Namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak pada Arif. Koper itu di rampas kembali oleh Luna. "Kembalikan. Gue membutuhkan uang itu," Arif memohon. Meskipun ia mampu untuk bangkit tapi entah kenapa kedua kakinya seolah tertahan untuk tak bangkit. Luna terkekeh, merasa senang atas tindakannya kali ini. Benarkah ini Arif? Kemana sisi keberanian itu? BRAK. "Jangan ada yang bergerak!" seru pak Hendra menodongkan pistol ke arah Luna, rekannya yang lain mengepung anak buah Luna agar tak ada celah untuk kabur. Seketika Luna, Arif dan yang lainnya mengangkat tangan dan memilih menyerah. Sedangkan Luna terlalu kaget dengan kedatangan polisi berjumlah lumayan banyak yang memenuhi markasnya. Dan Arif, ia hanya bisa pasrah saja. Ternyata inilah akhir dari kehidupannya. Setelah keb

