CHAPTER 19— Sebuah pertukaran Sore menyelimuti langit, membebaskan para siswa dari jerat rutinitas sekolah dengan nada bel pulang yang nyaring. Kelas-kelas yang tadinya riuh kini mulai lengang, para murid berhamburan keluar, merayakan sejenak kebebasan yang terasa begitu berharga. Di antara kekosongan yang mulai terasa, Aira bangkit dari bangkunya. Gerakannya selalu terpoles sempurna, anggun namun juga memancarkan ketenangan yang kadang terasa dingin. Ia membalikkan badan, sorot matanya yang keemasan menari di wajah Riria, sementara senyum tipis misterius terukir di bibirnya. "Jangan lupa membawa gadis berponi itu ke dekat ruang olahraga jika kau ingin informasi tentang Luira," bisiknya, suaranya rendah, nyaris seperti desiran angin, namun setiap kata itu menancap jelas di benak Riria.

