Riria telah pergi, langkah kakinya menjauh dengan cepat, menyisakan Aira dan Yumira di halaman sekolah yang perlahan sepi. Cahaya matahari sore merembes melalui celah pepohonan, menciptakan bayangan panjang di antara mereka berdua. Yumira menatap Aira, mata cokelatnya yang polos menunjukkan sedikit kebingungan namun tetap tenang. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya, nadanya datar dan tanpa emosi yang berlebihan, seolah ia benar-benar pasrah pada takdir. Aira tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak terbaca, sebelum tiba-tiba mengulurkan tangannya. Jemarinya yang ramping menyentuh lembut bahu Yumira, lalu naik ke rambut ungu ponytail pendeknya, membelai perlahan. "Rambutmu mirip sekali denganku," gumam Aira, mata emasnya berkilat aneh, seolah ia menemukan kembaran dalam diri Yum

