "Untuk perkenalan, bagaimana kalau kita bertanding? Aku yakin aku lebih cepat darimu." "Ahh… apa maksudmu bertanding?" Riria menjawab, mencoba terdengar tidak peduli, tetapi jelas ada ketertarikan yang tak terbantahkan di suaranya. Ia tidak bisa menolak godaan semacam itu, terutama saat harga dirinya dipertaruhkan. "Hanya pertandingan kecil," Aira menjelaskan, senyumnya semakin lebar, menikmati reaksi Riria. "Pertandingan dalam tes renang siapa yang cepat sampai ke ujung kolam duluan." Ia mengatakannya seolah itu adalah hal yang paling normal di dunia, sebuah kompetisi ringan yang bisa mereka nikmati. Tentu saja Riria menerimanya. Sifat kompetitifnya langsung terusik, darahnya berdesir, memacu jantungnya. "Baik! Aku terima tantanganmu!" katanya dengan nada serius dan sedikit kesal, harga dirinya terusik. Ia tidak akan mundur dari tantangan sekecil apa pun, apalagi dari seseorang yang baru saja ia kenal namun sudah sangat mengganggunya. Namun sebelum itu, Aira menambahkan sebuah syarat yang membuat Riria sedikit cemas, sebuah kilatan kegembiraan muncul di mata Aira, menunjukkan niatnya yang tersembunyi. "Tapi yang kalah harus menuruti satu permintaan dari yang menang." Riria sedikit memerah dengan syarat itu. Permintaan? Apa maksud Aira dengan 'permintaan' itu? Pikiran Riria berpacu cepat, mencoba membayangkan skenario terburuk, kemungkinan-kemungkinan yang aneh dan memalukan. Aira dengan sengaja mencibir dengan senyum mengejek, melihat keraguan samar di wajah Riria, menikmati ketidaknyamanan Riria. "Kenapa? Apakah kau takut atas taruhannya, Riria?" Mendengar cibiran itu, Riria mengeraskan rahangnya, pipinya semakin memerah karena rasa malu dan marah yang bercampur aduk. Harga dirinya melonjak, dan ia tidak bisa membiarkan Aira melihat kelemahannya sedikit pun. "Siapa yang takut!? Aku tidak takut! Ayo lakukan!" ia menerima tantangan itu dengan nada serius dan sedikit marah, sebuah deklarasi perang kecil yang resmi. Ini bukan hanya tentang renang sekarang, ini tentang harga diri, tentang membuktikan siapa yang lebih baik, dan mungkin tentang memahami apa yang Aira inginkan dari ini semua, sebuah teka-teki yang harus ia pecahkan. Lalu mereka berdua akhirnya bersiap di posisi masing-masing. Aira di posisi kiri, mengambil ancang-ancang, fokusnya tajam, matanya memancarkan tekad. Riria di posisi kanan, fokus pada titik di seberang kolam, tekad terpancar di matanya, tubuhnya siap melesat. Serta Luira yang tenang di tengah, seolah menjadi penengah alami di antara dua kekuatan yang berlawanan, tanpa menyadari sepenuhnya taruhan yang baru saja dibuat di antara kedua gadis itu. Suasana di tepi kolam terasa tegang, penuh antisipasi, bukan hanya untuk tes renang, melainkan untuk hasil dari taruhan misterius itu, yang mungkin akan mengubah dinamika hubungan mereka selamanya. Tapi sebelum mulai, Luira, yang sensitif terhadap perubahan aura di sekitarnya, memberikan pertanyaan kepada mereka berdua, suaranya sedikit melunak karena kebingungan, seolah ia merasakan adanya ketegangan yang tersembunyi. "Hei... apa yang tadi kalian bicarakan..?" Ia melirik dari satu wajah ke wajah lain, mencoba memahami bisikan dan tatapan intens di antara mereka, merasakan adanya sesuatu yang tak terucapkan. Riria dengan nada serius dan Aira dengan ekspresi senyum tipis menjawab pertanyaan Luira, dengan nada yang seolah bersekongkol, mencoba menyembunyikan taruhan mereka, sebuah rahasia kecil di antara mereka. "Tidak ada apa-apa," jawab Riria datar, menghindari tatapan Luira, bibirnya mengerucut sedikit, masih sedikit kesal. "Bukan hal yang besar," Aira menambahkan dengan santai, senyumnya masih melekat, sebuah kilatan nakal di matanya, seolah ia sedang menikmati permainan. "Eh... begitu? Baiklah," Luira bereaksi atas jawaban mereka dengan ekspresi keheranan imut yang sama, tidak sepenuhnya yakin, namun memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia menerima jawaban itu, meskipun rasa penasarannya belum sepenuhnya terpuaskan. Guru tes perlahan mulai menghitung mundur, suaranya menggema di area kolam, menyuruh ketiganya untuk siap berada di posisi masing-masing. "Siap... Tiga... Dua... Satu..." Peluit berbunyi nyaring. PRIIIT! Tes renang itu dimulai. Air bergejolak hebat, cipratan air membasahi pinggir kolam, dan ketiga gadis itu melesat ke depan dengan kekuatan yang mengejutkan, masing-masing dengan tekadnya sendiri, memulai perlombaan yang lebih dari sekadar tes biasa. Ini adalah pertarungan harga diri, sebuah perkenalan yang intens, dan mungkin, awal dari sebuah babak baru yang lebih rumit dalam hidup mereka, yang terikat oleh janji tak terucap dan kekuatan yang baru saja mereka temukan. Suara melengking itu memecah ketegangan di tepi kolam, menjadi sinyal dimulainya perlombaan. Udara mendadak terasa lebih tipis, dipenuhi antisipasi. Luira, yang berada di slot tengah, sedikit bersiap, posisinya anggun dan imut di tepi kolam. Otot-otot kakinya sedikit menegang, bersiap untuk meluncur. Namun, sebelum tubuhnya sempat menjebur ke dalam air, matanya yang biru jernih menangkap gerakan di sisi kiri dan kanannya. Ia terkejut. Riria dan Aira, dengan semangat yang membara dan kecepatan yang tak terduga, sudah lebih dulu mencebur ke kolam, menciptakan percikan air yang tinggi, seolah tak ada jeda antara peluit dan gerakan mereka. Mereka melesat bagai anak panah, fokus sepenuhnya pada tujuan. Luira hanya bisa memulai dan berenang dengan tenang, gaya punggungnya yang efisien dan mulus membelah air, mengikuti ritme yang sudah ia kuasai, tanpa terburu-buru, namun tetap dengan kecepatan yang stabil. Ia tidak terbawa emosi atau semangat kompetitif yang membakar kedua temannya. Di sisi lain, pertandingan renang yang berjarak lima puluh meter itu berubah menjadi tontonan yang menarik perhatian semua orang di area kolam. Pertandingan antara Riria dan Aira sangat sengit. Setiap kayuhan tangan, setiap tendangan kaki, menunjukkan determinasi yang luar biasa. Murid-murid perempuan lain yang sudah selesai tes atau sedang menunggu giliran, berjejer di tepi kolam, bersorak atas pertandingan itu. Suara tepuk tangan dan teriakan dukungan memenuhi udara, menciptakan atmosfer layaknya sebuah kejuaraan. "Ayo, Riria!" "Aira, kau bisa!" teriak beberapa di antaranya. Cipratan air membasahi pinggir kolam setiap kali salah satu dari mereka melesat maju. Saat di pertengahan kolam, kecepatan mereka memang terlihat sama persis. Kepala Riria dan Aira sejajar, tubuh mereka membelah air dengan sinkronisitas yang menakjubkan. Setiap tarikan napas mereka dilakukan dengan ritme yang sempurna, menunjukkan stamina dan teknik yang luar biasa. Mereka berdua adalah perenang yang sangat baik, itu terlihat jelas. Namun, dengan semangat yang membara—semangat yang muncul dari rasa kesal terhadap Aira dan harga dirinya yang terusik—kecepatan berenang Riria tiba-tiba bertambah. Otot-ototnya menegang lebih keras, kayuhannya semakin kuat, dan setiap tendangan kakinya menghasilkan dorongan yang lebih besar. Matanya fokus tajam ke ujung kolam, seolah tak ada yang lain di dunia ini selain garis finish. Ia mulai menarik diri, menciptakan jarak tipis antara dirinya dan Aira. Hingga akhirnya, Riria lebih dulu sampai tiga perempat dari kolam renang itu, memimpin dengan selisih sekitar setengah panjang tubuh. Kemenangan sudah di depan mata. Ia bisa merasakan adrenalin memompa dalam nadinya, kepuasan samar mulai merekah. Namun, yang tak diduga oleh Riria, saat ia akan menang dan hanya tinggal beberapa kayuhan lagi untuk mencapai garis finish, Aira menggunakan cara licik yang sungguh tak terpikirkan. "LUIRA! LUIRA AKAN TENGGELAM!" teriak Aira dengan suara melengking, memotong suasana kompetisi yang intens, suaranya dipenuhi nada panik yang meyakinkan. Aira sengaja mengarahkan pandangannya ke arah Luira, seolah Luira benar-benar dalam bahaya, membuat perhatian Riria sontak teralihkan. Teriakan itu bagai sengatan listrik bagi Riria. Sontak itu membuat Riria panik, otaknya langsung memproses kemungkinan terburuk. Ia menghentikan renangnya secara tiba-tiba, tubuhnya kehilangan momentum dan tenggelam sesaat. Tanpa berpikir panjang, dia berbalik arah di tengah kolam, mengabaikan garis finish yang sudah di depan mata. Kepalanya muncul dari air, napasnya tersengal, dan dengan suara keras ia meneriakkan nama Luira, penuh kekhawatiran. "LUIRA! LUIRA, APA KAU BAIK-BAIK SAJA?!" Namun, yang terlihat oleh Riria adalah Luira yang baik-baik saja, bahkan sedang berenang dengan tenang dan anggun menuju garis finish di slot tengah, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan. Wajahnya tenang, seperti biasa. Luira menoleh ke arah Riria, ekspresi kebingungan samar terpancar di wajahnya. "Aku tidak apa-apa, Riria-san. Kenapa?" jawab Luira, suaranya terdengar lembut dan jelas, tanpa sedikit pun nada panik. Ia bahkan terlihat hampir mencapai garis akhir. Riria hanya bisa terdiam sesaat, membeku di dalam air. Wajahnya memucat, lalu berangsur-angsur memerah padam karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Dia terkecoh! Dia terkecoh oleh trik murahan Aira. Semua usaha dan keunggulannya sirna dalam sekejap karena kecerobohan dan kekhawatirannya. Kesempatan Riria yang terdiam tidak disia-siakan oleh Aira. Begitu melihat Riria berhenti, Aira melaju kencang dengan seluruh sisa tenaganya, meluncur seperti torpedo di dalam air. Kayuhannya menjadi lebih cepat, tendangannya lebih kuat, menutupi jarak yang ada. Dalam beberapa detik, ia berhasil mencapai ujung kolam duluan, menyentuh dinding dengan telapak tangannya. Akhirnya, ia menjadi pemenang. Setelah semuanya selesai dan para murid mulai naik dari kolam, Aira datang mendekati Riria, yang masih berdiri di tepi kolam, berusaha menenangkan napasnya yang terengah-engah dan menguasai emosinya. Sebuah senyum tipis, penuh kemenangan dan sedikit mengejek, terpampang di bibir Aira. Air menetes dari rambut ungu gelapnya, berkilauan di bawah cahaya matahari. "Sepertinya akulah yang menang, Riria," katanya, nadanya datar namun penuh kemenangan, mengulang kembali taruhan mereka. Mata emasnya berkilat nakal, menatap Riria yang masih dipenuhi amarah. Riria mendengus kesal, air mata samar-samar berkumpul di sudut matanya karena frustrasi. Ia merasa begitu bodoh karena terjebak dalam perangkap semudah itu. "Kau curang, Aira!" ia membantah, suaranya sedikit bergetar, mencoba menyalurkan kemarahannya. "Itu tidak adil! Kau berteriak seperti itu!" Namun, pembelaan Aira sangat hebat dan tak terbantahkan, diucapkan dengan nada tenang yang semakin membuat Riria jengkel. Ia mengangkat alisnya, seolah Riria adalah anak kecil yang tidak mengerti aturan permainan. "Curang? Tidak, Riria-san," Aira menjawab, senyumnya semakin tipis, "Itu adalah siasat. Dalam sebuah pertandingan, kau harus tetap fokus pada dirimu sendiri, pada tujuanmu. Lagipula, kau sendiri yang memilih untuk menghentikan renangmu dan malah fokus pada orang lain saat bertanding, bukan?" Suara Aira terdengar logis, meskipun dingin. "Kesalahanmu, Riria, adalah karena hatimu terlalu mudah terganggu oleh hal-hal di luar tujuanmu." Riria hanya bisa terdiam, bibirnya terkatup rapat, tak mampu membantah argumen Aira yang memang benar adanya. Wajahnya sedikit memerah, bukan hanya karena sisa kelelahan dari berenang, tetapi juga karena rasa malu dan amarah yang memuncak. Ia memang terlalu mudah terkecoh. Aira benar. Ia terperangkap oleh kekhawatiran akan Luira, dan Aira telah memanfaatkan kelemahannya itu dengan sempurna. Kepalanya tertunduk sedikit, mengakui kekalahan, bukan hanya dalam perlombaan, tetapi juga dalam permainan pikiran. Kemudian, Aira mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Riria, suaranya berubah menjadi bisikan rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, sebuah rahasia yang melayang di antara gemuruh tawa di kolam renang. "Setelah semuanya selesai, Riria," bisik Aira, napasnya terasa dingin di telinga Riria, "Datanglah ke belakang halaman sekolah. Aku menunggumu di sana." Bisikan itu disusul dengan senyum tipis Aira yang misterius, meninggalkan Riria dalam kebingungan dan antisipasi yang campur aduk. Apa lagi yang diinginkan Aira? Apa permintaan yang akan ia ajukan sebagai pemenang taruhan? Perasaan kesal dan penasaran bercampur aduk dalam diri Riria. Ia tidak punya pilihan selain menuruti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN