Malam itu terasa semakin berat, seolah udara di sekitar rumah Aira telah menjelma menjadi selimut tebal yang menekan setiap inci ruangan. Cahaya bulan yang samar kini nyaris lenyap, tertutup awan kelabu yang bergerak perlahan di langit, meninggalkan kilau kristal kebiruan di tangan Aira sebagai satu-satunya sumber cahaya yang mencolok di ruang tamu. Pepohonan di luar tetap berdiri seperti penutur bisu, dahan-dahannya bergoyang pelan, seolah berbisik tentang rahasia yang tak pernah terucap. Di dalam, suasana tegang menyelimuti setiap sudut. Bau samar tanah basah dan lumut seolah meresap dari dinding, menciptakan ilusi bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan sarang makhluk yang tak kasat mata. Luira berdiri di ambang ruang tamu, matanya terkunci pada kotak kayu kecil di tangan Air

